Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, August 18, 2021

Seputar Pertanyaan Kelengkapan Naskah Buku

 

Hallo, sahabat Cikgu Tere. Sudah lama tak bersua di ruang baca ini, ya. 

Untuk postingan kali ini, saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para peserta kegiatan belajar menulis melalui WA yang dibina oleh Om Jay dkk. 


Sebelum menjawab pertanyaan - pertanyaan yang diajukan tersebut, alangkah baiknya kita lihat kembali materi tentang Kelengkapan Naskah Buku berikut ini: 

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab selama kegiatan belajar berlangsung: 

Pertanyaan    : Apakah ada batasan berapa kata dalam penulisan pra kata dan kata pengantar? 

Jawaban        : Untuk batasan jumlah kata, sepertinya tidak ada. Namun, bisa dijadikan patokan bahwa penulisan pra kata lebih efektif jika dituliskan dalam satu halaman (biasanya ukuran A5) untuk buku. Sedangkan untuk penulisan kata pengantar, bisa lebih dari satu halaman. Bahkan bisa sampai 2 - 3  halaman. 

Pertanyaan    : Apa stressing dari pra kata dan kata pengantar? 

Jawaban        : Sebenarnya saya kurang memahami arti kata stressing di sini, namun mungkin dapat diartikan sebagai fokus / penekanan dari pra kata dan kata pengantar itu sendiri. Untuk pra kata, fokusnya adalah ungkapan hati penulis, biasanya berisi ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantunya. Sedangkan kata pengantar, fokusnya pada pengantar yang dituliskan oleh orang yang ahli atau senior terkait isi buku. 

Pertanyaan    : Mengenai pembeda prakata dengan kata pengantar disebutkan salah satunya adalah pra kata digunakan dalam karya ilmiah dan kata pengantar ditulis orang lain. Bukankah dalam skripsi, tesis, disertasi menggunakan istilah kata pengantar, bukan pra kata? 

Jawaban        : Memang dalam karya ilmiah seperti skripsi, tesis, disertasi, digunakan istilah kata pengantar, walaupun isinya sebenarnya pra kata karena mengungkapkan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut membantu penyelesaian karya ilmiah tersebut. Selama ini, masih banyak orang yang keliru dalam memaknai, namun karena faktor kebiasaan maka istilah kata pengantar ini tetap digunakan dalam penulisan karya ilmiah. 

Pertanyaan    : Saat membuat buku, apakah pra kata dan kata pengantar juga dibuat dalam satu buku tersebut? 

Jawaban        : Biasanya hanya satu saja, yaitu kata pengantar. Namun, ada juga beberapa buku yang menyertakan keduanya. Seorang penulis harus memastikan dulu kelengkapan naskah yang dimaksud/yang diminta oleh penerbit yang akan menerbitkan dan mencetak bukunya. 

Pertanyaan    : Kapankah sebuah tulisan/bukku harus menggunakan sinopsis atau blurb? 

Jawaban        : Biasanya untuk jenis buku fiksi menggunakan blurb, sedangkan buku non fiksi menggunakan sinopsis. 

Pertanyaan    : Bagaimana langkah - langkah membuat sinopsis dengan mudah dan cepat? 

Jawaban        : Untuk membuat sinopsis yang mudah dan cepat, gunakan outline dari setiap bab. Outline yang baik mengikuti aturan 5 W + 1 H. Sehingga, sinopsis harus dapat menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut. Jika outlinenya ada 5 bab, maka sinopsisnya juga harus menggambarkan isi 5 bab tersebut secara utuh, namun lebih ringkas. 

Pertanyaan    : Apakah kata pengantar dan pra kata wajib dalam sebuah buku? Saya pernah lihat buku orang lain (buku 1 cuma ada pra kata, kata pengantar tidak ada), (buku 2 pra kata tidak ada, kata pengantar tidak ada tetapi ada selayang pandang/ sekapur sirih) bisakah seperti itu? 

Jawaban        : kelengkapan naskah buku biasanya ditentukan oleh penerbit. Bisa saja terjadi seperti buku 1 dan buku 2. Hal ini juga terkait jenis bukunya. 

Pertanyaan    : Kalau kita mengadakan endorsmen (sering ditulis 'kata mereka' dalam buku kita, letaknya di mana, di awal atau di akhir naskah buku kita? 

Jawaban        : Ini disebut juga testimoni. Biasanya letaknya di akhir buku. Bisa di bagian cover belakang buku atau di bagian dalam buku. 

Pertanyaan    : Apakah miss pernah mengalami mental blocking saat mengembangkan outline? Bagaimana cara terbaik mengatasinya? 

Jawaban        : Sebagai penulis pemula, tentu saya pernah mengalaminya. Cara terbaik yang saya lakukan adalah dengan melihat berbagai referensi terkait topik yang saya bahas di outline tersebut. Inilah keuntungannya jika kita sudah mempunyai outline. Ketika tiba - tiba kita mengalami kebuntuan ide, kita bisa istirahat dulu dan menggunakan waktu istirahat sebaik dan seefektif mungkin tanpa takut gagasan kita berikutnya tidak nyambung dengan sebelumnya. 

Pertanyaan    : Menurut Miss Tere, bagaimanakah cara menentukan judul buku agar menarik pembaca? 

Jawaban        : Silakan, bisa membaca artikel berikut ya, untuk jawabannya. Lima Judul Tulisan yang Menarik Minat Pembaca

Pertanyaan    : Saya adalah seorang sarjana Sains Fisika, yang kurang terampil menguraikan ide menjadi sebuah tulisan yang indah. Apakah perlu meningkatkan kualitas pendidikan menjadi Magister dst agar tulisan kita berbobot dan dapat dipercaya? Atau perlu menjadi juara menulis dulu? Atau maju saja dulu? 

Jawaban        : Mentor saya pernah berkata, menulislah dari apa yang Anda sukai dan Anda kuasai. Kualifikasi pendidikan memang akan sangat mendukung apa yang akan kita tuliskan. Tetapi bukan semata - mata kita bisa menulis jika kita mempunyai kualifikasi pendidikan yang tinggi. Untuk menghasilkan tulisan yang berbobot dan dapat dipercaya, setidaknya kita menulis berdasarkan kajian yang tepat. Ada landasan atau ada sumber terpercaya yang kita jadikan rujukan, bukan sekedar opini. Terutama jika kita menulis buku non fiksi. Terkait juara menulis, itu adalah hal yang baik. Namun, jika kita tidak mulai menulis, kapan kita bisa menjadi juara? Jadi, kesimpulannya, menulis saja dulu. Kita sudah punya media blog, silakan manfaatkan blog kita sebagai media berlatih menulis. 

Nah, sahabat Cikgu Tere, demikianlah pertanyaan dan jawaban yang saya posting dalam artikel ini. Semoga para sahabat, khususnya peserta kegiatan belajar menulis mendapatkan manfaat dari postingan ini. 

Jika masih ada pertanyaan yang lain terkait topik ini, silakan tuliskan di kolom komentar,ya. 

Salam Literasi. 

Wednesday, May 5, 2021

Katakan "Ya, Saya Bisa" dan Lihat Hasilnya


Hari ini saya mendapat pengalaman berharga yang ingin saya bagikan untuk sahabat Cikgu Tere.

Pengalaman ini saya peroleh melalui cerita dari seorang teman seperjalanan di Bandara Soekarno Hatta.
Beliau bernama Pak Mujiono. Beliau berasal dari Pacitan dan saat ini bekerja di bidang swasta di Kota Pekanbaru.

Ada hal menarik dari Pak Mujiono. Beliau mengajak seorang WNA untuk berkomunikasi. Walaupun dari segi kemampuannya, beliau mengatakan pada saya bahwa beliau kesulitan untuk berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Tapi, beliau tidak mempermasalahkan hambatan tersebut. Pak Mujiono terus saja berbicara kepada WNA tersebut. Dan point yang dibicarakan oleh Pak Mujiono adalah mengenai obyek wisata alam yang ada di daerahnya (Pacitan).

Beliau dengan bangganya menceritakan tentang keindahan obyek wisata alam di sana. Sehingga membuat WNA tersebut tertarik dan mengatakan bahwa suatu saat pasti WNA tersebut akan mengunjungi Pacitan.

