Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, May 5, 2021

Katakan "Ya, Saya Bisa" dan Lihat Hasilnya


Hari ini saya mendapat pengalaman berharga yang ingin saya bagikan untuk sahabat Cikgu Tere.

Pengalaman ini saya peroleh melalui cerita dari seorang teman seperjalanan di Bandara Soekarno Hatta.
Beliau bernama Pak Mujiono. Beliau berasal dari Pacitan dan saat ini bekerja di bidang swasta di Kota Pekanbaru.

Ada hal menarik dari Pak Mujiono. Beliau mengajak seorang WNA untuk berkomunikasi. Walaupun dari segi kemampuannya, beliau mengatakan pada saya bahwa beliau kesulitan untuk berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Tapi, beliau tidak mempermasalahkan hambatan tersebut. Pak Mujiono terus saja berbicara kepada WNA tersebut. Dan point yang dibicarakan oleh Pak Mujiono adalah mengenai obyek wisata alam yang ada di daerahnya (Pacitan).

Beliau dengan bangganya menceritakan tentang keindahan obyek wisata alam di sana. Sehingga membuat WNA tersebut tertarik dan mengatakan bahwa suatu saat pasti WNA tersebut akan mengunjungi Pacitan.

Berkali - kali, Pak Mujiono menanyakan pada saya tentang vocabullary yang akan digunakannya. "Mbak, apa sih Bahasa Inggrisnya gua?" Tanya beliau pada saya. Lalu saya pun menjawabnya.

Pak Mujiono kemudian menjelaskan lagi bahwa keindahan alam di Pacitan sebenarnya lebih bagus dibandingkan dengan di Bali. Hanya yang lebih terkenal adalah Bali. Tapi beliau menjelaskannya pakai Bahasa Jawa.

Saya pun tersenyum. Lalu, saya menerjemahkannya. Pak Mujiono heran, kok saya bisa mengerti Bahasa Jawa juga ? Mungkin begitu pikirnya.

Lalu, Pak Mujiono bertanya pada saya. "Mbak, mau ke mana?". Saya jawab "Ke NTT, Pak." "Wah, sampeyan hebat. Bisa ngerti Bahasa Inggris,"katanya. Saya pun kembali tersenyum.

"Puji Tuhan, saya pernah mengikuti short course ke luar negeri, Pak. Saat itu tahun 2019 saya belajar di Malaysia." Saya pun menjelaskan pada beliau.

"Wah, hebat, Mbak," pujinya lagi.
"Terima kasih, Pak. Ya, doakan saja karena saat ini saya juga sedang belajar untuk program beasiswa dari Australia." Ungkap saya.

Pak Mujiono mengangguk - anggukan kepala sambil tersenyum. Saya pun gantian memuji beliau. "Bapak, saya kagum sama Bapak  karena Bapak sangat percaya diri ketika berkomunikasi dengan orang asing (bule)."

Hal ini secara jujur saya ungkapkan kepada beliau. Karena inilah yang sering saya rasakan. Saya kurang percaya diri ketika harus berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris kepada native speaker (orang bule).

Saya pun berulang kali menarik nafas dalam - dalam dan mencoba menantang diri saya untuk berkomunikasi dengan bule tersebut. Lalu, saya pun mendapat momen yang tepat, ketika bule tersebut menghampiri Pak Mujiono.

"Have you ever been to Nihiwatu?" Tanya saya pada bule itu. "Nihiwatu, what is that?" katanya.
"Ohh, Nihiwatu is one of the best resort. It is located at Sumba Island which is at East Nusa Tenggara Province." Saya pun mencoba menjelaskan.

"I suggest you to go there, because many foreigner around the world have came there." Saya pun menambahkan informasi.

"This is the first time for me to go to Indonesia. I come to Bali for work. Besides, I need to find something for my work. But, thanks. I will go there," jawabnya.

