Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, February 28, 2021

Menulis Buku dari Resume Webinar, Why Not ?

 

Salah satu impian masa kecil saya adalah menulis buku. Dan impian ini baru bisa saya wujudkan pada tahun 2020 yang lalu. Tiga buku solo saya telah terbit. Salah satu di antaranya bahkan diterbitkan oleh Penerbit Andi yang merupakan penerbit mayor terkemuka di Indonesia.

Ketiga judul buku yang saya tulis adalah : Ilmuwan Cilik dan Roket Impian yang diterbitkan oleh Penerbit Eduvation, Bukan Guru Biasa yang diterbitkan oleh Penerbit Kun Fayakun, dan Buku ketiga saya berjudul Belajar Semudah Klik, Membangun Ekosistem Ubiquitous Learning Dalam Konsep Merdeka Belajar yang diterbitkan oleh Penerbit Andi, Yogyakarta.

Proses penulisan ketiga buku tersebut berbeda - beda. Ada buku yang terbit karena mengikuti sayembara penulisan buku, dan ada juga yang terbit karena keinginan saya sendiri dalam menulis buku.

Menulis Resume Sebagai Dasar Membuat Buku

Saat ini saya sendiri sedang menggarap beberapa draft buku yang rencananya akan segera diterbitkan di tahun ini. Salah satu di antaranya adalah buku yang ditulis berdasarkan kumpulan resume webinar.

Selama tahun 2020 hingga saat ini, sudah sangat banyak kegiatan webinar yang saya ikuti. Baik yang diselenggarakan oleh Kemdikbud maupun oleh pihak lainnya.

Materi - materi webinar yang disajikan sangat menarik dan bermanfaat bagi guru, sehingga saya seringkali menuliskannya dalam bentuk resume.

Tujuannya adalah agar sewaktu - waktu saya dapat membacanya kembali serta menggali informasi - informasi penting yang saya tulis dalam resume webinar tersebut.

Biasanya saya menulis resume di laman blog saya https://www.cikgutere.com, seperti resume belajar menulis bersama Om Jay dkk yang jumlahnya mencapai puluhan resume.

Selain bermanfaat bagi saya pribadi, ketika resume itu saya tulis di blog dan saya bagikan pada orang lain, maka orang lain pun akan mendapatkan manfaatnya. Pun demikian jika dibagikan melalui laman media sosial.

Teknik Menulis Buku dari Kumpulan Resume

Menulis resume memang mudah - mudah sulit, apalagi jika tidak terbiasa. Namun, jika sudah mengetahui tekniknya, maka resume pun dapat dijadikan menjadi naskah buku yang bermutu.

Berikut adalah teknik menulis buku dari kumpulan resume webinar :

  1. Kumpulkan sekitar 20 - 30 resume yang sudah ada (sebanyak - banyaknya). Dengan asumsi satu buah resume terdiri dari minimal 300 kata, maka jika ada 20 resume = 6.000 kata (sekitar 40 halaman A5). Syarat penerbitan memang berbeda - beda. Apalagi jika kita memilih menerbitkan di penerbit indie, maka kita dapat menerbitkan buku dengan jumlah halaman di bawah 100 halaman. Sedangkan untuk di YPTD sendiri, harus minimal 100 halaman A5. Sehingga kita harus menyesuaikannya.
  2. Kelompokkan resume - resume tersebut sesuai dengan topik / materi pokoknya. Lalu susun menurut alurnya. Sehingga dapat menyerupai kerangka daftar isi buku. Jika ada kesulitan mengelompokkan sesuai topiknya, maka kita cukup mengambil satu topik besar sekaligus judul buku, dengan menyertakan sub judul kumpulan resume.
  3. Edit materi resume dengan satu gaya penulisan. Adakalanya kita menulis dengan gaya bahasa formal dan bisa juga memakai gaya bercerita yang cenderung santai. Penggunaan jenis gaya bahasa yang seragam dalam sebuah buku akan menjadikan buku menjadi padu dan utuh. Pembaca juga tidak akan kehilangan fokus dalam membaca keseluruhan isi buku yang merupakan kumpulan resume.
  4. Lakukan swasunting terkait penulisan berdasarkan kaidah PUEBI.
  5. Lengkapi dengan daftar pustaka, indeks, dan glosarium
  6. Tambahkan kata pengantar, biodata penulis, dan sinopsis buku, jika perlu sertakan testimoni.

Perbedaan Dalam Teknik Menulis Buku

Beberapa teknik menulis buku dari kumpulan resume webinar di atas, memang sama dengan teknik menulis buku pada umumnya, namun hal utama yang membedakannya adalah dari nomor 2.

Jika kita menulis buku dengan cara biasa , kita beranjak dari Table of Content (TOC) yang memuat outline buku kita dalam beberapa bab, sebelum bahan buku dituliskan, sedangkan jika kita menulis buku dari resume, maka TOC  akan dilakukan setelah bahan tersebut (resume) dituliskan.

Nah, bagaimana, mudah bukan cara membuatnya ?

Semoga kita tetap semangat berkarya di masa pandemi ini.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 28)

Nama : Theresia Sri Rahayu

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

        

 

Saturday, February 27, 2021

Menulis Resume dari Kegiatan Webinar

 

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengenai Cara Memaksimalkan Peran Sebagai Peserta Webinar. Salah satunya adalah dengan menulis resume dari kegiatan webinar yang kita ikuti.

Apa itu Resume ?

Resume adalah sebuah ringkasan atau rangkuman dari sebuah tulisan/karangan panjang yang dipersingkat dengan mengambil bagian pokok dan juga menyisihkan rincian serta ilustrasinya.

Dalam konteks membuat resume dari kegiatan webinar berarti ringkasan atau rangkuman yang dimaksud adalah berdasarkan materi presentasi yang dibawakan oleh narasumber kegiatan.

Menulis resume dari webinar tentunya mempunyai perbedaan dibandingkan dengan menulis resume dari buku karena tingkat tantangannya berbeda.

Jika kita menulis resume dari webinar maka sepanjang proses webinar kita akan memaksimalkan seluruh fungsi alat indera kita untuk mendapatkan pandangan yang utuh dan menyeluruh terkait materi.

Kita bisa melakukan tangkap layar (screen shoot) slide presentasi dan membuat catatan - catatan kecil untuk memulai menulis resume. Sambil menunggu panitia membagikan link download materi.  Hal ini bertujuan untuk menjadi dasar /kerangka tulisan kita.

Manfaat Menulis Resume

Berikut ini adalah beberapa manfaat menulis resume :

  • Melatih kemampuan seseorang untuk menemukan informasi penting
  • Membantu orang lain untuk memahami materi
  • Mengembangkan hobi menulis
  • Meningkatkan fungsi alat indera (terutama mata dan telinga untuk kegiatan menyimak materi webinar)

Kriteria Resume yang Baik

Sebuah resume yang baik harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Original, merupakan karya sendiri dan tidak menjiplak karya orang lain
  2. Singkat, resume merupakan singkatan materi yang disampaikan.
  3. Lengkap, walaupun disajikan secara singkat namun ide pokok dari webinar harus bisa terakomodir.
  4. Memiliki alur yang menarik
  5. Ditulis dengan menerapkan pedoman penulisan yang terdapat pada PUEBI.

Cara Menulis Resume

Cara menulis resume dari kegiatan webinar adalah sebagai berikut:

  1. Mengikuti kegiatan webinar dari awal sampai selesai untuk mendapatkan gambaran mengenai topik materi yang disampaikan
  2. Menentukan ide pokok dari materi webinar, dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan 5 W + 1 H.
  3. Mengembangkan ide pokok menjadi sebuah resume
  4. Menambahkan kata - kata sendiri apabila diperlukan untuk melengkapi resume

Contoh Resume dari Webinar

 
"Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan"             
Orang Rimba
 
 
Merdeka Belajar merupakan sebuah gagasan di mana guru sebagai pemimpin pembelajaran, membawa peserta didik ke dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih bermakna bagi kehidupan mereka. 
 
Untuk dapat mencapai kemerdekaan belajar, seorang guru terlebih dahulu harus belajar bagaimana cara menjadi guru yang seharusnya. Inilah yang akan saya bagikan pada artikel kali ini tentang panduan menjadi guru merdeka belajar di tengah pandemi. Artikel ini disarikan dari Kegiatan Kuliah Umum Pembatik Level 4 bersama narasumber Kak Butet Manurung dengan moderator Ibu Restyn Yusuf sebagai Duta Rumah Belajar Papua . 
 

Belajar Dalam Mengajar, Versi Kak Butet Manurung 

Kak Butet pertama kali masuk ke Rimba Bukit Duabelas Jambi pada tahun 1999 sebagai seorang antropolog yang meneliti masyarakat adat orang rimba yang merupakan peburu peramu, Kak Butet ingin menggali model pendidikan seperti apa yang mereka (Orang Rimba) butuhkan. Dalam perjalanannya, Kak Butet menemukan beberapa hal menarik terkait paradigma pendidikan, yaitu : 
 
Cara pandang / perspektif : Pintar dan bodoh itu tergantung siapa yang bicara dan di mana kita berada. Contoh pengalaman saat Kak Butet dikejar beruang dan tak bisa naik pohon karena pakaian dan sepatunya tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Maka anak Rimba mengatakannya bodoh karena sudah tinggal bertahun - tahun di hutan, tapi belum bisa panjat pohon. 
 
Ada sekolah kontekstual di Rimba. Anak - anak dari kecil sudah belajar tentang hal yang kontekstual. Contoh : anak belajar menangkap hewan kecil dengan ketapel atau jerat. Di sekolah ini ada 3 metode belajar : observasi, bermain, dan eskplorasi. Sistem pendidikan lokal tidak mengenak kelas seperti di sekolah formal, tetapi mengenal tingkatan. Tingkatan 1 : berburu hewan kecil seperti tikus, tingkatan 2 : berburu ular, tingkatan 3 : mengambil madu di pohon yang tingginya mencapai 100 meter. Hal tersebut, menurut Kak Butet sudah konstektual karena apa yang mereka pelajari sudah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari - hari. 
 

Contoh resume selengkapnya bisa klik DI SINI 

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 27)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

                 

Friday, February 26, 2021

Cara Memaksimalkan Peran Sebagai Peserta Webinar

 

Sejak masa pandemi covid 19 hingga saat ini, saya berulang kali mengikuti kegiatan webinar. Baik yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun oleh instansi dinas bahkan komunitas praktisi.

Walaupun peran saya lebih banyak sebagai peserta kegiatan, namun saya merasa senang karena banyak sekali manfaat yang saya dapatkan.