Berkali - kali, Pak Mujiono menanyakan pada saya tentang vocabullary yang akan digunakannya. "Mbak, apa sih Bahasa Inggrisnya gua?" Tanya beliau pada saya. Lalu saya pun menjawabnya.

Pak Mujiono kemudian menjelaskan lagi bahwa keindahan alam di Pacitan sebenarnya lebih bagus dibandingkan dengan di Bali. Hanya yang lebih terkenal adalah Bali. Tapi beliau menjelaskannya pakai Bahasa Jawa.

Saya pun tersenyum. Lalu, saya menerjemahkannya. Pak Mujiono heran, kok saya bisa mengerti Bahasa Jawa juga ? Mungkin begitu pikirnya.

Lalu, Pak Mujiono bertanya pada saya. "Mbak, mau ke mana?". Saya jawab "Ke NTT, Pak." "Wah, sampeyan hebat. Bisa ngerti Bahasa Inggris,"katanya. Saya pun kembali tersenyum.

"Puji Tuhan, saya pernah mengikuti short course ke luar negeri, Pak. Saat itu tahun 2019 saya belajar di Malaysia." Saya pun menjelaskan pada beliau.

"Wah, hebat, Mbak," pujinya lagi.
"Terima kasih, Pak. Ya, doakan saja karena saat ini saya juga sedang belajar untuk program beasiswa dari Australia." Ungkap saya.

Pak Mujiono mengangguk - anggukan kepala sambil tersenyum. Saya pun gantian memuji beliau. "Bapak, saya kagum sama Bapak  karena Bapak sangat percaya diri ketika berkomunikasi dengan orang asing (bule)."

Hal ini secara jujur saya ungkapkan kepada beliau. Karena inilah yang sering saya rasakan. Saya kurang percaya diri ketika harus berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris kepada native speaker (orang bule).

Saya pun berulang kali menarik nafas dalam - dalam dan mencoba menantang diri saya untuk berkomunikasi dengan bule tersebut. Lalu, saya pun mendapat momen yang tepat, ketika bule tersebut menghampiri Pak Mujiono.

"Have you ever been to Nihiwatu?" Tanya saya pada bule itu. "Nihiwatu, what is that?" katanya.
"Ohh, Nihiwatu is one of the best resort. It is located at Sumba Island which is at East Nusa Tenggara Province." Saya pun mencoba menjelaskan.

"I suggest you to go there, because many foreigner around the world have came there." Saya pun menambahkan informasi.

"This is the first time for me to go to Indonesia. I come to Bali for work. Besides, I need to find something for my work. But, thanks. I will go there," jawabnya.

Saya pun merasa senang karena akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan bule tersebut. Pak Mujiono tampak memerhatikan kami ketika bercakap - cakap.

"Mbak, saya tuh zaman SMP belajar Bahasa Inggris. Habis itu nggak dipraktekkan lagi," jelasnya. "Tapi saya salut sama Bapak. Bapak punya rasa percaya diri yang tinggi." Saya kembali memujinya.

Namun, percakapan kami harus terhenti karena beliau harus berganti tempat tunggu pesawat ke gate yang lain. Pak Mujiono pun berpamitan kepada kami. Setelah itu, saya pun lantas bersiap. Karena tiba giliran kami untuk boarding.

Sekarang, saat menulis ini, saya sedang berada di dalam pesawat. Saya bergegas membuka aplikasi andalan saya yaitu Color Note dan mulai flash black pengalaman beberapa saat yang lalu bersama Pak Mujiono dan bule tersebut (saya tidak menanyakan namanya).


Saya merasa bahwa pengalaman ini layak untuk dibagikan kepada para sahabat Cikgu Tere. Tujuannya agar dapat menginspirasi dan memotivasi kita semua, terutama para guru, sahabat Cikgu Tere yang mengalami hambatan dalam perjuangan mencapai kesuksesannya.

Sebagai guru, berkali - kali saya mengikuti kegiatan internasional yang mempersyaratkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Salah satunya sudah saya ceritakan di buku ke 3 saya yang berjudul "Bukan Guru Biasa".

Ketika saya mengimbaskan hasil kegiatan ini, teman - teman saya mengatakan mereka kesulitan belajar Bahasa Inggris. Dan tiba - tiba, saya pun teringat dengan anak saya di rumah.

Di umurnya sekarang yaitu 4 tahun, anak saya punya kebiasaan menonton TV. Tayangan kesukaannya adalah "Blaze and Monster Machine". Film anak - anak ini ditayangkan oleh saluran Kids TV (TV Berbayar).

Sebagai saluran TV asing, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Jadi, secara tidak langsung, anak saya pun belajar Bahasa Inggris. Di samping itu, dia juga senang menonton youtube dan melihat video berbahasa Inggris.

Akhirnya anak saya pun mencoba mengajak kami, orang tuanya untuk berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Saya merasa sangat terkesan dengan keterampilannya itu. Dia bahkan mengenal berbagai macam vocabullary yang biasanya baru diperkenalkan bagi anak - anak SD atau bahkan SMP.

Kerap kali dia bertanya pada saya tentang vocabullary dalam Bahasa Inggris. Terutama ketika dia menemukan hal baru yang belum diketahuinya. Terkadang, malah saya juga tidak bisa menjawabnya. Lalu, saya pun mengarahkannya untuk menggunakan fitur Google Voice" untuk menjawab keingin tahuannya tersebut.

"Apa Bahasa Inggrisnya buah salak?" tanyanya. Hal ini dia tanyakan ketika dia melihat buah salak yang dibawakan oleh adik dari adik ipar kami.

Setelah dia mengetahui cara bertanya pada "Google Voice", dia pun sering meminta izin untuk memakai HP saya. Saya pun tertawa melihat kelucuannya itu. Karena kadang - kadang, bicaranya berulang - ulang dan terlihat sedikit kesal ketika pertanyaannya tidak dikenali oleh google.

Baik Pak Mujiono maupun anak saya sendiri, adalah contoh baik bagi kita untuk berani dan percaya diri dalam menghadapi tantangan dan hambatan, terutama saat berkomunikasi dengan bahasa asing. Banyak keuntungan ketika kita bisa berkomunikasi dengan Bahasa Asing. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya.

Tinggal katakan saja, "Ya, saya bisa." Dan semua jalan menuju kesuksesan akan terbuka. Ibarat pepatah "There is a will, there is a way."

Semoga sharing pengalaman ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Written from 30.000 metres above sea level at ID 6061 Jakarta - Denpasar.


Sunday, May 2, 2021

Bangun Lebih Pagi, Sebuah "Self Drive" Menuju Kesuksesan

Sejak kecil orang tua saya berpesan agar saya membiasakan diri dengan bangun pagi. Alasannya biar rezekinya tidak keburu dipatuk ayam. Karena kalau hidup di kampung, para ayam yang biasanya berkokok saat pagi seolah membangunkan semua makhluk yang tertidur dengan lelap. 

Pesan ini selalu saya ingat, bahkan sampai sekarang. Saya juga berusaha mendidik anak saya dengan hal yang sama. Karena saya ingin anak saya juga mempunyai kebiasaan yang sama. 

Secara sederhana, memang banyak keuntungan jika kita memiliki kebiasaan ini. Badan terasa lebih segar dan bugar serta kita dapat melakukan banyak hal tanpa terburu - buru. 

Namun, apakah saya selalu dapat melakukan hal ini ? Jawabannya tentu saja tidak. Apalagi jika hari libur. Tubuh ini sepertinya terformat untuk sedikit bermalas - malasan. Alih - alih bangun lebih pagi, meskipun alarm sudah berbunyi, saya malah kembali menyelimuti tubuh dan bangun untuk sekedar mematikan alarm. 

Saya rasa ini adalah hal yang manusiasi, sebab tubuh kita juga tidak selalu berada dalam kondisi prima. Aktivitas melelahkan di hari sebelumnya "memaksa" tubuh untuk membayarnya dengan istirahat ekstra. 

Tapi, kembali lagi pada topik sebelumnya. Bahwa membangun kebiasaan bangun lebih pagi sangat menguntungkan. Saya dan teman saya sudah membuktikannya. 

Hari ini, saya dan teman melakukan perjalanan ke Jakarta. Sebelumnya, kami berangkat dari Bandara Tambolaka menuju Bali dan menginap satu malam di Bali (transit).