Saya pun merasa senang karena akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan bule tersebut. Pak Mujiono tampak memerhatikan kami ketika bercakap - cakap.

"Mbak, saya tuh zaman SMP belajar Bahasa Inggris. Habis itu nggak dipraktekkan lagi," jelasnya. "Tapi saya salut sama Bapak. Bapak punya rasa percaya diri yang tinggi." Saya kembali memujinya.

Namun, percakapan kami harus terhenti karena beliau harus berganti tempat tunggu pesawat ke gate yang lain. Pak Mujiono pun berpamitan kepada kami. Setelah itu, saya pun lantas bersiap. Karena tiba giliran kami untuk boarding.

Sekarang, saat menulis ini, saya sedang berada di dalam pesawat. Saya bergegas membuka aplikasi andalan saya yaitu Color Note dan mulai flash black pengalaman beberapa saat yang lalu bersama Pak Mujiono dan bule tersebut (saya tidak menanyakan namanya).


Saya merasa bahwa pengalaman ini layak untuk dibagikan kepada para sahabat Cikgu Tere. Tujuannya agar dapat menginspirasi dan memotivasi kita semua, terutama para guru, sahabat Cikgu Tere yang mengalami hambatan dalam perjuangan mencapai kesuksesannya.

Sebagai guru, berkali - kali saya mengikuti kegiatan internasional yang mempersyaratkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Salah satunya sudah saya ceritakan di buku ke 3 saya yang berjudul "Bukan Guru Biasa".

Ketika saya mengimbaskan hasil kegiatan ini, teman - teman saya mengatakan mereka kesulitan belajar Bahasa Inggris. Dan tiba - tiba, saya pun teringat dengan anak saya di rumah.

Di umurnya sekarang yaitu 4 tahun, anak saya punya kebiasaan menonton TV. Tayangan kesukaannya adalah "Blaze and Monster Machine". Film anak - anak ini ditayangkan oleh saluran Kids TV (TV Berbayar).

Sebagai saluran TV asing, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Jadi, secara tidak langsung, anak saya pun belajar Bahasa Inggris. Di samping itu, dia juga senang menonton youtube dan melihat video berbahasa Inggris.

Akhirnya anak saya pun mencoba mengajak kami, orang tuanya untuk berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Saya merasa sangat terkesan dengan keterampilannya itu. Dia bahkan mengenal berbagai macam vocabullary yang biasanya baru diperkenalkan bagi anak - anak SD atau bahkan SMP.

Kerap kali dia bertanya pada saya tentang vocabullary dalam Bahasa Inggris. Terutama ketika dia menemukan hal baru yang belum diketahuinya. Terkadang, malah saya juga tidak bisa menjawabnya. Lalu, saya pun mengarahkannya untuk menggunakan fitur Google Voice" untuk menjawab keingin tahuannya tersebut.

"Apa Bahasa Inggrisnya buah salak?" tanyanya. Hal ini dia tanyakan ketika dia melihat buah salak yang dibawakan oleh adik dari adik ipar kami.

Setelah dia mengetahui cara bertanya pada "Google Voice", dia pun sering meminta izin untuk memakai HP saya. Saya pun tertawa melihat kelucuannya itu. Karena kadang - kadang, bicaranya berulang - ulang dan terlihat sedikit kesal ketika pertanyaannya tidak dikenali oleh google.

Baik Pak Mujiono maupun anak saya sendiri, adalah contoh baik bagi kita untuk berani dan percaya diri dalam menghadapi tantangan dan hambatan, terutama saat berkomunikasi dengan bahasa asing. Banyak keuntungan ketika kita bisa berkomunikasi dengan Bahasa Asing. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya.

Tinggal katakan saja, "Ya, saya bisa." Dan semua jalan menuju kesuksesan akan terbuka. Ibarat pepatah "There is a will, there is a way."

Semoga sharing pengalaman ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Written from 30.000 metres above sea level at ID 6061 Jakarta - Denpasar.