Manfaat Mengikuti Webinar

Berikut ini adalah beberapa manfaat mengikuti webinar:

  1. Terbiasa dengan berbagai aplikasi virtual conference (webex, zoom, dan google meet)
  2. Mengenal berbagai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran (sway, google for education, slido, padlet, google classroom, mentimeter, dll)
  3. Mendapatkan ilmu baru terkait topik / materi dari narasumber (Asesmen Nasional, Kurikulum Darurat, dll)
  4. Berinteraksi dengan para pakar / narasumber yang kredibel
  5. Berinteraksi dengan sesama peserta yang berasal dari berbagai jenjang sekolah dan berasal dari daerah yang berbeda
  6. Mendapatkan sertifikat (beberapa bisa diajukan untuk mendapatkan angka kredit saat naik pangkat ASN)
  7. Mendapatkan pengalaman baru yang dapat dibagikan lagi kepada rekan guru (diseminasi)
  8. Menambah daftar jejak digital (riwayat diklat/pelatihan)
  9. Berkesempatan menjadi host, moderator, dan narasumber pada kegiatan serupa dengan adanya bekal ilmu dan keterampilan yang diperoleh

 

Kondisi Peserta yang Tidak Maksimal

Dengan banyaknya manfaat yang diperoleh setelah mengikuti webinar, maka seharusnya setiap peserta webinar dapat memaksimalkan peran mereka.

Tujuannya untuk mendapatkan semua manfaat tersebut atau bahkan manfaat lainnya yang belum dituliskan.

Namun sayangnya, saya sering mengamati ada beberapa peserta yang kurang maksimal dalam mengikuti kegiatan webinar.

Berikut ini adalah kondisi peserta yang tidak maksimal:

  • Sering keluar masuk zoom (biasanya karena gangguan sinyal)
  • Mematikan kamera / video saat webinar (biasanya karena ada kesibukan lain, malas mengikuti webinar, selain juga karena murni oleh gangguan sinyal sehingga penjelasan putus – putus)
  • 4 D (Datang, Duduk, Diam, Dengar). Tidak berinteraksi dengan narasumber, tidak merespon apapun yang disampaikan narasumber
  • Keluar dari webinar Ketika webinar masih berlangsung
  • Sering menanyakan link absensi untuk mendapatkan sertifikat. Biasanya peserta yang seperti ini mengikuti webinar hanya untuk mendapatkan sertifikat, bukan karena membutuhkan materinya

Cara Memaksimalkan Peran Peserta

Beberapa kondisi di atas sebenarnya bukan hanya merugikan peserta itu sendiri melainkan juga mengganggu peserta lain dan juga panitia.

Peserta yang tidak aktif saat webinar juga mempengaruhi psikologis narasumber yang membawakan materi. Apalagi jika lebih banyak peserta yang tidak menyalakan kamera dan tidak merespon penyampaian narasumber.

Oleh karena itu, sebaiknya peserta dapat memaksimalkan perannya agar tidak menimbulkan kerugian bagi dirinya dan orang lain.

Berikut adalah cara memaksimalkan peran sebagai peserta webinar:

  • Memperkenalkan nama dan instansi serta asal daerah kepada narasumber, panitia, dan sesama peserta, hal ini bisa dilakukan di kolom chat vicon, tujuannya untuk membawa diri terlibat dalam kegiatan
  • Menyiapkan semua amunisi yang diperlukan untuk mengikuti webinar (alat yang digunakan, kuota, dan listrik/ baterai)
  • Menyalakan kamera / video agar perhatian terfokus pada kegiatan webinar
  • Menanya kepada narasumber baik secara langsung maupun melalui kolom chat
  • Merespon / memberikan reaction
  • Mengikuti arahan panitia dan narasumber (membuka mentimeter, dll)
  • Mengisi link daftar hadir, mendownload materi, dan mengisi link survey / evaluasi kegiatan webinar yang diberikan oleh panitia
  • Menulis resume hasil kegiatan webinar. Bisa ditulis di media sosial, blog/website atau minimal di buku catatan pribadi
  • Mendiseminasikan hasil kegiatan kepada rekan yang lain

Jika dilihat dari peran di atas, manakah peran yang selama ini sudah kita lakukan ? Sudahkan kita melakukan semua peran di atas ?

Jika belum, maka maksimalkan peran Anda sebagai peserta webinar pada kesempatan webinar selanjutnya, dan jika sudah, maka Anda harus mempertahankannya.

Karena sebagai seorang guru, kita harus terus menerus belajar sebelum kita mengajar. Dan salah satu cara guru untuk belajar tentunya adalah dengan mengikuti kegiatan webinar.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 26)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

      

 

Thursday, February 25, 2021

Semua Guru Bisa Menjadi Narasumber Webinar yang Memukau

 

Pernahkah Anda mengikuti kegiatan webinar selama berjam - jam dan betah untuk mengikutinya ? Saya pernah! Karena saat itu narasumber menyampaikan materinya dengan sangat antusias dan menarik. Cara bicaranya tegas namun tidak terkesan menggurui. Penyampaiannya santun dan penampilannya pun good looking.

Intinya penampilan narasumber tersebut benar - benar menarik minat para peserta untuk menyimak materi webinar.

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas tentang rahasia di balik suksesnya sebuah webinar, dan pada artikel ini, masih terkait dengan webinar, kita akan membahas tentang tips dan trik yang bisa dilakukan oleh guru untuk menjadi narasumber webinar yang memukau.

Tips dan trik ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiganya akan saling berhubungan satu dengan yang lain.

Persiapan

Sebagai seorang narasumber webinar, seorang guru hendaknya melakukan beberapa hal berikut agar dapat tampil secara memukau:

  • Mengenal karakteristik peserta webinar, meliputi : asal sekolah, jenjang sekolah, pendidikan terakhir, dan usia peserta webinar
  • Mengenal fungsi alat - alat komunikasi yang akan digunakan, seperti : headset, laptop, dan aplikasi vicon.
  • Menyiapkan materi webinar dan menyajikannya dalam bentuk power point yang didesain secara interaktif dan menarik atau bisa juga ditampilkan melalui Sway agar terlihat lebih elegant dan luar biasa.
  • Memperhatikan durasi waktu presentasi agar materi dapat tersampaikan dengan baik
  • Bila pada materi terdapat video atau audio yang disisipkan, hendaknya diperiksa lagi agar dapat berfungsi secara normal
  • Memastikan bahwa file presentasi mempunyai back up di panitia, agar panitia dapat membantu jika dalam pelaksanaan terjadi gangguan sinyal yang mengakibatkan narasumber sulit untuk menampilkan presentasinya secara langsung atau gangguan teknis lainnya.
  • Bila perlu, narasumber dapat membuat survey singkat untuk mengetahui pengetahuan awal dari peserta terkait topik yang akan dibahas pada webinar, hal ini juga akan memberi gambaran terkait metode atau strategi terbaik yang dapat diterapkan oleh narasumber selama webinar berlangsung. Contohnya : narasumber ingin agar peserta berpartisipasi aktif dalam slido, namun ternyata dari hasil survey diketahui bahwa peserta belum pernah menggunakan slido, dll
  • Menyiapkan kelompok kecil jika dikehendaki akan dibuat breaking room (data bisa berasal dari survey singkat atau meminta bantuan pada panitia untuk membentuk kelompok sendiri)
  • Membuat daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh peserta dan jawabannya
  • Berkoordinasi dengan panitia minimal 1 - 2 hari sebelum kegiatan dan menanyakan jika ada hal - hal lain yang belum dimengerti terkait pelaksanaan webinar.
  • Menyiapkan Curriculum Vitae (CV) yang akan dibacakan oleh moderator
  • Mengikuti gladi bersih jika diadakan oleh pihak panitia

Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan, seorang guru perlu memperhatikan hal - hal berikut agar dapat menjadi seorang narasumber webinar yang memukau:

  • Menyapa peserta yang hadir pada kegiatan webinar dengan menyebutkan beberapa nama dan asal daerahnya. Bisa juga narasumber meminta peserta menuliskan nama dan asal daerah di kolom chat untuk menarik minat mereka
  • Berbicara dengan santun, ramah dan menjaga kontak mata dengan peserta / audience, walaupun dilaksanakan secara tatap maya / online.
  • Menghindari penggunaan kata - kata sulit / kata - kata asing yang kurang dipahami oleh pesertanya.
  • Menyampaikan materi presentasi dengan metode yang bervariasi. Hindari terlalu fokus pada slide presentasi.
  • Berikan kesempatan pada peserta untuk terlibat selama Anda presentasi. Misalnya dengan menjawab melalui kolom chat, menggunakan menti meter, slido, atau padlet. Bila perlu, beri kesempatan peserta untuk open mic selama beberapa saat.
  • Gunakan pertanyaan rahasia "Apakah tayangan saya masih terlihat ? Apakah suara saya masih terdengar? " Pertanyaan ini semata - mata Anda ajukan pada peserta untuk mengontrol mereka.
  • Selipkan humor segar atau ice breaking singkat yang mungkin dilakukan untuk menjaga perhatian dan semangat peserta.
  • Jangan sekali - kali memarahi peserta. Jika ada yang tidak sengaja mencoret presentasi, cukup diingatkan oleh host dan moderator. Demikian juga ketika ada peserta yang suaranya bocor sehingga menimbulkan noise.
  • Jawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta dengan cara yang baik dan bukan untuk memojokkan peserta tersebut.
  • Berikan kalimat motivasi di akhir presentasi agar tetap diingat oleh peserta.
  • Jaga kualitas suara, lafal dan intonasi agar mudah dipahami oleh peserta. Suara menjadi salah satu penentu keberhasilan webinar karena jika narasumber berbicara dengan nada yang monoton seperti orang ceramah maka peserta cenderung tidak menyimak dengan baik.

Evaluasi

Setelah webinar selesai dilaksanakan, masih ada tahap selanjutnya yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu evaluasi. Dalam hal ini, narasumber dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya selama melakukan presentasi.

Biasanya, pada sebuah webinar, panitia akan memberikan tautan formulir evaluasi yang harus diisi oleh peserta di akhir kegiatan webinar. Dan pada formulir evaluasi tersebut, ada penilaian terkait narasumber.

Sebaiknya, guru sebagai narasumber berkoordinasi dengan panitia agar mendapat umpan balik tersebut, sehingga dalam presentasi berikutnya dapat lebih baik dan memukau.