Penerbangan ke Bali berjalan dengan lancar sesuai jadwal. Kami pun dapat beristirahat beberapa jam dengan menginap di salah satu hotel di dekat bandara. 

Pukul 04.00 Wita saya terbangun dan sadar bahwa hari ini harus berada di bandara Bali pada Pkl. 07.00 karena waktu boarding Pkl. 09.30 Wita. Saya memperkirakan waktu tersebut berdasar pengalaman saat check in dalam penerbangan sebelumnya dari Bandara Bali. 

Dengan adanya kondisi perlakuan khusus bagi para pelaku perjalanan, maka pihak bandara akan melakukan proses validasi hasil rapid antigen sebelum penumpang dapat melakukan check in di counter check in seperti biasanya. Hal ini tentu saja memakan waktu apalagi jika dalam saat bersamaan banyak penumpang lain yang akan melakukan proses validasi dan check in

Pkl. 06.00 Wita saya mandi dan sempat makan kue untuk mengisi perut. Setelah itu Pkl. 07.00 kami pun menuju bandara. Sebuah insiden kecil pun terjadi. Ternyata teman saya mengalami kendala teknis di hasil rapid test. Akibatnya dia harus menjalani pemeriksaan rapid test ulang di bandara. 

Saya pun menyelesaikan proses check in di counter self check in dengan bantuan petugas sambil menunggu teman saya melakukan rapid test ulang. 

Cukup lama saya menunggunya. Saya pun melihat jam sudah menunjukkan Pukul 08.00 Wita. Harusnya saya sudah duduk manis di Gate 2. Namun, saya putuskan menunggu teman saya dan bersama - sama menuju pintu keberangkatan. 

Pukul 08.15 Wita, teman saya terlihat memasuki counter check in. Saya pun merasa lega. Kami masih punya cukup waktu untuk berjalan menuju pintu keberangkatan pesawat di Gate 2. Bahkan saat ini saya pun masih sempat menulis cerita ini sambil beristirahat di Gate 2 dan menunggu waktu boarding

Tidak terbayang, jika tadi saya bangun terlambat, pasti tidak sempat makan dan bahkan terlambat untuk check in. Atau bisa juga tertinggal penerbangannya. 

Teman saya pun berterima kasih karena saya mengajaknya untuk check in lebih awal di bandara sehingga insiden yang dialaminya tidak menjadi lebih buruk dampaknya. 

Apakah sahabat Cikgu Tere juga pernah mengalami insiden serupa ? Nyaris gagal karena salah mengatur waktu atau bahkan pernah mengalami suatu kejadian tidak menyenangkan hanya karena terlambat bangun ? 

Jika sahabat pernah mengalaminya, saya yakin sahabat pasti tidak ingin mengulanginya lagi. Oleh karena itu, sesuai judul artikel ini, saya rasa kita bisa menyepakati bahwa kebiasaan sederhana seperti bangun lebih pagi akan membawa kita menuju kesuksesan. 

Lantas bagaimana hal ini dihubungkan dengan peran kita sebagai guru? Seorang guru tentunya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. 

Persiapan di sini bukan hanya dipandang dari segi administrasi berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dll. Melainkan lebih kepada menyiapkan berbagai soft skill yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran. 

Tanggung jawab utama keberhasilan pendidikan memang ada pada pundak siswa. Namun, guru perlu menyadari bahwa sebagai seorang pendidik, guru harus menuntun siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya agar mencapai tujuan yang diharapkannya. 

"Bangun lebih pagi" bagi seorang guru bukan hanya tentang mengatur waktu yang sesungguhnya. Namun, lebih kepada perubahan pola pikir dan perilaku guru itu sendiri. Upaya jemput bola sebagai sebuah solusi untuk perubahan paradigma pendidikan perlu dilakukan oleh guru. 

Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan tekad dan semangat dari guru itu sendiri. Sehingga pada saat berada di tengah kondisi yang tidak mendukung, guru diharapkan sudah siap untuk mengatasinya dan mencapai kesuksesan. 

Contoh sederhana adalah ketika gaung Guru Pembelajar mulai terdengar, banyak guru yang termotivasi untuk mengikuti berbagai kegiatannya. Namun, ada juga guru yang masih enggan keluar dari zona nyamannya. 

Penggunaan tool - tool pembelajaran yang interaktif serta pemanfaatan TIK dalam melakukan inovasi di bidang pendidikan sudah terlebih dahulu dibahas dalam berbagai kegiatan pelatihan guru yang diselenggarakan oleh berbagai pihak. 

Saya sendiri secara rutin mengisi waktu istirahat di rumah untuk mengikuti berbagai kegiatan online, bahkan jauh sebelum pandemi menyerang bumi pertiwi. 

Hal inilah yang diharapkan dari seorang guru. Mental yang tangguh, berani mencoba hal baru dan menaklukan tantangan dengan terus belajar, belajar, dan belajar. 

Inilah sikap dan penghayatan untuk  "bangun lebih pagi" bagi seorang guru. Sehingga di saat sekarang, di mana pembelajaran dilakukan dengan pola PJJ, guru yang "bangun lebih pagi" sudah siap untuk mengelolanya dengan lebih baik. 

Jadi, pesan Cikgu Tere bagi para sahabat adalah mari manfaatkan waktu seefektif mungkin. Bangunlah kebiasaan - kebiasaan kecil dan sederhana namun berdampak luar biasa terhadap perjuangan kita menuju kesuksesan. 

Salam perubahan, bergerak dan terus belajar. 





Saturday, May 1, 2021

Memaknai Hari Pendidikan Nasional 2021

Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2021, Mas Menteri menegaskan tentang pentingnya semangat berkolaborasi yang dilandasi prinsip silih asah, silih asih, silih asuh. 

Pesan ini dikemukakan sebagai bentuk pemaknaan terhadap upaya dan kerja keras Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam mewujudkan Merdeka Belajar di bumi pertiwi sebagai bentuk transformasi pendidikan. 

Merdeka belajar hendaknya dimaknai oleh setiap guru, orang tua, dan siswa dengan tepat sehingga dalam hal ini dibutuhkan suatu kesadaran untuk bergotong royong dalam rangka memberikan ruang belajar seluas - luasnya bagi para siswa. Agar mereka dapat menggali setiap potensi yang dimilikinya serta mengembangkan bakat, minat, dan berbagai jenis keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi aneka tantangan dalam kehidupan sehari - hari di abad 21. 

Siswa perlu diberikan stimulus dalam belajar dengan cara - cara yang beragam sesuai karakteristik mereka masing - masing. Karena sesungguhnya peran guru adalah ibarat petani yang menyemai benih. Siswa harus bahagia dalam proses pembelajarannya dan menyadari bahwa belajar adalah suatu bentuk kebutuhan individu. 

Di tengah suasana pandemi, ungkapan "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah" menjadi sebuah pengikat makna tentang perubahan pola pikir dan perilaku tri pusat pendidikan itu sendiri. 

Guru harus senantiasa belajar untuk mengupgrade profesionalitasnya, khususnya melalui adaptasi dan aplikasi TIK dalam pembelajaran di abad 21. Orang tua juga diharapkan mampu mendampingi siswa saat belajar di rumah, di samping berkewajiban pula memberikan berbagai akses terkait kebutuhan siswa. 

Sementara siswa sendiri sebagai subyek pembelajaran berkewajiban untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar di sekitarnya. Untuk meningkatkan keterampilan abad 21 seperti : berpikir kritis, berkolaborasi, kreatif, dan berkomunikasi. Selain itu, siswa juga perlu memiliki keterampilan di bidang literasi dan numerasi, HOTS, keterampilan terkait problem solving dan penguatan pendidikan karakter. 

Peran masyarakat pun tidak lepas dari upaya transformasi pendidikan. Karena masyarakat merupakan lingkungan belajar bagi siswa. Di mana di dalamnya tersedia berbagai daya dukung pembelajaran. Khususnya lingkungan alam, sosial, dan budaya. 

Jika kita berkaca pada peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2020, ada sebuah pertanyaan yang dapat kita refleksikan, yaitu: Apa yang sudah kita pelajari dari covid 19 ? 