Sunday, May 2, 2021

Bangun Lebih Pagi, Sebuah "Self Drive" Menuju Kesuksesan

Sejak kecil orang tua saya berpesan agar saya membiasakan diri dengan bangun pagi. Alasannya biar rezekinya tidak keburu dipatuk ayam. Karena kalau hidup di kampung, para ayam yang biasanya berkokok saat pagi seolah membangunkan semua makhluk yang tertidur dengan lelap. 

Pesan ini selalu saya ingat, bahkan sampai sekarang. Saya juga berusaha mendidik anak saya dengan hal yang sama. Karena saya ingin anak saya juga mempunyai kebiasaan yang sama. 

Secara sederhana, memang banyak keuntungan jika kita memiliki kebiasaan ini. Badan terasa lebih segar dan bugar serta kita dapat melakukan banyak hal tanpa terburu - buru. 

Namun, apakah saya selalu dapat melakukan hal ini ? Jawabannya tentu saja tidak. Apalagi jika hari libur. Tubuh ini sepertinya terformat untuk sedikit bermalas - malasan. Alih - alih bangun lebih pagi, meskipun alarm sudah berbunyi, saya malah kembali menyelimuti tubuh dan bangun untuk sekedar mematikan alarm. 

Saya rasa ini adalah hal yang manusiasi, sebab tubuh kita juga tidak selalu berada dalam kondisi prima. Aktivitas melelahkan di hari sebelumnya "memaksa" tubuh untuk membayarnya dengan istirahat ekstra. 

Tapi, kembali lagi pada topik sebelumnya. Bahwa membangun kebiasaan bangun lebih pagi sangat menguntungkan. Saya dan teman saya sudah membuktikannya. 

Hari ini, saya dan teman melakukan perjalanan ke Jakarta. Sebelumnya, kami berangkat dari Bandara Tambolaka menuju Bali dan menginap satu malam di Bali (transit).

Penerbangan ke Bali berjalan dengan lancar sesuai jadwal. Kami pun dapat beristirahat beberapa jam dengan menginap di salah satu hotel di dekat bandara. 

Pukul 04.00 Wita saya terbangun dan sadar bahwa hari ini harus berada di bandara Bali pada Pkl. 07.00 karena waktu boarding Pkl. 09.30 Wita. Saya memperkirakan waktu tersebut berdasar pengalaman saat check in dalam penerbangan sebelumnya dari Bandara Bali. 

Dengan adanya kondisi perlakuan khusus bagi para pelaku perjalanan, maka pihak bandara akan melakukan proses validasi hasil rapid antigen sebelum penumpang dapat melakukan check in di counter check in seperti biasanya. Hal ini tentu saja memakan waktu apalagi jika dalam saat bersamaan banyak penumpang lain yang akan melakukan proses validasi dan check in

Pkl. 06.00 Wita saya mandi dan sempat makan kue untuk mengisi perut. Setelah itu Pkl. 07.00 kami pun menuju bandara. Sebuah insiden kecil pun terjadi. Ternyata teman saya mengalami kendala teknis di hasil rapid test. Akibatnya dia harus menjalani pemeriksaan rapid test ulang di bandara. 

Saya pun menyelesaikan proses check in di counter self check in dengan bantuan petugas sambil menunggu teman saya melakukan rapid test ulang. 

Cukup lama saya menunggunya. Saya pun melihat jam sudah menunjukkan Pukul 08.00 Wita. Harusnya saya sudah duduk manis di Gate 2. Namun, saya putuskan menunggu teman saya dan bersama - sama menuju pintu keberangkatan. 

Pukul 08.15 Wita, teman saya terlihat memasuki counter check in. Saya pun merasa lega. Kami masih punya cukup waktu untuk berjalan menuju pintu keberangkatan pesawat di Gate 2. Bahkan saat ini saya pun masih sempat menulis cerita ini sambil beristirahat di Gate 2 dan menunggu waktu boarding

Tidak terbayang, jika tadi saya bangun terlambat, pasti tidak sempat makan dan bahkan terlambat untuk check in. Atau bisa juga tertinggal penerbangannya. 