 

Itulah 3 tahap yang harus dilakukan dan diperhatikan oleh guru jika ingin menjadi seorang narasumber yang memukau dalam kegiatan webinar. Jika ada hal - hal lain yang belum disampaikan, silakan menuliskan di kolom komentar pada artikel ini. Semoga bermanfaat.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 25)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

   

 

 

Wednesday, February 24, 2021

Mudahnya Membuat Flyer Webinar Bagi Pemula

 

Di masa pandemi ini, beranda facebook saya dipenuhi dengan informasi terkait pelaksanaan webinar. Baik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Non Government Organization (NGO), dan instansi serta komunitas praktisi.

Sehingga tak jarang saya langsung mengambil gawai dan melakukan pendaftaran untuk mengikuti webinar tersebut dengan mengklik tautan yang disediakan oleh penyelenggara.

Biasanya saya langsung tertarik mengikuti webinar karena melihat desain flyernya. Karena flyer yang didesain dengan sangat baik akan menjadi media promosi yang efektif.

Dengan adanya kemampuan desain grafis yang dimiliki oleh para desainer, tentunya flyer kegiatan akan terlihat elegan tanpa mengesampingkan fungsi informatifnya yang utama.

Pemilihan warna, komposisi gambar dan tulisan serta pemilihan kata – kata yang tepat menjadi point utama dalam merancang sebuah flyer.

Oleh karena itu, pada artikel kali ini, saya akan membagikan cara mudah membuat flyer webinar, khususnya bagi para pemula.

Sebelum membahas tentang cara membuat flyer, kita kenali dulu pengertian, fungsi, dan tips membuat  flyer yang menarik.

Pengertian Flyer

Flyer adalah alat pemasaran / promosi sederhana yang biasanya dicetak pada selembar kertas dengan ukuran maksimal A4 berbahan  HVS, art paper, ataupun art carton.

Sebenarnya, flyer sendiri termasuk media promosi yang sudah ada sejak dulu. Bentuknya yang lebih sederhana, dengan kata – kata seadanya dan dicetak pada kertas yang tipis, menjadi pembeda flyer dengan brosur, leaflet, dll.

Flyer cenderung hanya memuat informasi umum dan tidak sedetail brosur dan leaflet.

Di era digital ini, flyer lebih banyak digunakan untuk media promosi event, seperti webinar, talkshow, dll. Bentuknya pun ditampilkan dalam format digital (paperless) dan bisa disetting pada berbagai ukuran kertas, walaupun biasanya masih sekitar A4.

Fungsi Flyer

Secara umum, fungsi flyer adalah sebagai media promosi untuk berbagai kepentingan, seperti iklan produk barang atau jasa.

Namun, ada fungsi lain dari flyer yaitu memberikan sejumlah informasi kepada publik terkait penyelenggaraan sebuah event (webinar, talkshow), dll.

Terkait dengan informasi penyelenggaraan event, maka flyer memberikan informasi sbb:

  • Penyelenggara (instansi dinas atau komunitas), termasuk logo instansi
  • Waktu dan tempat kegiatan
  • Materi / Topik webinar
  • Pemateri / Narasumber, host, dan moderator dilengkapi keterangan singkat berupa jabatan atau prestasi.
  • Moda pelaksanaan (online atau offline), termasuk meeting id dan password jika digunakan
  • Link registrasi peserta
  • Media sosial penyelenggara untuk live streaming dan nomor kontak (contact person) yang bisa dihubungi untuk info selengkapnya terkait webinar
  • Bonus / fasilitas yang akan didapatkan peserta, seperti e-sertificate, door prize, dll
  • Informasi tentang pembiayaan webinar (gratis / berbayar)

Tips Membuat Flyer yang Menarik

Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa sebagai calon peserta, saya cenderung mengikuti kegiatan webinar setelah merasa tertarik dengan flyernya.

Oleh karena itu jika kita ingin membuat flyer, kita harus mengetahui bagaimana tips membuat flyer yang menarik.

Berikut ini adalah tipsnya :

  • Pastikan informasi terbaca dengan jelas
  • Pilih kalimat utama yang sekiranya menarik bagi target pembaca
  • Gunakan desain yang menarik pandangan pembaca
  • Sesuaikan gaya desain dengan target pembaca
  • Gunakan font (huruf) yang sesuai dengan target pembaca
  • Gunakan pilihan warna yang sesuai dengan target pembaca
  • Isi flyer harus informatif, padat, dan jelas

Cara Membuat Flyer bagi pemula

Ada banyak aplikasi yang dapat kita gunakan untuk membuat flyer, di antaranya adalah poster my wall, canva, dll.

Aplikasi – aplikasi itu lebih mudah digunakan oleh seorang pemula dibandingkan dengan corel drawa, photoshop ataupun yang lainnya.

Berikut ini adalah cara mudah membuat flyer dengan menggunakan poster my wall:

  1. Akses poster my wall dari browser atau bisa dengan klik tautan berikut
  2. Login dengan menggunakan akun google
  3. Klik buat desain, lalu pilih desain dari template atau pilih template kosong (rekomendasi bagi pemula, gunakan template)
  4. Sesuaikan template untuk mengedit
  5. Edit tulisan atau gambar template untuk mengganti
  6. Klik foto pada bilah alat di sebelah kiri atas untuk menambahkan foto dan pilih dari foto saya untuk mengunggah file foto yang ada di komputer / laptop kita.
  7. Klik pada teks / tulisan kemudian ubah setting dengan menggunakan bilah kanan
  8. Bila sudah selesai, klik unduh di bagian atas dan file akan tersimpan dalam format jpg di laptop kita.

Menambahkan Barcode

Adakalanya, agar tampak semakin elegan, penyelenggara menampilkan link webinar dalam bentuk barcode di flyer.

Kita dapat membuat barcode dengan menggunakan aplikasi QR code generator atau mengakses barcode generator online melalui link berikut : https://www.barcodesinc.com/generator/index.php

Kemudian memasukkan link vicon webinar atau link registrasi dan generate code nya.

Setelah itu, tinggal simpan barcodenya dan sertakan di flyer kegiatan.

Selain tampak lebih elegan, hal ini juga akan mempermudah peserta dalam mengakses link vicon atau link registrasi. Mereka cukup memindai / scan barcode dari flyer dengan menggunakan gawainya tanpa harus mengetik.

Bagaimana, apakah setelah membaca artikel ini, kita siap untuk menjadi bagian dari pengelola webinar ataukah baru sebatas mengambil peran sebagai peserta ?

Saran saya, tetaplah belajar untuk menguasai hal – hal yang baru ini. Karena tuntutan zaman yang selalu berubah. Dan guru yang baik adalah guru yang selalu belajar demi menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas.

Sumber :

https://blog.porinto.com/pengertian-definisi-dan-kegunaan-lengkap-flyer/

https://www.tjetak.com/blog/kenali-apa-itu-flyer-dan-cara-tepat-memanfaatkannya

https://seputarilmu.com/2019/10/flyer.html

 

Catatan : 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Februari 2021 (Artikel ke 24)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

   

Tuesday, February 23, 2021

Rahasia di Balik Suksesnya Sebuah Webinar

 

 

Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti sebuah acara webinar yang diselenggarakan oleh Kemdikbud atau pihak lain dan dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan peserta ?

Kira - kira, hal apa yang menarik peserta sehingga mereka berbondong - bondong melakukan pendaftaran pada acara tersebut ?

Berapa banyak orang yang terlibat dalam persiapan acara tersebut dan apa tugas mereka masing - masing ?

Berikut ini, saya akan membagikannya untuk Bapak/Ibu, diharapkan agar kita belajar untuk bukan hanya menjadi peserta webinar namun menjadi bagian dari tim istimewa pengelola webinar.

Guru Butuh Belajar

Banyak jalan menuju Roma, ini adalah ungkapan yang disampaikan oleh orang bijak. Maknanya, selalu ada jalan untuk mencapai tujuan.

Bagi seorang guru, ungkapan tersebut dapat menjadi sebuah motivasi besar untuk tetap semangat berinovasi di tengah pandemi.

Mengapa guru harus tetap berinovasi di tengah pandemi? Hal ini disebabkan oleh berubahnya pola pembelajaran yang tadinya tatap muka di sekolah, sekarang tiba – tiba harus dilakukan secara tatap maya / daring.

Banyak guru yang merasa semakin tertantang dengan adanya pilihan moda pembelajaran daring. Karena guru mau  tidak mau, siap tidak siap harus bisa beradaptasi dengan teknologi pembelajaran.

Hal ini akhirnya menjadi sebuah kebutuhan belajar. Guru butuh belajar lagi tentang pemanfaatan alat – alat teknologi dan sistemnya.

Belajar Melalui Webinar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun berlaku tanggap terhadap aneka kebutuhan belajar guru, sehingga mengeluarkan beberapa kebijakan terkait hal ini.

Diantaranya adalah dengan menggelar rangkaian seri webinar (webinar series) bagi guru sejak Bulan Maret 2020 yang lalu.

Berbagai topik menarik dengan para narasumber hebat dan terkemuka silih berganti di ruang belajar guru. Ratusan bahkan ribuan guru dengan setia menanti kesempatan untuk mempelajari materi yang mereka perlukan.

Rangkaian kegiatan webinar tersebut dinilai sukses besar, karena terbukti mampu mengakomodir kebutuhan belajar siswa terkait adaptasi pembelajaran di masa pandemi.

Namun, tahukah Anda, ada rahasia di balik suksesnya sebuah webinar ?

Tim  Sukses

Berdasarkan pengalaman saya bergabung di Komunitas Belajar Guru Penggerak (KBGP),  letak kesuksesan sebuah acara webinar adalah pada Tim yang solid.

Tim pengelola webinar terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

  1. Konten, bertugas menyiapkan materi webinar dan konten lain yang diperlukan.
  2. Event, bertugas merancang event (webinar, talkshow, dll), menghubungi narasumber dan menentukan waktu pelaksanaan
  3. Publikasi , bertugas memback up publikasi kegiatan (membuat flyer kegiatan, link vicon, live streaming, registrasi, dll)
  4. MELR, bertugas melakukan survey kebutuhan belajar guru dan menganalisis hasil kegiatan)

Setiap anggota tim melakukan tugasnya sesuai dengan uraian job description masing – masing.

Aksi Kolaborasi

Pada saat pelaksanaan webinar, semua anggota tim juga bekerja di belakang layar. Ada yang memantau peserta di live streaming youtube, mencatat pertanyaan dari peserta, melihat kualitas video, dan ada juga yang menghubungi anggota tim lainnya untuk memastikan koordinasi terus terjaga selama penyelenggaraan webinar.