Sedangkan pada momen Hardiknas 2021 ini, kita diharapkan untuk bangkit dari nuansa ketidakberdayaan akibat covid 19. Dan usaha ini membutuhkan kerelaan dari kita masing - masing untuk berkolaborasi dengan orang lain. 

Mas Menteri menyampaikan bahwa kolaborasi yang dimaksud adalah untuk saling memintarkan dan menghargai. Oleh karena itu, hendaknya guru pun menyingkirkan istilah "superior" dalam interaksinya bersama pihak lain. 

Dalam pembelajaran, hendaknya tidak menggunakan istilah senior dan junior. Atasan dan bawahan. Hindari kata - kata intimidasi yang dapat mengkerdilkan setiap bakat, minat, dan potensi yang siswa miliki. Sebaliknya junjung tinggi apresiasi dan berikan ruang seluas - luasnya bagi siswa untuk menikmati kemerdekaannya dalam belajar. 

Akhirnya, saya ingin mengutip kalimat sakti yang menjadi moto dari Komunitas Belajar Guru Penggerak (KBGP) yaitu: belajar, bergerak, berbagi untuk negeri. 

Semoga kita terus mengobarkan nyala api perjuangan kita secara serentak agar merdeka belajar bukan hanya menjadi cita - cita milik generasi bangsa. Namun terwujud dalam bentuk pembelajaran yang ideal bagi generasi milenial yang gemilang. 

Selamat Hari Pendidikan Nasional. 

Sunday, February 28, 2021

Menulis Buku dari Resume Webinar, Why Not ?

 

Salah satu impian masa kecil saya adalah menulis buku. Dan impian ini baru bisa saya wujudkan pada tahun 2020 yang lalu. Tiga buku solo saya telah terbit. Salah satu di antaranya bahkan diterbitkan oleh Penerbit Andi yang merupakan penerbit mayor terkemuka di Indonesia.

Ketiga judul buku yang saya tulis adalah : Ilmuwan Cilik dan Roket Impian yang diterbitkan oleh Penerbit Eduvation, Bukan Guru Biasa yang diterbitkan oleh Penerbit Kun Fayakun, dan Buku ketiga saya berjudul Belajar Semudah Klik, Membangun Ekosistem Ubiquitous Learning Dalam Konsep Merdeka Belajar yang diterbitkan oleh Penerbit Andi, Yogyakarta.

Proses penulisan ketiga buku tersebut berbeda - beda. Ada buku yang terbit karena mengikuti sayembara penulisan buku, dan ada juga yang terbit karena keinginan saya sendiri dalam menulis buku.

Menulis Resume Sebagai Dasar Membuat Buku

Saat ini saya sendiri sedang menggarap beberapa draft buku yang rencananya akan segera diterbitkan di tahun ini. Salah satu di antaranya adalah buku yang ditulis berdasarkan kumpulan resume webinar.

Selama tahun 2020 hingga saat ini, sudah sangat banyak kegiatan webinar yang saya ikuti. Baik yang diselenggarakan oleh Kemdikbud maupun oleh pihak lainnya.

Materi - materi webinar yang disajikan sangat menarik dan bermanfaat bagi guru, sehingga saya seringkali menuliskannya dalam bentuk resume.

Tujuannya adalah agar sewaktu - waktu saya dapat membacanya kembali serta menggali informasi - informasi penting yang saya tulis dalam resume webinar tersebut.

Biasanya saya menulis resume di laman blog saya https://www.cikgutere.com, seperti resume belajar menulis bersama Om Jay dkk yang jumlahnya mencapai puluhan resume.

Selain bermanfaat bagi saya pribadi, ketika resume itu saya tulis di blog dan saya bagikan pada orang lain, maka orang lain pun akan mendapatkan manfaatnya. Pun demikian jika dibagikan melalui laman media sosial.

Teknik Menulis Buku dari Kumpulan Resume

Menulis resume memang mudah - mudah sulit, apalagi jika tidak terbiasa. Namun, jika sudah mengetahui tekniknya, maka resume pun dapat dijadikan menjadi naskah buku yang bermutu.

Berikut adalah teknik menulis buku dari kumpulan resume webinar :

  1. Kumpulkan sekitar 20 - 30 resume yang sudah ada (sebanyak - banyaknya). Dengan asumsi satu buah resume terdiri dari minimal 300 kata, maka jika ada 20 resume = 6.000 kata (sekitar 40 halaman A5). Syarat penerbitan memang berbeda - beda. Apalagi jika kita memilih menerbitkan di penerbit indie, maka kita dapat menerbitkan buku dengan jumlah halaman di bawah 100 halaman. Sedangkan untuk di YPTD sendiri, harus minimal 100 halaman A5. Sehingga kita harus menyesuaikannya.
  2. Kelompokkan resume - resume tersebut sesuai dengan topik / materi pokoknya. Lalu susun menurut alurnya. Sehingga dapat menyerupai kerangka daftar isi buku. Jika ada kesulitan mengelompokkan sesuai topiknya, maka kita cukup mengambil satu topik besar sekaligus judul buku, dengan menyertakan sub judul kumpulan resume.
  3. Edit materi resume dengan satu gaya penulisan. Adakalanya kita menulis dengan gaya bahasa formal dan bisa juga memakai gaya bercerita yang cenderung santai. Penggunaan jenis gaya bahasa yang seragam dalam sebuah buku akan menjadikan buku menjadi padu dan utuh. Pembaca juga tidak akan kehilangan fokus dalam membaca keseluruhan isi buku yang merupakan kumpulan resume.
  4. Lakukan swasunting terkait penulisan berdasarkan kaidah PUEBI.
  5. Lengkapi dengan daftar pustaka, indeks, dan glosarium
  6. Tambahkan kata pengantar, biodata penulis, dan sinopsis buku, jika perlu sertakan testimoni.

Perbedaan Dalam Teknik Menulis Buku

Beberapa teknik menulis buku dari kumpulan resume webinar di atas, memang sama dengan teknik menulis buku pada umumnya, namun hal utama yang membedakannya adalah dari nomor 2.

Jika kita menulis buku dengan cara biasa , kita beranjak dari Table of Content (TOC) yang memuat outline buku kita dalam beberapa bab, sebelum bahan buku dituliskan, sedangkan jika kita menulis buku dari resume, maka TOC  akan dilakukan setelah bahan tersebut (resume) dituliskan.

Nah, bagaimana, mudah bukan cara membuatnya ?

Semoga kita tetap semangat berkarya di masa pandemi ini.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 28)

Nama : Theresia Sri Rahayu

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

        

 

Saturday, February 27, 2021

Menulis Resume dari Kegiatan Webinar

 

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengenai Cara Memaksimalkan Peran Sebagai Peserta Webinar. Salah satunya adalah dengan menulis resume dari kegiatan webinar yang kita ikuti.

Apa itu Resume ?

Resume adalah sebuah ringkasan atau rangkuman dari sebuah tulisan/karangan panjang yang dipersingkat dengan mengambil bagian pokok dan juga menyisihkan rincian serta ilustrasinya.

Dalam konteks membuat resume dari kegiatan webinar berarti ringkasan atau rangkuman yang dimaksud adalah berdasarkan materi presentasi yang dibawakan oleh narasumber kegiatan.

Menulis resume dari webinar tentunya mempunyai perbedaan dibandingkan dengan menulis resume dari buku karena tingkat tantangannya berbeda.

Jika kita menulis resume dari webinar maka sepanjang proses webinar kita akan memaksimalkan seluruh fungsi alat indera kita untuk mendapatkan pandangan yang utuh dan menyeluruh terkait materi.

Kita bisa melakukan tangkap layar (screen shoot) slide presentasi dan membuat catatan - catatan kecil untuk memulai menulis resume. Sambil menunggu panitia membagikan link download materi.  Hal ini bertujuan untuk menjadi dasar /kerangka tulisan kita.

Manfaat Menulis Resume

Berikut ini adalah beberapa manfaat menulis resume :

  • Melatih kemampuan seseorang untuk menemukan informasi penting
  • Membantu orang lain untuk memahami materi
  • Mengembangkan hobi menulis
  • Meningkatkan fungsi alat indera (terutama mata dan telinga untuk kegiatan menyimak materi webinar)

Kriteria Resume yang Baik

Sebuah resume yang baik harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Original, merupakan karya sendiri dan tidak menjiplak karya orang lain
  2. Singkat, resume merupakan singkatan materi yang disampaikan.
  3. Lengkap, walaupun disajikan secara singkat namun ide pokok dari webinar harus bisa terakomodir.
  4. Memiliki alur yang menarik
  5. Ditulis dengan menerapkan pedoman penulisan yang terdapat pada PUEBI.