Teman saya pun berterima kasih karena saya mengajaknya untuk check in lebih awal di bandara sehingga insiden yang dialaminya tidak menjadi lebih buruk dampaknya. 

Apakah sahabat Cikgu Tere juga pernah mengalami insiden serupa ? Nyaris gagal karena salah mengatur waktu atau bahkan pernah mengalami suatu kejadian tidak menyenangkan hanya karena terlambat bangun ? 

Jika sahabat pernah mengalaminya, saya yakin sahabat pasti tidak ingin mengulanginya lagi. Oleh karena itu, sesuai judul artikel ini, saya rasa kita bisa menyepakati bahwa kebiasaan sederhana seperti bangun lebih pagi akan membawa kita menuju kesuksesan. 

Lantas bagaimana hal ini dihubungkan dengan peran kita sebagai guru? Seorang guru tentunya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. 

Persiapan di sini bukan hanya dipandang dari segi administrasi berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dll. Melainkan lebih kepada menyiapkan berbagai soft skill yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran. 

Tanggung jawab utama keberhasilan pendidikan memang ada pada pundak siswa. Namun, guru perlu menyadari bahwa sebagai seorang pendidik, guru harus menuntun siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya agar mencapai tujuan yang diharapkannya. 

"Bangun lebih pagi" bagi seorang guru bukan hanya tentang mengatur waktu yang sesungguhnya. Namun, lebih kepada perubahan pola pikir dan perilaku guru itu sendiri. Upaya jemput bola sebagai sebuah solusi untuk perubahan paradigma pendidikan perlu dilakukan oleh guru. 

Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan tekad dan semangat dari guru itu sendiri. Sehingga pada saat berada di tengah kondisi yang tidak mendukung, guru diharapkan sudah siap untuk mengatasinya dan mencapai kesuksesan. 

Contoh sederhana adalah ketika gaung Guru Pembelajar mulai terdengar, banyak guru yang termotivasi untuk mengikuti berbagai kegiatannya. Namun, ada juga guru yang masih enggan keluar dari zona nyamannya. 

Penggunaan tool - tool pembelajaran yang interaktif serta pemanfaatan TIK dalam melakukan inovasi di bidang pendidikan sudah terlebih dahulu dibahas dalam berbagai kegiatan pelatihan guru yang diselenggarakan oleh berbagai pihak. 

Saya sendiri secara rutin mengisi waktu istirahat di rumah untuk mengikuti berbagai kegiatan online, bahkan jauh sebelum pandemi menyerang bumi pertiwi. 

Hal inilah yang diharapkan dari seorang guru. Mental yang tangguh, berani mencoba hal baru dan menaklukan tantangan dengan terus belajar, belajar, dan belajar. 

Inilah sikap dan penghayatan untuk  "bangun lebih pagi" bagi seorang guru. Sehingga di saat sekarang, di mana pembelajaran dilakukan dengan pola PJJ, guru yang "bangun lebih pagi" sudah siap untuk mengelolanya dengan lebih baik. 

Jadi, pesan Cikgu Tere bagi para sahabat adalah mari manfaatkan waktu seefektif mungkin. Bangunlah kebiasaan - kebiasaan kecil dan sederhana namun berdampak luar biasa terhadap perjuangan kita menuju kesuksesan. 

Salam perubahan, bergerak dan terus belajar. 





Saturday, May 1, 2021

Memaknai Hari Pendidikan Nasional 2021

Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2021, Mas Menteri menegaskan tentang pentingnya semangat berkolaborasi yang dilandasi prinsip silih asah, silih asih, silih asuh. 