Pengaturan durasi waktu, kontrol antara host, moderator, dan speaker (narasumber) juga merupakan point yang tak luput dari pemantauan tim.

Ketika ada hal – hal teknis yang terjadi di luar perkiraan, seperti noise atau suara bocor selama webinar yang disebabkan oleh microphone peserta, atau bahkan ketika keynote speaker tiba – tiba minta disesuaikan waktunya, maka anggota tim saling berkoordinasi di dalam grup WA yang disepakati sebagai ruang koordinasi dan kolaborasi.

Wah, ternyata ada sekian banyak aktivitas yang harus dilakukan demi kelancaran dan kesuksesan sebuah acara webinar. Saya benar - benar tidak menduganya. Karena ketika saya hanya menjadi peserta webinar, saya cukup duduk manis dan menyimak materi. Sedangkan ketika kita yang menjadi bagian dari pengelola webinar, ternyata ada rahasia besar di dalamnya, yang kini juga Bapak/Ibu telah ketahui.

Saya merasa bahwa ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Semoga pengalaman ini akan memperkaya diri saya dan juga Bapak/Ibu semua yang akan berpraktek mengelola sebuah kegiatan webinar bersama komunitas praktisi masing – masing.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 23)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 1026 0901048

 

             

Monday, February 22, 2021

Leaderboard, Cara Baru Pantik Prestasi Dalam Literasi

  

Anak - anak pasti sangat suka bermain game. Karakteristik game yang menarik dan menantang membuat mereka tidak pernah bosan bermain game ini. Bahkan mereka terbiasa menghabiskan waktu berjam - jam saat bermain game.

Di satu sisi, kesukaan anak terhadap game memang menjadi kekhawatiran sendiri bagi orang tua dan guru, karena dampak negatif yang ditimbulkannya. Namun, di sisi lain, ternyata game juga menimbulkan dampak positif bagi diri siswa, yaitu menumbuhkan rasa ingin tahu, percaya diri, dan bekerja keras.

Pada postingan saya sebelumnya, kita sudah membahas terkait peran guru dalam Berkreasi Dengan Game Edukasi. 

Kali ini, saya akan berbagi tentang salah satu sistem yang dapat diadopsi oleh guru dari sebuah game. Sistem tersebut adalah "leaderboard".

Apa Itu Leaderboard ?

Leaderboard dapat diartikan sebagai papan peringkat. Sesuai artinya, maka sistem leaderboard itu sendiri merupakan sebuah sistem pemeringkatan pemain game berdasarkan poin yang mereka kumpulkan.

Cara kerja leaderboard adalah dengan mengumpulkan poin dan mengurutkannya.

Pemain dengan poin tertinggi akan mendapatkan peringkat pertama dan seterusnya.

Integrasi Leaderboard Dalam Literasi

Salah satu cara untuk memantik prestasi siswa dalam bidang literasi adalah dengan mengadopsi leaderboard pada game.

Caranya, guru memberikan tantangan kepada siswa untuk berlomba - lomba mengumpulkan poin literasi, kemudian membuat peringkat berdasarkan poin yang mereka kumpulkan.

Penentuan poin dapat dirumuskan bersama oleh guru dan siswa dan hasilnya dapat ditulis dalam bentuk kontrak / kesepakatan kelas.

Berikut ini adalah contoh poin yang ditetapkan oleh guru dan siswa:

  • Membaca satu buku dalam satu minggu  = poin 100
  • Menulis resume satu buku                          = poin 150
  • Membuat satu quote terkait literasi          = poin 50
  • Merancang infografis dari hasil membaca  = poin 200
  • Mempublikasikan vlog dari hasil bacaan                = poin 200
  • Menulis artikel                                               = poin 200
  • Membuat kliping                                           = poin 500
  • Menulis buku                                                 = poin 1.000

Guru dan siswa dapat menyesuaikan kesepakatan poin literasi sesuai dengan jenjang sekolahnya.

Dengan adanya kesepakatan mengenai poin literasi, maka siswa dapat lebih terpacu untuk berlomba - lomba dalam mengumpulkan poin literasinya. Selanjutnya mereka akan meningkatkan kemampuannya di bdiang literasi untuk meraih peringkat dalam sistem Leaderboard.

Sistem Pengumpulan Poin dan Leaderboard

Pengumpulan poin dilakukan dalam waktu yang disepakati oleh guru dan siswa. Perekapan poin dapat dilakukan seminggu sekali atau sebulan sekali.

Hasil perekapan ini akan diumumkan melalui leaderboard di waktu yang sudah disepakati oleh guru dan siswa.

Cara menampilkan leaderboard, bisa dimumumkan di media sosial, grup WA kelas, atau ditampilkan langsung saat pembelajaran daring.

Guru dapat memberikan apresiasi bagi siswa yang meraih peringkat dalam leaderboard dalam bentuk sertifikat.

Berikut ini adalah contoh sertifikatnya : https://drive.google.com/file/d/1F7oHPRPoWFal51lW_cym-EMRJWDvZUTr/view?usp=sharing

Selain itu, jika dianggap perlu, guru dapat memberikan hadiah berupa buku, alat tulis, buku cerita, dll.

Dengan adanya sertifikat atau pemberian hadiah bagi siswa yang namanya tertera pada leaderboard, maka akan memantik motivasi siswa untuk meningkatkan kompetensinya di bidang literasi.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 22)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

         

Sunday, February 21, 2021

Cara Membuat Soal AKM Numerasi

 

Bapak/Ibu guru, pada postingan sebelumnya, saya sudah membagikan Cara Membuat Soal AKM Literasi, dan kali ini saya akan membahas tentang cara membuat soal AKM Numerasi.

Banyak orang yang berpendapat bahwa kompetensi numerasi adalah berhitung, menggunakan angka - angka dan mencari hasil dari operasi hitung.

Perlu diketahui, bahwa pendapat itu keliru. Kompetensi numerasi bukan hanya tentang berhitung dengan angka - angka.

Numerasi dimaknai sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menggunakan pengetahuan matematika yang dimilikinya dalam menjelaskan kejadian, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan matematika inilah yang akan membantu siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan di dunia nyata dengan cara berpikir logis dan bernalar sehingga mampu mengambil suatu keputusan dengan penuh tanggung jawab.

Pengembangan Soal AKM Numerasi

Sama halnya dengan pengembangan soal AKM literasi, soal - soal yang disusun dan dikembangkan pada kompetensi numerasi juga dilihat dari 3 K yaitu : Konten, Kognitif, dan Konteks.

Konten Numerasi

Domain konten pada numerasi dibagi menjadi 4, yaitu Bilangan, Geometri dan Pengukuran, Aljabar, serta Data dan Ketidakpastian.

Pada konten bilangan, siswa akan diuji mengenai bilangan cacah dan pecahan, yang terdiri dari membandingkan pecahan, mengurutkan pecahan, operasi hitung bilangan cacah, dan pangkat dua dari suatu bilangan. Khusus di kelas 6, kontennya diperluas dengan pembahasan mengenai pecahan desimal dan persen dan kubik / pangkat tiga dari suatu bilangan.

Konten Geometri dan Pengukuran terdiri dari mengenal bangun datar , volume dan luas permukaan, pengukuran panjang, berat, waktu, volume dan debit, serta satuan luas menggunakan satuan baku.

Sedangkan pada konten aljabar, siswa diuji untuk menyelesaikan persamaan sederhana yang disesuaikan dengan tingkat berpikir peserta didik kelas dasar.

Selanjutnya pada konten data dan ketidakpastian, siswa SD belajar tentang penyajian data dalam tabel, diagram batang, dan diagram lingkaran.

Terkait cakupan kompetensi minimum untuk kelas survey yaitu kelas 5 pada setiap konten, dapat dilihat lebih lengkap DI SINI

Level Kognitif

Level kognitif numerasi Asesmen Kompetensi Minimum dibagi menjadi tiga level, yaitu: Knowing, Applying (penerapan), dan Reasoning (penalaran).

Pada level knowing, siswa belajar untuk mengingat, mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menghitung, mengambil/memperoleh, dan mengukur terkait fakta, proses, konsep, dan prosedur.

Sedangkan pada level applying (penerapan), siswa belajar untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman mereka terkait fakta, proses, konsep, relasi, dan prosedur untuk menyelesaikan masalah dalam dunia nyata. Kata kunci yang digunakan adalah memilih/menentukan, menyatakan/membuat model, dan menerapkan/melaksanakan.

Selanjutnya, pada level reasoning (penalaran), siswa belajar menganalisis, memadukan (mensintesis), mengevaluasi, menyimpulkan, dan membuat justifikasi untuk memperluas pemahaman mereka pada situasi yang lebih kompleks.

Konteks Pada AKM Numerasi

Konteks yang dikembangkan dalam AKM numerasi terdiri dari personal, sosial budaya dan saintifik. Dengan adanya perluasan pada ketiga konteks tersebut dengan tujuan agar siswa dapat semakin mengenali peran matematika dalam kehidupan sehari - hari.

Konteks personal memposisikan siswa sebagai orang yang disebut pada soal untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Contoh soal pada konteks pribadi sbb: Suatu restoran pizza menawarkan pizza dengan dua macam topping dasar, yaitu keju dan tomat. Pelanggan juga dapat memesan pizza dengan tambahan ekstra topping. Ada empat pilihan untuk ekstra topping, yaitu daging, jamur, salami, dan zaitun. Dina ingin memesan pizza dengan dua macam topping berbeda. Berapa banyak pilihan kombinasi topping yang bisa dipesan Dina? 

Konteks sosial budaya dapat meliputi sistem pemungutan suara, transportasi publik, pemerintahan, kebijakan publik, demografi, periklanan, statistik, dan ekonomi nasional. Biasanya konteks sosial budaya disajikan dalam konten data dan ketidak pastian dalam stimulus berbentuk grafik.

Sedangkan konteks saintifik dibedakan menjadi dua yaitu intra matematika dan extra matematika. Konteks intra matematika merupakan konteks yang terkait dengan keilmuan matematika, seperti pengukuran panjang, berat, waktu, dll. Sedangkan konteks extra matematika adalah konteks yang terikat dengan keilmuan lainnya, seperti : cuaca atau iklim, ekologi, ilmu medis (obat - obatan), ilmu ruang angkasa, dll.

Cara Membuat Soal AKM Numerasi

Secara teknis, cara membuat soal AKM Numerasi tidak berbeda dengan Literasi, namun yang perlu diperhatikan adalah pada distribusi soalnya.