Cara Menulis Resume

Cara menulis resume dari kegiatan webinar adalah sebagai berikut:

  1. Mengikuti kegiatan webinar dari awal sampai selesai untuk mendapatkan gambaran mengenai topik materi yang disampaikan
  2. Menentukan ide pokok dari materi webinar, dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan 5 W + 1 H.
  3. Mengembangkan ide pokok menjadi sebuah resume
  4. Menambahkan kata - kata sendiri apabila diperlukan untuk melengkapi resume

Contoh Resume dari Webinar

 
"Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan"             
Orang Rimba
 
 
Merdeka Belajar merupakan sebuah gagasan di mana guru sebagai pemimpin pembelajaran, membawa peserta didik ke dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih bermakna bagi kehidupan mereka. 
 
Untuk dapat mencapai kemerdekaan belajar, seorang guru terlebih dahulu harus belajar bagaimana cara menjadi guru yang seharusnya. Inilah yang akan saya bagikan pada artikel kali ini tentang panduan menjadi guru merdeka belajar di tengah pandemi. Artikel ini disarikan dari Kegiatan Kuliah Umum Pembatik Level 4 bersama narasumber Kak Butet Manurung dengan moderator Ibu Restyn Yusuf sebagai Duta Rumah Belajar Papua . 
 

Belajar Dalam Mengajar, Versi Kak Butet Manurung 

Kak Butet pertama kali masuk ke Rimba Bukit Duabelas Jambi pada tahun 1999 sebagai seorang antropolog yang meneliti masyarakat adat orang rimba yang merupakan peburu peramu, Kak Butet ingin menggali model pendidikan seperti apa yang mereka (Orang Rimba) butuhkan. Dalam perjalanannya, Kak Butet menemukan beberapa hal menarik terkait paradigma pendidikan, yaitu : 
 
Cara pandang / perspektif : Pintar dan bodoh itu tergantung siapa yang bicara dan di mana kita berada. Contoh pengalaman saat Kak Butet dikejar beruang dan tak bisa naik pohon karena pakaian dan sepatunya tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Maka anak Rimba mengatakannya bodoh karena sudah tinggal bertahun - tahun di hutan, tapi belum bisa panjat pohon. 
 
Ada sekolah kontekstual di Rimba. Anak - anak dari kecil sudah belajar tentang hal yang kontekstual. Contoh : anak belajar menangkap hewan kecil dengan ketapel atau jerat. Di sekolah ini ada 3 metode belajar : observasi, bermain, dan eskplorasi. Sistem pendidikan lokal tidak mengenak kelas seperti di sekolah formal, tetapi mengenal tingkatan. Tingkatan 1 : berburu hewan kecil seperti tikus, tingkatan 2 : berburu ular, tingkatan 3 : mengambil madu di pohon yang tingginya mencapai 100 meter. Hal tersebut, menurut Kak Butet sudah konstektual karena apa yang mereka pelajari sudah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari - hari. 
 

Contoh resume selengkapnya bisa klik DI SINI 

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 27)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

                 

Friday, February 26, 2021

Cara Memaksimalkan Peran Sebagai Peserta Webinar

 

Sejak masa pandemi covid 19 hingga saat ini, saya berulang kali mengikuti kegiatan webinar. Baik yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun oleh instansi dinas bahkan komunitas praktisi.

Walaupun peran saya lebih banyak sebagai peserta kegiatan, namun saya merasa senang karena banyak sekali manfaat yang saya dapatkan.

Manfaat Mengikuti Webinar

Berikut ini adalah beberapa manfaat mengikuti webinar:

  1. Terbiasa dengan berbagai aplikasi virtual conference (webex, zoom, dan google meet)
  2. Mengenal berbagai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran (sway, google for education, slido, padlet, google classroom, mentimeter, dll)
  3. Mendapatkan ilmu baru terkait topik / materi dari narasumber (Asesmen Nasional, Kurikulum Darurat, dll)
  4. Berinteraksi dengan para pakar / narasumber yang kredibel
  5. Berinteraksi dengan sesama peserta yang berasal dari berbagai jenjang sekolah dan berasal dari daerah yang berbeda
  6. Mendapatkan sertifikat (beberapa bisa diajukan untuk mendapatkan angka kredit saat naik pangkat ASN)
  7. Mendapatkan pengalaman baru yang dapat dibagikan lagi kepada rekan guru (diseminasi)
  8. Menambah daftar jejak digital (riwayat diklat/pelatihan)
  9. Berkesempatan menjadi host, moderator, dan narasumber pada kegiatan serupa dengan adanya bekal ilmu dan keterampilan yang diperoleh

 

Kondisi Peserta yang Tidak Maksimal

Dengan banyaknya manfaat yang diperoleh setelah mengikuti webinar, maka seharusnya setiap peserta webinar dapat memaksimalkan peran mereka.

Tujuannya untuk mendapatkan semua manfaat tersebut atau bahkan manfaat lainnya yang belum dituliskan.

Namun sayangnya, saya sering mengamati ada beberapa peserta yang kurang maksimal dalam mengikuti kegiatan webinar.

Berikut ini adalah kondisi peserta yang tidak maksimal:

  • Sering keluar masuk zoom (biasanya karena gangguan sinyal)
  • Mematikan kamera / video saat webinar (biasanya karena ada kesibukan lain, malas mengikuti webinar, selain juga karena murni oleh gangguan sinyal sehingga penjelasan putus – putus)
  • 4 D (Datang, Duduk, Diam, Dengar). Tidak berinteraksi dengan narasumber, tidak merespon apapun yang disampaikan narasumber
  • Keluar dari webinar Ketika webinar masih berlangsung
  • Sering menanyakan link absensi untuk mendapatkan sertifikat. Biasanya peserta yang seperti ini mengikuti webinar hanya untuk mendapatkan sertifikat, bukan karena membutuhkan materinya

Cara Memaksimalkan Peran Peserta

Beberapa kondisi di atas sebenarnya bukan hanya merugikan peserta itu sendiri melainkan juga mengganggu peserta lain dan juga panitia.

Peserta yang tidak aktif saat webinar juga mempengaruhi psikologis narasumber yang membawakan materi. Apalagi jika lebih banyak peserta yang tidak menyalakan kamera dan tidak merespon penyampaian narasumber.

Oleh karena itu, sebaiknya peserta dapat memaksimalkan perannya agar tidak menimbulkan kerugian bagi dirinya dan orang lain.

Berikut adalah cara memaksimalkan peran sebagai peserta webinar:

  • Memperkenalkan nama dan instansi serta asal daerah kepada narasumber, panitia, dan sesama peserta, hal ini bisa dilakukan di kolom chat vicon, tujuannya untuk membawa diri terlibat dalam kegiatan
  • Menyiapkan semua amunisi yang diperlukan untuk mengikuti webinar (alat yang digunakan, kuota, dan listrik/ baterai)
  • Menyalakan kamera / video agar perhatian terfokus pada kegiatan webinar
  • Menanya kepada narasumber baik secara langsung maupun melalui kolom chat
  • Merespon / memberikan reaction
  • Mengikuti arahan panitia dan narasumber (membuka mentimeter, dll)
  • Mengisi link daftar hadir, mendownload materi, dan mengisi link survey / evaluasi kegiatan webinar yang diberikan oleh panitia
  • Menulis resume hasil kegiatan webinar. Bisa ditulis di media sosial, blog/website atau minimal di buku catatan pribadi
  • Mendiseminasikan hasil kegiatan kepada rekan yang lain

Jika dilihat dari peran di atas, manakah peran yang selama ini sudah kita lakukan ? Sudahkan kita melakukan semua peran di atas ?

Jika belum, maka maksimalkan peran Anda sebagai peserta webinar pada kesempatan webinar selanjutnya, dan jika sudah, maka Anda harus mempertahankannya.