Pesan ini dikemukakan sebagai bentuk pemaknaan terhadap upaya dan kerja keras Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam mewujudkan Merdeka Belajar di bumi pertiwi sebagai bentuk transformasi pendidikan. 

Merdeka belajar hendaknya dimaknai oleh setiap guru, orang tua, dan siswa dengan tepat sehingga dalam hal ini dibutuhkan suatu kesadaran untuk bergotong royong dalam rangka memberikan ruang belajar seluas - luasnya bagi para siswa. Agar mereka dapat menggali setiap potensi yang dimilikinya serta mengembangkan bakat, minat, dan berbagai jenis keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi aneka tantangan dalam kehidupan sehari - hari di abad 21. 

Siswa perlu diberikan stimulus dalam belajar dengan cara - cara yang beragam sesuai karakteristik mereka masing - masing. Karena sesungguhnya peran guru adalah ibarat petani yang menyemai benih. Siswa harus bahagia dalam proses pembelajarannya dan menyadari bahwa belajar adalah suatu bentuk kebutuhan individu. 

Di tengah suasana pandemi, ungkapan "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah" menjadi sebuah pengikat makna tentang perubahan pola pikir dan perilaku tri pusat pendidikan itu sendiri. 

Guru harus senantiasa belajar untuk mengupgrade profesionalitasnya, khususnya melalui adaptasi dan aplikasi TIK dalam pembelajaran di abad 21. Orang tua juga diharapkan mampu mendampingi siswa saat belajar di rumah, di samping berkewajiban pula memberikan berbagai akses terkait kebutuhan siswa. 

Sementara siswa sendiri sebagai subyek pembelajaran berkewajiban untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar di sekitarnya. Untuk meningkatkan keterampilan abad 21 seperti : berpikir kritis, berkolaborasi, kreatif, dan berkomunikasi. Selain itu, siswa juga perlu memiliki keterampilan di bidang literasi dan numerasi, HOTS, keterampilan terkait problem solving dan penguatan pendidikan karakter. 

Peran masyarakat pun tidak lepas dari upaya transformasi pendidikan. Karena masyarakat merupakan lingkungan belajar bagi siswa. Di mana di dalamnya tersedia berbagai daya dukung pembelajaran. Khususnya lingkungan alam, sosial, dan budaya. 

Jika kita berkaca pada peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2020, ada sebuah pertanyaan yang dapat kita refleksikan, yaitu: Apa yang sudah kita pelajari dari covid 19 ? 

Sedangkan pada momen Hardiknas 2021 ini, kita diharapkan untuk bangkit dari nuansa ketidakberdayaan akibat covid 19. Dan usaha ini membutuhkan kerelaan dari kita masing - masing untuk berkolaborasi dengan orang lain. 

Mas Menteri menyampaikan bahwa kolaborasi yang dimaksud adalah untuk saling memintarkan dan menghargai. Oleh karena itu, hendaknya guru pun menyingkirkan istilah "superior" dalam interaksinya bersama pihak lain. 

Dalam pembelajaran, hendaknya tidak menggunakan istilah senior dan junior. Atasan dan bawahan. Hindari kata - kata intimidasi yang dapat mengkerdilkan setiap bakat, minat, dan potensi yang siswa miliki. Sebaliknya junjung tinggi apresiasi dan berikan ruang seluas - luasnya bagi siswa untuk menikmati kemerdekaannya dalam belajar. 

Akhirnya, saya ingin mengutip kalimat sakti yang menjadi moto dari Komunitas Belajar Guru Penggerak (KBGP) yaitu: belajar, bergerak, berbagi untuk negeri. 

Semoga kita terus mengobarkan nyala api perjuangan kita secara serentak agar merdeka belajar bukan hanya menjadi cita - cita milik generasi bangsa. Namun terwujud dalam bentuk pembelajaran yang ideal bagi generasi milenial yang gemilang. 

Selamat Hari Pendidikan Nasional.