Berikut ini adalah keterangan tentang distribusi jumlah soal AKM Numerasi berdasarkan konten, kogntif, dan konteks untuk kelas 5 jenjang Sekolah Dasar (SD):

Konten : Bilangan 40%, pengukuran dan geometri 25%, data dan ketidakpastian 25%, aljabar 10%

Kognitif : Knowing 30%, applying (penerapan) 50% dan reasoning (penalaran) 20%

Konteks : personal 60%, sosial budaya 30%, Saintifik 10% (intra matematika 3%, extra matematika 7%).

Setelah guru memahami distribusi soal berdasarkan konten, kognitif dan konteksnya, selanjutnya guru dapat membuat kisi - kisi AKM Numerasi. Format kisi - kisi dapat download DI SINI

Sebagai gambaran soal, Bapak/Ibu guru dapat melihatnya pada link berikut: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 21)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

     

Saturday, February 20, 2021

Cara Membuat Soal AKM Literasi

 

Salah satu Peran Guru Dalam Mempersiapkan AKM adalah menyiapkan instrumen asesmen yang mendukung pada upaya pencapaian kompetensi literasi dan numerasi.

Oleh karena itu, pada bagian pertama ini, kita akan belajar mengenai cara membuat soal AKM Literasi.

Dalam uraian sebelumnya, literasi yang dibahas dalam AKM ini adalah literasi membaca, di mana literasi membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan bentuk - bentuk teks tertulis yang dibutuhkan oleh masyarakat dan/atau dihargai oleh individu.

Dengan adanya arus informasi yang pesat melalui berbagai media saat ini, kita dituntut untuk dapat lebih selektif dalam membaca dan menerima setiap informasi yang disajikan. Dan tentunya proses ini membutuhkan proses kognisi yang lebih tinggi, karena kita tidak cukup membaca informasi, melainkan harus mengolah informasi tersebut.

Oleh karena itu, melalui AKM literasi, diharapkan guru dapat membantu siswa untuk memperoleh kemahiran dalam literasi.

Desain pengembangan soal AKM literasi dapat dilihat berdasarkan konten, kognitif, dan konteks. Berikut penjelasannya :

Pengembangan Konten

Jika dilihat dari segi konten, aspek penting dalam pelaksanaan AKM literasi adalah pada ketersediaan teks atau bacaan sebagai stimulus. Stimulus harus dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran di abad 21, yaitu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.

Konten teks dalam penyusunan soal AKM literasi dikelompokkan menjadi 2 yaitu teks fiksi / sastra dan teks informasi.

Teks fiksi / sastra bersifat imajinatif yang dibangun melalui unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik pada cerita. Contoh teks fiksi / sastra yaitu : cerita rakyat, cerpen, dongeng, legenda, dll.

Sedangkan teks informasi adalah teks yang ditulis berdasarkan data dan fakta, serta peristiwa yang benar - benar terjadi dalam kehidupan. Contohnya : rute perjalanan bus, jadwal kereta api, dosis obat, dll.

Khusus untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), distribusi konten teks ini sebesar 50% untuk teks fiksi dan 50% untuk teks informasi.

Level Kognitif / Proses Kognitif

Ada 3 level kognitif yang diujikan pada soal AKM literasi membaca yaitu :

  1. menemukan informasi (access and retrieve)
  2. memahami (interpret and integrate)
  3. mengevaluasi dan merefleksi (evaluate and reflect)

Pada level kognitif menemukan informasi, siswa diharapkan mampu menemukan informasi dari teks yang tersaji secara eksplisit. Sedangkan pada level kognitif memahami, siswa diharapkan sudah mampu mengolah informasi yang diterima dan menyimpulkan informasi implisit dalam atau antar teks. Selanjutnya, pada level kognitif mengevaluasi dan merefleksi, siswa diharapkan mampu merefleksi atau membuat sebuah gambaran atau opini yang dikaitkan dengan pengalamannya sendiri dan kehidupan sekitarnya.

Pengembangan Konteks

Prinsip penyusunan soal AKM adalah berpusat pada kebutuhan siswa saat ini, sehingga melalui soal AKM, siswa diharapkan mampu mengembangkan potensi individual dan sosialnya sekaligus memanfaatkan literasi ini dalam setiap pemecahan masalah sehari - hari.

Ada 3 konteks yang digunakan dalam pengembangan desain soal AKM literasi, yaitu :

  1. Konteks personal
  2. Sosial budaya
  3. Saintifik

Tujuan pengembangan soal AKM literasi pada konteks personal adalah agar siswa mempunyai kemampuan literasi membaca dalam membentuk karakter dengan menggali kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam kehidupan pribadinya.

Konteks sosial budaya merupakan gambaran pandangan masyarakar terkait kondisi sosial budaya.

Sedangkan konteks saintifik merupakan gambaran kemampuan literasi membaca yang digunakan untuk merefleksikan beragam informasi penting yang diperolehnya untuk berpartisipasi dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Distribusi soal AKM berdasarkan konteks, khusus untuk jenjang SD adalah : konteks personal 60%, sosial budaya 30%, dan saintifik 10%.

Cara Membuat Soal AKM Literasi

  1. Menyusun kisi - kisi AKM literasi, format kisi - kisi AKM dapat download disini
  2. Membuat soal AKM literasi dalam beragam bentuk soal
  3. Membuat pedoman penskoran

Bentuk Soal AKM

Bentuk soal AKM sangat bervariasi, yaitu :

  • Pilihan ganda, soal pilihan ganda menyediakan beberapa option jawaban namun untuk jawaban yang tepat, hanya boleh memilih satu. Jumlah pilihan untuk siswa kelas 1 - 3 SD adalah 3, yaitu: A, B, dan C. Sedangkan untuk siswa dari kelas 4 - 6 SD diberikan option sebanyak 4 buah, yaitu: A, B, C, dan D.
  • Pilihan ganda kompleks, pada bentuk soal pilihan ganda kompleks, siswa dapat memilih beberapa pilihan jawaban yang benar,
  • Menjodohkan, bentuk soal ini menyajikan 2 lajur yaitu lajur kiri untuk soal dan lajur kanan untuk jawaban. Sebaiknya lajur jawaban lebih banyak dibandingkan lajur soal.
  • Isian atau Jawaban singkat, bentuk soal ini mempunyai kesamaan jawaban yaitu berupa kata, frasa, angka, atau simbol yang ditulis secara singkat. Letak perbedaan antara isian dan jawaban singkat adalah pada pokok soalnya. Isian ditulis dengan kalimat berita / pernyataan, sedangkan jawaban singkat ditulis dengan pokok soal berupa pertanyaan.
  • Uraian, merupakan bentuk soal yang menuntut peserta didik untuk mengemukakan atau mengekspresikan gagasan dalam bentuk uraian tertulis.

Distribusi Soal AKM berdasarkan bentuk soal : 

  • Pada penyusunan soal AKM survey nasional: pilihan ganda 20%, PG kompleks 60%, menjodohkan 10%, isian singkat/ jawaban singkat 5%, uraian 5%
  • Pada AKM Kelas (dilaksanakan oleh guru di kelas): pilihan ganda 20%, PG kompleks 40%, menjodohkan 10%, isian singkat/jawaban singkat 5%, uraian 25%

 

Pedoman Penskoran

Soal - soal AKM berbentuk obyektif dan non obyektif. Bentuk soal obyektif terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, dan isian/jawaban singkat. Sedangkan bentuk soal non obyektif seperti essay/uraian. Soal - soal obyektif dalam bentuk soal pilihan ganda dapat langsung diberi skor 1 atau 0.

Pilihan ganda kompleks, pemberian skor berdasarkan kompleksitas dari pernyataan dan jumlah pilihan jawaban.

Apabila jumlah pernyataan 3-5 dan pilihan jawaban 2 (benar-salah, yatidak, berubah –tidak berubah, atau lainnya), penskoran 1 atau 0. Artinya, diberi skor 1 bila semua jawaban benar, diberi skor 0 bila ada jawaban salah.

Apabila jumlah pernyataan lebih dari 5 dan pilihan jawaban lebih dari 2 (hewan-tumbuhanmikroorganisme, pagi-siang-malam, kota-kabupaten-kecamatan-desa, hijau-merahkuning-biru-oranye, atau lainnya), penskoran 2 1 0. Diberi skor 2 bila menjawab semua benar, diberi skor 1 bila salah 1 atau 2, diberi skor 0 bila salah lebih dari 2.

Sedangkan untuk soal - soal non obyektif perlu disesuaikan dengan rubrik penilaian. Skor penuh atau skor tertinggi diberikan pada jawaban yang memenuhi semua kriteria/kunci jawaban benar. Skor sebagian diberikan pada jawaban yang kurang memenuhi kriteria/kunci jawaban benar. Jawaban salah diberi skor 0, sedangkan tidak menjawab atau kosong diberi kode 9.

 

Contoh Soal AKM Literasi dapat DOWNLOAD DI SINI

 

Sumber : Desain Pengembangan Soal Asesmen Kompetensi Minimum 2020, Pusmenjar.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 20)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

          

 

 

Friday, February 19, 2021

Ketahui Peran Guru Dalam Mempersiapkan AKM

  

 

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan salah satu elemen dasar Asesmen Nasional.  Selain AKM, ada juga elemen lainnya yaitu survey karakter dan survey lingkungan belajar. AKM juga merupakan penilaian kompetensi mendasar terhadap kemampuan literasi dan numerasi.

Di antara enam literasi dasar, AKM fokus pada literasi (membaca) dan numerasi karena kedua jenis literasi tersebut menjadi dasar untuk perolehan jenis kompetensi literasi lainnya.

Perbedaan Literasi dan Numerasi

Kemampuan literasi (membaca) dimaknai sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Sedangkan kemampuan numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

Perhatikan ilustrasi berikut:

Sepasang sepatu dijual dengan harga Rp 200.000,00. Sepatu tersebut dijual di beberapa toko yang menawarkan diskon beragam : Toko A memberi diskon 50% + 20%, Toko B memberi diskon 30% + 20%, Toko C memberi diskon 40% + 10%, Toko D memberi promo beli 2 gratis 1, Toko E memberi promo semua bayar setengah harga, dan Toko F memberi promo beli 1 gratis 1.

Menurut Anda, apakah permasalahan pada ilustrasi di atas berhubungan dengan konteks dunia nyata yang dihadapi oleh siswa kita ?

Lalu, apakah menurut Anda, siswa Sekolah Dasar (SD) mampu menyelesaikan permasalahan pada soal tersebut dengan jawaban yang benar ?