Karena sebagai seorang guru, kita harus terus menerus belajar sebelum kita mengajar. Dan salah satu cara guru untuk belajar tentunya adalah dengan mengikuti kegiatan webinar.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 26)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

      

 

Thursday, February 25, 2021

Semua Guru Bisa Menjadi Narasumber Webinar yang Memukau

 

Pernahkah Anda mengikuti kegiatan webinar selama berjam - jam dan betah untuk mengikutinya ? Saya pernah! Karena saat itu narasumber menyampaikan materinya dengan sangat antusias dan menarik. Cara bicaranya tegas namun tidak terkesan menggurui. Penyampaiannya santun dan penampilannya pun good looking.

Intinya penampilan narasumber tersebut benar - benar menarik minat para peserta untuk menyimak materi webinar.

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas tentang rahasia di balik suksesnya sebuah webinar, dan pada artikel ini, masih terkait dengan webinar, kita akan membahas tentang tips dan trik yang bisa dilakukan oleh guru untuk menjadi narasumber webinar yang memukau.

Tips dan trik ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiganya akan saling berhubungan satu dengan yang lain.

Persiapan

Sebagai seorang narasumber webinar, seorang guru hendaknya melakukan beberapa hal berikut agar dapat tampil secara memukau:

  • Mengenal karakteristik peserta webinar, meliputi : asal sekolah, jenjang sekolah, pendidikan terakhir, dan usia peserta webinar
  • Mengenal fungsi alat - alat komunikasi yang akan digunakan, seperti : headset, laptop, dan aplikasi vicon.
  • Menyiapkan materi webinar dan menyajikannya dalam bentuk power point yang didesain secara interaktif dan menarik atau bisa juga ditampilkan melalui Sway agar terlihat lebih elegant dan luar biasa.
  • Memperhatikan durasi waktu presentasi agar materi dapat tersampaikan dengan baik
  • Bila pada materi terdapat video atau audio yang disisipkan, hendaknya diperiksa lagi agar dapat berfungsi secara normal
  • Memastikan bahwa file presentasi mempunyai back up di panitia, agar panitia dapat membantu jika dalam pelaksanaan terjadi gangguan sinyal yang mengakibatkan narasumber sulit untuk menampilkan presentasinya secara langsung atau gangguan teknis lainnya.
  • Bila perlu, narasumber dapat membuat survey singkat untuk mengetahui pengetahuan awal dari peserta terkait topik yang akan dibahas pada webinar, hal ini juga akan memberi gambaran terkait metode atau strategi terbaik yang dapat diterapkan oleh narasumber selama webinar berlangsung. Contohnya : narasumber ingin agar peserta berpartisipasi aktif dalam slido, namun ternyata dari hasil survey diketahui bahwa peserta belum pernah menggunakan slido, dll
  • Menyiapkan kelompok kecil jika dikehendaki akan dibuat breaking room (data bisa berasal dari survey singkat atau meminta bantuan pada panitia untuk membentuk kelompok sendiri)
  • Membuat daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh peserta dan jawabannya
  • Berkoordinasi dengan panitia minimal 1 - 2 hari sebelum kegiatan dan menanyakan jika ada hal - hal lain yang belum dimengerti terkait pelaksanaan webinar.
  • Menyiapkan Curriculum Vitae (CV) yang akan dibacakan oleh moderator
  • Mengikuti gladi bersih jika diadakan oleh pihak panitia

Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan, seorang guru perlu memperhatikan hal - hal berikut agar dapat menjadi seorang narasumber webinar yang memukau:

  • Menyapa peserta yang hadir pada kegiatan webinar dengan menyebutkan beberapa nama dan asal daerahnya. Bisa juga narasumber meminta peserta menuliskan nama dan asal daerah di kolom chat untuk menarik minat mereka
  • Berbicara dengan santun, ramah dan menjaga kontak mata dengan peserta / audience, walaupun dilaksanakan secara tatap maya / online.
  • Menghindari penggunaan kata - kata sulit / kata - kata asing yang kurang dipahami oleh pesertanya.
  • Menyampaikan materi presentasi dengan metode yang bervariasi. Hindari terlalu fokus pada slide presentasi.
  • Berikan kesempatan pada peserta untuk terlibat selama Anda presentasi. Misalnya dengan menjawab melalui kolom chat, menggunakan menti meter, slido, atau padlet. Bila perlu, beri kesempatan peserta untuk open mic selama beberapa saat.
  • Gunakan pertanyaan rahasia "Apakah tayangan saya masih terlihat ? Apakah suara saya masih terdengar? " Pertanyaan ini semata - mata Anda ajukan pada peserta untuk mengontrol mereka.
  • Selipkan humor segar atau ice breaking singkat yang mungkin dilakukan untuk menjaga perhatian dan semangat peserta.
  • Jangan sekali - kali memarahi peserta. Jika ada yang tidak sengaja mencoret presentasi, cukup diingatkan oleh host dan moderator. Demikian juga ketika ada peserta yang suaranya bocor sehingga menimbulkan noise.
  • Jawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta dengan cara yang baik dan bukan untuk memojokkan peserta tersebut.
  • Berikan kalimat motivasi di akhir presentasi agar tetap diingat oleh peserta.
  • Jaga kualitas suara, lafal dan intonasi agar mudah dipahami oleh peserta. Suara menjadi salah satu penentu keberhasilan webinar karena jika narasumber berbicara dengan nada yang monoton seperti orang ceramah maka peserta cenderung tidak menyimak dengan baik.

Evaluasi

Setelah webinar selesai dilaksanakan, masih ada tahap selanjutnya yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu evaluasi. Dalam hal ini, narasumber dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya selama melakukan presentasi.

Biasanya, pada sebuah webinar, panitia akan memberikan tautan formulir evaluasi yang harus diisi oleh peserta di akhir kegiatan webinar. Dan pada formulir evaluasi tersebut, ada penilaian terkait narasumber.

Sebaiknya, guru sebagai narasumber berkoordinasi dengan panitia agar mendapat umpan balik tersebut, sehingga dalam presentasi berikutnya dapat lebih baik dan memukau.

 

Itulah 3 tahap yang harus dilakukan dan diperhatikan oleh guru jika ingin menjadi seorang narasumber yang memukau dalam kegiatan webinar. Jika ada hal - hal lain yang belum disampaikan, silakan menuliskan di kolom komentar pada artikel ini. Semoga bermanfaat.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 25)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

   

 

 

Wednesday, February 24, 2021

Mudahnya Membuat Flyer Webinar Bagi Pemula

 

Di masa pandemi ini, beranda facebook saya dipenuhi dengan informasi terkait pelaksanaan webinar. Baik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Non Government Organization (NGO), dan instansi serta komunitas praktisi.

Sehingga tak jarang saya langsung mengambil gawai dan melakukan pendaftaran untuk mengikuti webinar tersebut dengan mengklik tautan yang disediakan oleh penyelenggara.

Biasanya saya langsung tertarik mengikuti webinar karena melihat desain flyernya. Karena flyer yang didesain dengan sangat baik akan menjadi media promosi yang efektif.

Dengan adanya kemampuan desain grafis yang dimiliki oleh para desainer, tentunya flyer kegiatan akan terlihat elegan tanpa mengesampingkan fungsi informatifnya yang utama.

Pemilihan warna, komposisi gambar dan tulisan serta pemilihan kata – kata yang tepat menjadi point utama dalam merancang sebuah flyer.

Oleh karena itu, pada artikel kali ini, saya akan membagikan cara mudah membuat flyer webinar, khususnya bagi para pemula.

Sebelum membahas tentang cara membuat flyer, kita kenali dulu pengertian, fungsi, dan tips membuat  flyer yang menarik.

Pengertian Flyer

Flyer adalah alat pemasaran / promosi sederhana yang biasanya dicetak pada selembar kertas dengan ukuran maksimal A4 berbahan  HVS, art paper, ataupun art carton.

Sebenarnya, flyer sendiri termasuk media promosi yang sudah ada sejak dulu. Bentuknya yang lebih sederhana, dengan kata – kata seadanya dan dicetak pada kertas yang tipis, menjadi pembeda flyer dengan brosur, leaflet, dll.

Flyer cenderung hanya memuat informasi umum dan tidak sedetail brosur dan leaflet.

Di era digital ini, flyer lebih banyak digunakan untuk media promosi event, seperti webinar, talkshow, dll. Bentuknya pun ditampilkan dalam format digital (paperless) dan bisa disetting pada berbagai ukuran kertas, walaupun biasanya masih sekitar A4.

Fungsi Flyer

Secara umum, fungsi flyer adalah sebagai media promosi untuk berbagai kepentingan, seperti iklan produk barang atau jasa.

Namun, ada fungsi lain dari flyer yaitu memberikan sejumlah informasi kepada publik terkait penyelenggaraan sebuah event (webinar, talkshow), dll.

Terkait dengan informasi penyelenggaraan event, maka flyer memberikan informasi sbb:

  • Penyelenggara (instansi dinas atau komunitas), termasuk logo instansi
  • Waktu dan tempat kegiatan
  • Materi / Topik webinar
  • Pemateri / Narasumber, host, dan moderator dilengkapi keterangan singkat berupa jabatan atau prestasi.
  • Moda pelaksanaan (online atau offline), termasuk meeting id dan password jika digunakan
  • Link registrasi peserta
  • Media sosial penyelenggara untuk live streaming dan nomor kontak (contact person) yang bisa dihubungi untuk info selengkapnya terkait webinar
  • Bonus / fasilitas yang akan didapatkan peserta, seperti e-sertificate, door prize, dll
  • Informasi tentang pembiayaan webinar (gratis / berbayar)

Tips Membuat Flyer yang Menarik

Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa sebagai calon peserta, saya cenderung mengikuti kegiatan webinar setelah merasa tertarik dengan flyernya.

Oleh karena itu jika kita ingin membuat flyer, kita harus mengetahui bagaimana tips membuat flyer yang menarik.

Berikut ini adalah tipsnya :

  • Pastikan informasi terbaca dengan jelas
  • Pilih kalimat utama yang sekiranya menarik bagi target pembaca
  • Gunakan desain yang menarik pandangan pembaca
  • Sesuaikan gaya desain dengan target pembaca
  • Gunakan font (huruf) yang sesuai dengan target pembaca
  • Gunakan pilihan warna yang sesuai dengan target pembaca
  • Isi flyer harus informatif, padat, dan jelas

Cara Membuat Flyer bagi pemula

Ada banyak aplikasi yang dapat kita gunakan untuk membuat flyer, di antaranya adalah poster my wall, canva, dll.

Aplikasi – aplikasi itu lebih mudah digunakan oleh seorang pemula dibandingkan dengan corel drawa, photoshop ataupun yang lainnya.

Berikut ini adalah cara mudah membuat flyer dengan menggunakan poster my wall:

  1. Akses poster my wall dari browser atau bisa dengan klik tautan berikut
  2. Login dengan menggunakan akun google
  3. Klik buat desain, lalu pilih desain dari template atau pilih template kosong (rekomendasi bagi pemula, gunakan template)
  4. Sesuaikan template untuk mengedit
  5. Edit tulisan atau gambar template untuk mengganti
  6. Klik foto pada bilah alat di sebelah kiri atas untuk menambahkan foto dan pilih dari foto saya untuk mengunggah file foto yang ada di komputer / laptop kita.
  7. Klik pada teks / tulisan kemudian ubah setting dengan menggunakan bilah kanan
  8. Bila sudah selesai, klik unduh di bagian atas dan file akan tersimpan dalam format jpg di laptop kita.

Menambahkan Barcode

Adakalanya, agar tampak semakin elegan, penyelenggara menampilkan link webinar dalam bentuk barcode di flyer.

Kita dapat membuat barcode dengan menggunakan aplikasi QR code generator atau mengakses barcode generator online melalui link berikut : https://www.barcodesinc.com/generator/index.php

Kemudian memasukkan link vicon webinar atau link registrasi dan generate code nya.

Setelah itu, tinggal simpan barcodenya dan sertakan di flyer kegiatan.

Selain tampak lebih elegan, hal ini juga akan mempermudah peserta dalam mengakses link vicon atau link registrasi. Mereka cukup memindai / scan barcode dari flyer dengan menggunakan gawainya tanpa harus mengetik.

Bagaimana, apakah setelah membaca artikel ini, kita siap untuk menjadi bagian dari pengelola webinar ataukah baru sebatas mengambil peran sebagai peserta ?

Saran saya, tetaplah belajar untuk menguasai hal – hal yang baru ini. Karena tuntutan zaman yang selalu berubah. Dan guru yang baik adalah guru yang selalu belajar demi menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas.

Sumber :

https://blog.porinto.com/pengertian-definisi-dan-kegunaan-lengkap-flyer/

https://www.tjetak.com/blog/kenali-apa-itu-flyer-dan-cara-tepat-memanfaatkannya

https://seputarilmu.com/2019/10/flyer.html

 

Catatan : 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Februari 2021 (Artikel ke 24)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

   

Tuesday, February 23, 2021

Rahasia di Balik Suksesnya Sebuah Webinar

 

 

Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti sebuah acara webinar yang diselenggarakan oleh Kemdikbud atau pihak lain dan dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan peserta ?

Kira - kira, hal apa yang menarik peserta sehingga mereka berbondong - bondong melakukan pendaftaran pada acara tersebut ?

Berapa banyak orang yang terlibat dalam persiapan acara tersebut dan apa tugas mereka masing - masing ?

Berikut ini, saya akan membagikannya untuk Bapak/Ibu, diharapkan agar kita belajar untuk bukan hanya menjadi peserta webinar namun menjadi bagian dari tim istimewa pengelola webinar.

Guru Butuh Belajar

Banyak jalan menuju Roma, ini adalah ungkapan yang disampaikan oleh orang bijak. Maknanya, selalu ada jalan untuk mencapai tujuan.

Bagi seorang guru, ungkapan tersebut dapat menjadi sebuah motivasi besar untuk tetap semangat berinovasi di tengah pandemi.

Mengapa guru harus tetap berinovasi di tengah pandemi? Hal ini disebabkan oleh berubahnya pola pembelajaran yang tadinya tatap muka di sekolah, sekarang tiba – tiba harus dilakukan secara tatap maya / daring.

Banyak guru yang merasa semakin tertantang dengan adanya pilihan moda pembelajaran daring. Karena guru mau  tidak mau, siap tidak siap harus bisa beradaptasi dengan teknologi pembelajaran.

Hal ini akhirnya menjadi sebuah kebutuhan belajar. Guru butuh belajar lagi tentang pemanfaatan alat – alat teknologi dan sistemnya.

Belajar Melalui Webinar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun berlaku tanggap terhadap aneka kebutuhan belajar guru, sehingga mengeluarkan beberapa kebijakan terkait hal ini.

Diantaranya adalah dengan menggelar rangkaian seri webinar (webinar series) bagi guru sejak Bulan Maret 2020 yang lalu.

Berbagai topik menarik dengan para narasumber hebat dan terkemuka silih berganti di ruang belajar guru. Ratusan bahkan ribuan guru dengan setia menanti kesempatan untuk mempelajari materi yang mereka perlukan.

Rangkaian kegiatan webinar tersebut dinilai sukses besar, karena terbukti mampu mengakomodir kebutuhan belajar siswa terkait adaptasi pembelajaran di masa pandemi.

Namun, tahukah Anda, ada rahasia di balik suksesnya sebuah webinar ?

Tim  Sukses

Berdasarkan pengalaman saya bergabung di Komunitas Belajar Guru Penggerak (KBGP),  letak kesuksesan sebuah acara webinar adalah pada Tim yang solid.

Tim pengelola webinar terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

  1. Konten, bertugas menyiapkan materi webinar dan konten lain yang diperlukan.
  2. Event, bertugas merancang event (webinar, talkshow, dll), menghubungi narasumber dan menentukan waktu pelaksanaan
  3. Publikasi , bertugas memback up publikasi kegiatan (membuat flyer kegiatan, link vicon, live streaming, registrasi, dll)
  4. MELR, bertugas melakukan survey kebutuhan belajar guru dan menganalisis hasil kegiatan)

Setiap anggota tim melakukan tugasnya sesuai dengan uraian job description masing – masing.

Aksi Kolaborasi

Pada saat pelaksanaan webinar, semua anggota tim juga bekerja di belakang layar. Ada yang memantau peserta di live streaming youtube, mencatat pertanyaan dari peserta, melihat kualitas video, dan ada juga yang menghubungi anggota tim lainnya untuk memastikan koordinasi terus terjaga selama penyelenggaraan webinar.