Menurut saya, soal tersebut akan mampu dikerjakan oleh siswa SD, asalkan mereka sudah mempunyai kemampuan pra syarat terkait kompetensi tersebut. Untuk inilah dibutuhkan peran guru yang akan membantu mereka dalam mempersiapkan AKM.

Peran Guru Dalam Mempersiapkan AKM

Dalam buku panduan / tanya jawab AKM, sudah dijelaskan mengenai perbedaan UN dan AKM. Salah satunya, guru tidak perlu melakukan persiapan khusus bagi siswanya. Pola - pola drill soal pun tidak dibutuhkan lagi, terutama karena tidak ada kisi - kisi soal AKM, yang ada hanyalah sejumlah indikator kompetensi yang nantinya dapat dikembangkan menjadi soal literasi dan numerasi.

Persiapan yang dimaksud sebelumnya adalah terkait peran guru sebagai fasilitator pembelajaran. Bagaimana mungkin siswa mampu menyelesaikan soal - soal AKM yang merupakan jenis soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) jika siswa tidak mengalami pembelajaran yang mengembangkan kemampuan bernalar mereka.

Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengetahui perannya dalam mempersiapkan AKM.

Berikut ini adalah 7 peran guru terkait dengan persiapan AKM, yaitu :

  • Melakukan Asesmen Diagnosis Kognitif untuk membuat pemetaan kemampuan dasar siswa
  • Memberikan Scaffolding pada kelompok siswa yang membutuhkan dukungan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan
  • Membudayakan literasi (membaca) baik di kelas maupun sekolah (Gerakan Literasi Sekolah), melalui pengelolaan kelas kaya literasi, pengadaan sumber bacaan, jurnal membaca, dll
  • Melatih daya nalar siswa melalui model pembelajaran inovatif seperti : problem based learning, project based learning, discovery learning, dan inkuiri
  • Menggali berbagai stimulus yang diperlukan untuk menunjang proses berpikir siswa. Stimulus dapat berupa ilustrasi gambar, video, rekaman suara yang relevan dan kontekstual.
  • Menyiapkan instrumen asesmen yang mendukung pada upaya pencapaian kompetensi literasi dan numerasi. Contoh soal AKM yang dikembangkan Pusmenjar dapat download DI SINI
  • Melakukan remedial dan pengayaan bagi siswa sesuai pengolahan hasil belajar AKM

Jika guru melaksanakan 7 peran di atas, maka dapat dipastikan bahwa siswa akan siap dalam menyongsong AKM pada tahun 2021 ini.

Sumber : https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 19)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

     

 

 

 

 

 

Thursday, February 18, 2021

Pentingnya Asesmen Diagnosis Kognitif di Masa Pandemi

 

Suatu hari, Aldebaran mengeluh sakit perut. Ia merasa mual, badannya lemas, dan setiap makanan masuk ke perutnya seperti hendak ke luar lagi. Ia pun meminta ibunya mengantarnya ke dokter. Setelah memasuki ruang periksa dokter, dokter pun menanyakan apa yang dirasakan Aldebaran saat ini, termasuk kondisinya sebelum ia merasa sakit perut. Kemudian berdasarkan informasi tersebut, dokter pun memeriksa Aldebaran dan mendiagnosis bahwa Aldebaran mengalami diare.

 

Kasus yang dialami oleh Aldebaran, juga dapat terjadi dalam pembelajaran kita di masa pandemi.

Pembelajaran di masa pandemi mencerminkan kondisi capaian pembelajaran yang berbeda dari siswa. Ada siswa yang cepat memahami pembelajaran dan ada juga yang lambat.

Di sini, guru harus mampu mengambil peran seperti seorang dokter bagi siswanya. Ia harus mampu melakukan diagnosis terhadap faktor - faktor penyebab capaian belajar siswa yang bervariasi.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, di antaranya : kondisi sosial ekonomi serta akses sumber daya pembelajaran yang berbeda.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah model asesmen yang dapat mengetahui hambatan dan kelemahan siswa pada saat BDR.

Jenis asesmen yang sangat tepat untuk digunakan adalah asesmen diagnosis kognitif.

Pengertian Asesmen Diagnosis Kognitif

Asesmen Diagnosis Kognitif bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dalam topik sebuah mata pelajaran. Kegiatan ini dapat dilaksanakan di awal pembelajaran topik baru, setelah menjelaskan suatu topik, atau bisa juga dilaksanakan setiap dua minggu/bulan/triwulan/semester.

Asesmen diagnosis kognitif hendaknya dilakukan secara berkala agar guru memperoleh informasi terbaru terkait perkembangan kognitif siswa.

Adanya upaya remedial dan pengayaan juga menjadi sebuah rangkaian tindak lanjut pembelajaran yang akan menjadi dasar bagi pelaksanaan asesmen diagnosis kognitif berikutnya.

Tahapan Pelaksanaan Asesmen Diagnosis

Ada 3 tahapan pelaksanaan asesmen diagnosis kognitif berkala yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Persiapan
  2. Pelaksanaan
  3. Diagnosis dan Tindak lanjut

Tahap Persiapan 

  • Mencakup langkah - langkah berikut : membuat Rencana Pelaksanaan Asesmen, mengidentifikasi materi asesmen, dan menyusun 10 soal sederhana.
  • Pada bagian Rencana Pelaksanaan Asesmen, guru dapat menuliskan sasaran / target asesmen, mata pelajaran dan topik asesmen, waktu dan tempat pelaksanaan, serta cara / mekanisme asesmen akan dilakukan.
  • Untuk bagian mengidentifikasi materi asesmen, guru dapat menganalisis topik baru yang akan dipelajari saat ini berdasarkan daftar Kompetensi Dasar (KD) yang disederhanakan (keputusan Balitbang nomor 018/H/KR/2020 tanggal 5 Agustus 2020 tentang kompentensi inti & kompetensi dasar pelajaran pada kurikulum 2013 pada Paud, Dikdas, dan Dikmen berbentuk sekolah menengah atas untuk Kondisi Khusus). Dengan topik atau KD yang sudah dipelajari di kelas sebelumnya sebagai prasyarat mempelajari topik baru.
  • Setelah itu, guru menyusun 10 soal untuk asesmen dengan ketentuan sebagai berikut: Soal nomor 1-2: dua
    soal dari Kemampuan Dasar dua kelas dibawah (KD-2)Semester 2, Soal nomor 3-8: enam soal dari Kemampuan Dasar satu kelas dibawah (KD-1) Semester 1 dan 2,  Soal nomor 9-10; dua soal dari Kemampuan
    Dasar (KD) Semester 1 kelas yang baru akan dimulai.

Tahap Pelaksanaan 

Pada tahap pelaksanaan, guru dapat memfasilitasi siswa dengan lingkungan belajar yang sesuai. Jika pembelajaran sudah dilakukan secara tatap muka, maka asesmen dapat dilakukan di sekolah.

Namun, jika sekolah masih menyelenggarakan BDR, maka ssiwa dapat melaksanakan asesmen dari rumah masing - masing.

Namun yang lebih penting  adalah, baik di rumah maupun di sekolah, siswa hendaknya selalu mengutamakan kesehatan dan menaati protokol kesehatan (3M).

Tahap Diagnosis dan Tindak Lanjut

Tahap ini menjadi tahap yang terakhir sekaligus menjadi awal bagi pelaksanaan asesmen diagnosis berkala, karena hasil asesmen akan kembali menjadi dasar tindak lanjut.

Tahap diagnosis dan tindak lanjut  mencakup empat langkah:

  1. Lakukan pengolahan hasil asesmen, dapat dilakukan dengan memberikan skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Agar memudahkan guru dalam tahap selanjutnya, tuliskan skor pada tabel skoring  (seperti format analisis hasil belajar)
  2. Berdasarkan hasil penilaian, bagi siswa menjadi 3 kelompok, siswa dengan rata-rata kelas akan diajar oleh guru kelas, siswa 1 semester di bawah rata-rata mendapatkan pelajaran tambahan dari guru kelas, siswa 2 semester di bawah rata-rata akan dititipkan ke guru kelas di bawah, atau dibuatkan kelompok belajar yang didampingi orang tua, anggota keluarga, dan pendamping lainnya yang relevan
  3. Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru
  4. Ulangi proses yang sama, sampai siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan

Jika guru melaksanakan asesmen diagnosis kognitif secara berkala, maka semua siswa di kelasnya akan dapat mencapai kompetensi dasar dan menuntaskan pembelajaran.

Oleh karena itu, dibutuhkan kemauan dan kemampuan dari guru untuk merancang asesmen diagnosis berkala.

Sebagai panduan pelaksanaan, Kemdikbud juga sudah menyediakan modul asesmen diagnosis berkala. Modulnya dapat didownload DI SINI

 

Sumber : http://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/asesmen-diagnostik

 

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 18)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

Wednesday, February 17, 2021

Contoh RPP Berdiferensiasi

 

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Seorang guru harus mengetahui Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi agar pembelajarannya dapat terlaksana dengan sukses.

Setelah guru mengetahui tentang strategi pembelajaran berdiferensiasi, selanjutnya guru dapat membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdiferensiasi.

Apa itu RPP berdiferensiasi dan apa perbedaannya dengan RPP yang selama ini kita buat dalam Kurikulum 2013 ?

RPP berdiferensiasi adalah sebuah rencana pembelajaran yang disusun  berdasarkan hasil pemetaan profil belajar siswa.

RPP berdiferensiasi berbeda dengan RPP yang selama ini kita buat berdasarkan Kurikulum 2013. Titik perbedaannya bisa diamati dari 3 elemen dalam pembelajaran berdiferensiasi seperti yang telah dibahas sebelumnya yaitu : konten, proses, dan produk pembelajaran.

Maksudnya, pada RPP yang biasanya, dalam satu pembelajaran, tidak ada perbedaan konten, proses, maupun produk yang akan dipelajari bersama siswa, sedangkan pada RPP berdiferensiasi, terdapat perbedaan - perbedaan terkait konten yang akan disajikan guru, proses pembelajaran, dan produk pembelajarannya.

Hal yang perlu diperhatikan oleh guru sebelum menyusun RPP berdiferensiasi adalah :

  1. Melakukan pemetaan profil belajar siswa
  2. Menganalisis silabus dan mengkaji KI dan KD
  3. Menentukan materi pokok
  4. Merumuskan IPK
  5. Menentukan jenis diferensiasi yang akan diakomodir dalam RPP (konten, proses, produk pembelajaran)
  6. Memilih sumber / media pembelajaran
  7. Menentukan jenis penilaian

Pemetaan Profil Belajar Siswa

Pemetaan profil belajar siswa dapat dilakukan melalui pemetaan profil kelas dan profil siswa.

 

Pemetaan profil kelas meliputi : nama siswa, gaya belajar, kecerdasan majemuk, dan lingkungan belajar.

Contoh :

Nama Siswa : Andriani

Gaya belajar : visual

kecerdasan majemuk : logical mathematic, intrapersonal

lingkungan belajar : lebih suka belajar sendiri

Pemetaan profil siswa meliputi : kekuatan siswa, tantangan siswa, jadwal intervensi, dan intervensi yang disarankan.

Materi Pokok, Kompetensi Dasar dan IPK

Muatan Pelajaran : PPKn
Kelas / Semester : IV / 2

Materi pokok : Keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia

Kompetensi Dasar : 

4.4 Menuliskan berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia yang terikat persatuan           dan kesatuan

Indikator Pencapaian Kompetensi : 

  1. Melalui kegiatan mengamati video, siswa dapat membuat produk yang menyajikan berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia
  2. Melalui kegiatan mendengarkan podcast, siswa dapat membuat produk yang yang menyajikan berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia
  3. Melalui kegiatan bermain peran, siswa dapat membuat produk yang yang menyajikan berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia

Jenis Diferensiasi : Proses dan Produk 

Langkah - Langkah Pembelajaran : (tatap muka)

A. Pendahuluan

  • Siswa dikondisikan untuk belajar : mengatur siswa duduk berkelompok sesuai hasil pemetaan gaya belajar, berdoa, mengucapkan salam, dan melakukan presensi siswa
  • Menghubungkan materi pembelajaran sebelumnya dengan topik pembelajaran hari ini
  • Menyampaikan strategi pembelajaran berdiferensiasi dan capaian pembelajaran yang diharapkan

B. Kegiatan Inti

  • Siswa mengamati panduan pembelajaran di kelompok masing - masing
  • Siswa melakukan proses pembelajaran yang difasilitasi oleh guru sesuai dengan kelompok masing - masing
  • Siswa mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru secara kelompok
  • Siswa melakukan diskusi di kelompok masing - masing tentang jenis produk yang akan dihasilkan
  • Siswa membuat produk yang menyajikan berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial, dan budaya di Indonesia. Dari kegiatan ini, diperoleh data : Kelompok A (gaya belajar visual) akan membuat peta pikiran, kelompok B (Auditory) akan membuat lagu yang menggambarkan keberagaman. Dari kelompok C (gaya belajar kinestetik) akan menampilkan drama (bermain peran).
  • Siswa mengkonfirmasi pemahamannya terkait materi pokok

C. Penutup

  • Siswa dibimbing oleh guru untuk menarik kesimpulan
  • Siswa melakukan refleksi pembelajaran

Sumber dan Media Belajar

Bahan referensi terkait diferensiasi pembelajaran, video pembelajaran, podcast, dan teks percakapan untuk bermain peran

Penilaian

Untuk penilaian, guru dapat menyiapkan 3 rubrik yang berbeda untuk setiap produk yang akan dibuat oleh masing - masing kelompok.

Contohnya :

  • Penilaian peta pikiran, terdiri dari : alur berpikir yang sistematis, kejelasan informasi, tampilan visual / keterbacaan
  • Penilaian pembuatan lagu, terdiri lagi : makna lagu, pilihan kata, aransemen, dan musik pada lagu
  • Penilaian bermain peran / teks percakapan, terdiri dari : kesesuaian dengan topik, karakteristik pemain,  pengembangan ide cerita

Demikianlah contoh RPP berdiferensiasi yang dapat digunakan oleh guru. Semoga bermanfaat.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 ( Artikel ke 17)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur Kab. Sumba Tengah NTT

NPA : 10260901048

 

     

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, February 16, 2021

Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Bu Ansi adalah seorang guru kelas 4 SD. Hari itu, ia akan mengajar pelajaran matematika tentang luas  bangun datar. Bu Ansi mengamati bahwa siswa - siswa di kelasnya tampak kebingungan ketika mengerjakan soal latihan. Dari 20 siswa, hanya ada 3 siswa yang mampu menjawab soal latihan dengan benar.

Menurut Bapak/Ibu guru, apa yang mungkin menjadi penyebab situasi tersebut ?

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkannya, di antaranya : metode yang digunakan kurang bervariasi, media pembelajaran yang tidak mengaktifkan siswa, minimnya pengetahuan awal siswa terkait topik, dll.

Namun, jika dilihat akar masalah sebenarnya adalah pengetahuan guru terkait profil siswa. Profil siswa ini mencakup kesiapan belajar siswa, minat, dan preferensi gaya belajar. 

Kesiapan belajar siswa merupakan kondisi yang dialami siswa terkait pembelajaran. Sebagai contoh, ada siswa yang siap belajar tentang materi yang sulit, namun ada juga siswa yang membutuhkan waktu lama untuk mempelajari materipelajaran. Jika guru memiliki pemahaman yang baik tentang kesiapan siswa, maka guru bisa mengaitkan pikiran positif siswa tentang materi baru yang akan diajarkan serta potensi guru dalam proses pembelajaran menjadi lebih baik. Selain itu guru dapat mengenalkan dan melaksanakan konsep tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa, serta mengkreasikan tugas sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki.

Minat siswa dapat dimaknai sebagai bentuk kecenderungan siswa terhadap suatu topik. Sebagai contoh, ada siswa yang mempunyai minat terhadap bidang matematika, sains, olahraga, atau kesenian. Jika guru mempunyai pemahaman tentang minat siswa, maka guru dapat memacu motivasi siswa untuk belajar.

Preferensi gaya belajar adalah kecenderungan cara-cara tertentu yang digunakan siswa dalam memproses apa yang harus dipelajari. Preferensi belajar terdiri dari gaya belajar, kecerdasan dan preferensi lingkungan.

  • Gaya Belajar : merupakan gaya siswa untuk memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi
    baru. Preferensi gaya belajar terdiri dari pembelajar visual, auditori atau kinestetik

  • Kecerdasan : Merujuk pada Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) menurut Howard Gardner, ada delapan jenis kecerdasan, dimana setiap orang memiliki satu bahkan lebih jenis kecerdasan.
  • Preferensi Lingkungan :  merupakan pilihan gaya belajar yang ditentukan oleh lingkungan siswa itu sendiri. Misalnya, ada siswa yang suka belajar di ruangan kelas, ada yang suka belajar di luar kelas. Ada yang suka belajar di tempat yang sepi, ada juga yang suka belajar di keramaian.

Jika seorang guru ingin sukses mengajar, maka ia harus mengenali dulu profil siswanya. Sebab, sejatinya pembelajaran harus disajikan secara berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi secara singkat merupakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Hal ini juga sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang berpandangan bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Oleh sebab itu, guru harus menuntun mereka sesuai dengan kodratnya.

Pembelajaran berdiferensiasi juga selaras dengan arah pengembangan merdeka belajar. Di mana dalam konsep merdeka belajar terdiri dari : pemahaman akan profil siswa, kebutuhan siswa, persiapan guru dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi merupakan strategi umum yang dapat dikembangkan untuk mencapai merdeka belajar dalam rangka mewujudkan transformasi pendidikan di Indonesia.

Sedangkan, secara khusus, guru pun perlu menerapkan strategi - strategi pembelajaran yang berlandaskan prinsip  diferensiasi.

Strategi yang dapat dikembangkan oleh guru meliputi :

  • Diferensiasi konten :  pembelajaran dengan menyesuaikan materi pengetahuan, keterampilan, dan konsep yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum
  • Diferensiasi proses : suatu proses yang harus dilakukan murid yang memungkinkan mereka berlatih dan memahami isi materi
  • Diferensiasi produk : strategi memodifikasi dengan tagihan produk hasil belajar siswa dalam penerapan dan pengembangan apa yang telah dipelajari.

Selain strategi di atas, guru juga dapat memilih jenis strategi lain sebagai berikut :

  1. Choice Boards, yakni papan pilihan. Strategi ini digunakan untuk memajang dan mendemostrasikan
    semua karya siswa.
  2. Pusat belajar, yakni penyediaan pusat-pusat kegiatan di kelas dan sekolah. Aktivitas pusat kegiatan dilakukan berdasarkan kesiapan, minat dan preferensi belajar siswa.
  3. Kontrak belajar, guru dan siswa membuat perjanjian tertulis tentang tugas yang harus diselesaikan. Perjanjian tersebut mencakup tujuan pembelajaran dan kriteria penilaian. Kontrak tersebut ditulis dalam bahasa yang ramah siswa.
  4. RAFT, singkatan dari Role, Auidence, Format, Topik. Siswa memilih opsi atau guru memilihkan untuk mereka. Siswa membaca kolom untuk mempelajari peran yang akan mereka asumsikan, audiensi yang akan mereka bahas, format di mana mereka akan melakukan pekerjaan, dan topik yang akan mereka eksplorasi. Sebagai contoh, seorang siswa dapat berperan sebagai tokoh sejarah yang berbicara kepada audiens pada era tertentu. Siswa mungkin mengembangkan pidato atau esai tentang topik yang relevan dengan topik itu dalam sejarah.
  5. Tiering, yakni pemberian tugas secara berjenjang yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan siswa. Guru dapat memilih tugas setelah melakukan asesmen. Tugas tersebut harus mengandung unsur rasa memiliki, menarik, menantang bagi siswa. Tiering ini bisa diberikan dalam mata pelajaran matematika.

Berikut ini adalah contoh pembelajaran berdiferensiasi : https://drive.google.com/drive/folders/1nBX4tVO2I8lNmpWL_VKXh8RsBdhRBXDF

 

Sumber :

http://repository.unp.ac.id/23547/1/2019%20Buku%20Panduan%20Model%20Pembelajaran%20Berdiferensiasi%20di%20sekolah%20inklusif.pdf

Sekolah Cikal

 

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel 16)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

Monday, February 15, 2021

Menumbuhkan Karakter Siswa Melalui Komik Digital

 

Dunia anak - anak adalah dunia bermain yang penuh dengan keceriaan dan imajinasi. Terkadang, sebagai seorang guru, kita belum maksimal untuk mengerti dan memahami karakteristik mereka. Khususnya bagi guru Sekolah Dasar (SD).

Menurut Piaget, dalam Teori Perkembangan Kognitif, usia SD masuk pada tahap operasional konkret, di mana anak mampu berpikir logis, memahami konsep percakapan, mengorganisasikan objek ke dalam klasifikasi, mampu mengingat, memahami dan memecahkan masalah yang bersifat konkret.

Seorang guru SD hendaknya menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif seperti yang dimaksud di atas, agar anak dapat mengikuti pembelajaran secara maksimal dan memperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan.

Strategi Pembelajaran yang Efektif

Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif siswa SD, yaitu:

  1. Gunakan benda-benda konkret, seperti : biji - bijian untuk berhitung, model bangun datar dan bangun ruang, planetarium, dll.
  2. Sajikan pembelajaran dengan alat visual, seperti : gambar, slide presentasi, video, dll.
  3. Mulailah dari contoh- contoh yang akrab dengan anak, dari sederhana menuju kompleks.
  4. Penyajian yang padat dan terorganisasi, seperti penjelasan mengenai langkah - langkah pengerjaan praktek, dll
  5. Latihan memecahkan masalah secara konkret, selalu hubungkan konten pelajaran dengan konteks dunia nyata yang mereka hadapi.

Benda - benda konkret dan visual merupakan media pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi siswa. Benda - benda ini tersedia di sekitar kita, mudah didapatkan dan gratis. Namun, ada juga di antaranya media pembelajaran yang perlu usaha lebih untuk mendapatkannya, misalnya Alat Peraga Edukasi (APE) atau yang disebut juga KIT Pembelajaran.

Komik Digital Sebagai Media Pembelajaran

Dengan merebaknya penggunaan TIK sebagai sarana belajar, media pembelajaran berkembang menjadi media pembelajaran digital.

Berbagai software pembelajaran sudah dapat dijalankan untuk mendukung penyampaian materi pembelajaran. Guru - guru pun antusias dalam mencoba berbagai aplikasi dan platform pembelajaran kekinian.

Salah satu di antaranya yang sangat menarik adalah komik digital pembelajaran.

Menurut Rusman (2013:173),media pembelajaran dapat dikatakan menarik apabila menimbulkan keingintahuan lebih lanjut dan rasa penasaran, sehingga memunculkan dorongan lebih tinggi untuk belajar aktif dan mandiri. Jadi media pembelajaran komik digital merupakan media yang sangat menarik.

Kelebihan dan Kekurangan Komik Digital

Sebagai sebuah media pembelajaran, komik digital mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

Kelebihannya : menyajikan konsep abstrak menjadi lebih nyata melalui unsur visual / gambar, meningkatkan minat siswa untuk membaca, mengembangkan imajinasi pembuat dan pembacanya, meningkatkan perbendaharaan kata, mengungkapkan ekspresi, mengurangi penggunaan kerta, awet / tahan lama, mudah diperoleh / diakses, mudah dikembangkan dari segi isi, dll.

Kekurangannya : membutuhkan keterampilan penggunaan TIK, membutuhkan sarana yang canggih, membutuhkan kuota internet untuk membukanya, membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya karena harus banyak mengedit.

Pengembangan Komik Digital

Selain digunakan sebagai media pembelajaran untuk menyerap berbagai konten materi, komik digital juga dapat menjadi media untuk menumbuhkan karakter siswa untuk menjadi profil pelajar Pancasila.

Nilai karakter sangat penting diajarkan kepada siswa, di samping konten materi pembelajaran. Hal ini pula yang menjadi fokus pengembangan Kurikulum 2013 yaitu pencapaian kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial.

Ada langkah - langkah yang harus dilakukan oleh guru untuk mengembangkan karakter siswa melalui komik digital, yaitu:

  1. Menganalisis kebutuhan / tujuan pembelajaran berdasarkan nilai karakter yang akan dikembangkan. Contohnya : beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
  2. Membuat story board berisi naskah sederhana komik yang akan dibuat
  3. Menentukan jenis aplikasi pembuat komik digital yang akan digunakan. Guru dapat memilih beberapa aplikasi pembuat komik online maupun offline, seperti : canva, comic life, pixtoon, comic strip, dll. Beberapa di antaranya bisa diinstal dan digunakan langsung dari HP Android.
  4. Membuat komik digital sesuai aplikasi yang sudah dipilih sebelumnya.
  5. Membagikan link komik digital pada siswa melalui grup WA kelas atau blog / website sekolah, dan bisa juga dibagikan dalam bentuk pdf.
  6. Meminta siswa membuat resume sederhana berupa pesan moral  dari isi komik yang mereka baca.

Cara Membuat Komik Digital

Pada langkah pengembangan komik digital, diharapkan agar guru mampu membuat komik digital agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mengembangkan nilai karakter siswa.

Berikut ini adalah cara membuat komik digital dengan menggunakan aplikasi Canva. Alasan saya membuat komik dengan menggunakan Canva adalah sangat mudah digunakan boleh pemula, sudah disediakan template komik, dapat dibuat hanya dengan menggunakan HP Android saja.

Langkah - langkahnya sebagai berikut:

  1. Buka aplikasi Canva atau bisa klik link berikut https://www.canva.com/
  2. Daftar akun Canva jika belum mempunyai dengan akun gmail
  3. Ketik "komik" pada bagian search
  4. Pilih salah satu template komik yang disediakan. Contohnya : https://www.canva.com/design/DAEWMN8HVBs/kKGog_OPJl-ACNYx-6KV7A/edit?layoutQuery=komik
  5. Edit bagian percakapan pada template yang dipilih dengan kalimat yang ingin kita tulis
  6. Hilangkan atau tambahkan elemen (gambar, bentuk, dll) pada template komik
  7. Kurangi atau tambahkan halaman pada template  komik digital
  8. Klik Unduh di bagian kanan atas untuk menyimpan komik yang sudah kita buat. Komik akan tersimpan dalam format pdf.
  9. Agar lebih menarik, sebaiknya ubah format pdf menjadi HTML 5 melalui website https://www.flipsnack.com/
  10. Sematkan (embed) link dari Flipsnack.com ke blog / website. Baca kembali caranya DI SINI

Berikut ini adalah contoh komik digital yang saya buat : 

 

 

Sumber : 

Rusman. (2013). Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta

https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/?page_id=2817  

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 15)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

     

Sunday, February 14, 2021

Flipsnack, Era Baru Buku Anak

 



Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di bidang pendidikan memunculkan banyak perubahan dalam sistem pembelajaran.

Pemanfaatan berbagai platform pembelajaran daring, aplikasi pendukung pembelajaran, serta mindset pembelajar digital berkembang dengan pesat.

 

Era Baru Buku

Buku sebagai salah satu sumber belajar, juga mengalami perubahan bentuk. Dari buku cetak secara fisik menjadi buku dengan format digital.

Saat ini, siswa dapat dengan mudah memanfaatkan ribuan buku digital yang tersedia di internet. Bukan hanya buku teks pelajaran, buku cerita, novel, cerpen, dongeng, dll, juga tersedia.

Kondisi saat ini pula yang memunculkan lahirnya era baru buku bagi anak. Di mana sebelumnya kita harus mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku, namun kini, cukup dari rumah saja, mereka bisa membaca buku yang mereka inginkan. Dan cukup dengan menggunakan gawai.

Salah satu penyedia layanan buku digital adalah Portal Rumah Belajar. Buku - buku teks pelajaran dapat diakses melalui link berikut  https://bse.belajar.kemdikbud.go.id/ 

Bukan hanya menyediakan buku teks pelajaran / Buku Sekolah Elektronik (BSE), portal Rumah Belajar juga menyediakan beragam buku non teks pada salah satu fiturnya, yaitu Karya Bahasa dan Sastra. Beragam dongeng, cerita rakyat, dan bahan bacaan lainnya dapat diakses melalui link berikut https://belajar.kemdikbud.go.id/BahasaSastra 

 

Peran Guru Dalam Era Baru Buku

Dengan adanya buku - buku digital, maka guru dituntut untuk lebih kreatif. Bukan hanya mampu memanfaatkan, namun juga mampu untuk membuatnya.

Ada beragam cara untuk membuat buku digital, seperi cara yang paling mudah yaitu dengan mengkonversi file word menjadi format pdf.

Namun, jika hanya dikonversi seperti itu, ada yang kurang. Sensasi membaca buku yang umumnya menarik adalah ketika pembaca dapat membolak - balik halaman buku yang dibacanya.

Perhatikan contoh berikut:

https://belajar.kemdikbud.go.id/BahasaSastra/Repositorys/Ragam%20Jejak%20Sunyi%20Tsunami/

Apakah Bapak/Ibu merasakan sensasi berbeda ketika membaca buku digital pada contoh di atas ?

Jika kita menyajikan buku digital dengan format flip (bolak - balik) seperti contoh di atas, pasti siswa akan merasa lebih tertarik untuk membaca bahan bacaan yang kita sarankan pada mereka.  Apalagi jika dibandingkan dengan membaca bahan bacaan biasa dalam format pdf.

 

Cara Membuat Buku Digital

Untuk membuat buku digital dengan format flip (bolak - balik), kita dapat menggunakan beberapa software, seperti NceSoft Flip Book Maker, Kvisoft Flip Book Maker, dll. Selain dengan menggunakan software, kita juga bisa membuat buku digital dengan mengakses website Flipsnack.com   

Berikut ini adalah langkah - langkah membuat buku digital dengan Flipsnack:

  1. Buka website https://www.flipsnack.com/
  2. Sign in dengan menggunakan akun gmail / facebook
  3. Siapkan file pdf yang akan diubah menjadi format HTML 5 (format Flip)
  4. Upload file Pdf , tunggu proses upload selesai, lalu klik NEXT                                                     
  5. Klik save and share di bagian kanan atas, lalu lengkapi title, description, dan klik visibility nya untuk di set public. Kemudian klik publish.                                                                                       
  6. Klik copy untuk menyalin link buku digital dan bisa dibagikan ke media sosial atau WA Grup Kelas.
  7. Jika ingin menyematkan (embed) link buku digital ke blog, terutama blogger, caranya : Klik Embed lalu copy link embed. Kemudian, login ke blogger dan buka area menulis (HTML) kemudian paste link embednya.                                                                       
  8. Klik publikasikan postingan di blog dan bagikan link postingan tersebut.

Berikut ini adalah contoh Buku Digital yang saya buat dengan menggunakan Flipsnack.com 

  

 

Kesimpulan : Perkembangan IPTEK di bidang pendidikan telah membawa era baru buku bagi anak. Untuk menyikapi hal ini, guru harus kreatif untuk membuat buku digital, contohnya dengan mengakses http://www.flipsnack.com.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 14)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048