Pengaturan durasi waktu, kontrol antara host, moderator, dan speaker (narasumber) juga merupakan point yang tak luput dari pemantauan tim.

Ketika ada hal – hal teknis yang terjadi di luar perkiraan, seperti noise atau suara bocor selama webinar yang disebabkan oleh microphone peserta, atau bahkan ketika keynote speaker tiba – tiba minta disesuaikan waktunya, maka anggota tim saling berkoordinasi di dalam grup WA yang disepakati sebagai ruang koordinasi dan kolaborasi.

Wah, ternyata ada sekian banyak aktivitas yang harus dilakukan demi kelancaran dan kesuksesan sebuah acara webinar. Saya benar - benar tidak menduganya. Karena ketika saya hanya menjadi peserta webinar, saya cukup duduk manis dan menyimak materi. Sedangkan ketika kita yang menjadi bagian dari pengelola webinar, ternyata ada rahasia besar di dalamnya, yang kini juga Bapak/Ibu telah ketahui.

Saya merasa bahwa ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Semoga pengalaman ini akan memperkaya diri saya dan juga Bapak/Ibu semua yang akan berpraktek mengelola sebuah kegiatan webinar bersama komunitas praktisi masing – masing.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 23)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 1026 0901048

 

             

Monday, February 22, 2021

Leaderboard, Cara Baru Pantik Prestasi Dalam Literasi

  

Anak - anak pasti sangat suka bermain game. Karakteristik game yang menarik dan menantang membuat mereka tidak pernah bosan bermain game ini. Bahkan mereka terbiasa menghabiskan waktu berjam - jam saat bermain game.

Di satu sisi, kesukaan anak terhadap game memang menjadi kekhawatiran sendiri bagi orang tua dan guru, karena dampak negatif yang ditimbulkannya. Namun, di sisi lain, ternyata game juga menimbulkan dampak positif bagi diri siswa, yaitu menumbuhkan rasa ingin tahu, percaya diri, dan bekerja keras.

Pada postingan saya sebelumnya, kita sudah membahas terkait peran guru dalam Berkreasi Dengan Game Edukasi. 

Kali ini, saya akan berbagi tentang salah satu sistem yang dapat diadopsi oleh guru dari sebuah game. Sistem tersebut adalah "leaderboard".

Apa Itu Leaderboard ?

Leaderboard dapat diartikan sebagai papan peringkat. Sesuai artinya, maka sistem leaderboard itu sendiri merupakan sebuah sistem pemeringkatan pemain game berdasarkan poin yang mereka kumpulkan.

Cara kerja leaderboard adalah dengan mengumpulkan poin dan mengurutkannya.

Pemain dengan poin tertinggi akan mendapatkan peringkat pertama dan seterusnya.

Integrasi Leaderboard Dalam Literasi

Salah satu cara untuk memantik prestasi siswa dalam bidang literasi adalah dengan mengadopsi leaderboard pada game.

Caranya, guru memberikan tantangan kepada siswa untuk berlomba - lomba mengumpulkan poin literasi, kemudian membuat peringkat berdasarkan poin yang mereka kumpulkan.

Penentuan poin dapat dirumuskan bersama oleh guru dan siswa dan hasilnya dapat ditulis dalam bentuk kontrak / kesepakatan kelas.

Berikut ini adalah contoh poin yang ditetapkan oleh guru dan siswa:

  • Membaca satu buku dalam satu minggu  = poin 100
  • Menulis resume satu buku                          = poin 150
  • Membuat satu quote terkait literasi          = poin 50
  • Merancang infografis dari hasil membaca  = poin 200
  • Mempublikasikan vlog dari hasil bacaan                = poin 200
  • Menulis artikel                                               = poin 200
  • Membuat kliping                                           = poin 500
  • Menulis buku                                                 = poin 1.000

Guru dan siswa dapat menyesuaikan kesepakatan poin literasi sesuai dengan jenjang sekolahnya.

Dengan adanya kesepakatan mengenai poin literasi, maka siswa dapat lebih terpacu untuk berlomba - lomba dalam mengumpulkan poin literasinya. Selanjutnya mereka akan meningkatkan kemampuannya di bdiang literasi untuk meraih peringkat dalam sistem Leaderboard.

Sistem Pengumpulan Poin dan Leaderboard

Pengumpulan poin dilakukan dalam waktu yang disepakati oleh guru dan siswa. Perekapan poin dapat dilakukan seminggu sekali atau sebulan sekali.

Hasil perekapan ini akan diumumkan melalui leaderboard di waktu yang sudah disepakati oleh guru dan siswa.

Cara menampilkan leaderboard, bisa dimumumkan di media sosial, grup WA kelas, atau ditampilkan langsung saat pembelajaran daring.

Guru dapat memberikan apresiasi bagi siswa yang meraih peringkat dalam leaderboard dalam bentuk sertifikat.

Berikut ini adalah contoh sertifikatnya : https://drive.google.com/file/d/1F7oHPRPoWFal51lW_cym-EMRJWDvZUTr/view?usp=sharing

Selain itu, jika dianggap perlu, guru dapat memberikan hadiah berupa buku, alat tulis, buku cerita, dll.

Dengan adanya sertifikat atau pemberian hadiah bagi siswa yang namanya tertera pada leaderboard, maka akan memantik motivasi siswa untuk meningkatkan kompetensinya di bidang literasi.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 22)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

         

Sunday, February 21, 2021

Cara Membuat Soal AKM Numerasi

 

Bapak/Ibu guru, pada postingan sebelumnya, saya sudah membagikan Cara Membuat Soal AKM Literasi, dan kali ini saya akan membahas tentang cara membuat soal AKM Numerasi.

Banyak orang yang berpendapat bahwa kompetensi numerasi adalah berhitung, menggunakan angka - angka dan mencari hasil dari operasi hitung.

Perlu diketahui, bahwa pendapat itu keliru. Kompetensi numerasi bukan hanya tentang berhitung dengan angka - angka.

Numerasi dimaknai sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menggunakan pengetahuan matematika yang dimilikinya dalam menjelaskan kejadian, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan matematika inilah yang akan membantu siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan di dunia nyata dengan cara berpikir logis dan bernalar sehingga mampu mengambil suatu keputusan dengan penuh tanggung jawab.

Pengembangan Soal AKM Numerasi

Sama halnya dengan pengembangan soal AKM literasi, soal - soal yang disusun dan dikembangkan pada kompetensi numerasi juga dilihat dari 3 K yaitu : Konten, Kognitif, dan Konteks.

Konten Numerasi

Domain konten pada numerasi dibagi menjadi 4, yaitu Bilangan, Geometri dan Pengukuran, Aljabar, serta Data dan Ketidakpastian.

Pada konten bilangan, siswa akan diuji mengenai bilangan cacah dan pecahan, yang terdiri dari membandingkan pecahan, mengurutkan pecahan, operasi hitung bilangan cacah, dan pangkat dua dari suatu bilangan. Khusus di kelas 6, kontennya diperluas dengan pembahasan mengenai pecahan desimal dan persen dan kubik / pangkat tiga dari suatu bilangan.

Konten Geometri dan Pengukuran terdiri dari mengenal bangun datar , volume dan luas permukaan, pengukuran panjang, berat, waktu, volume dan debit, serta satuan luas menggunakan satuan baku.

Sedangkan pada konten aljabar, siswa diuji untuk menyelesaikan persamaan sederhana yang disesuaikan dengan tingkat berpikir peserta didik kelas dasar.

Selanjutnya pada konten data dan ketidakpastian, siswa SD belajar tentang penyajian data dalam tabel, diagram batang, dan diagram lingkaran.

Terkait cakupan kompetensi minimum untuk kelas survey yaitu kelas 5 pada setiap konten, dapat dilihat lebih lengkap DI SINI

Level Kognitif

Level kognitif numerasi Asesmen Kompetensi Minimum dibagi menjadi tiga level, yaitu: Knowing, Applying (penerapan), dan Reasoning (penalaran).

Pada level knowing, siswa belajar untuk mengingat, mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menghitung, mengambil/memperoleh, dan mengukur terkait fakta, proses, konsep, dan prosedur.

Sedangkan pada level applying (penerapan), siswa belajar untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman mereka terkait fakta, proses, konsep, relasi, dan prosedur untuk menyelesaikan masalah dalam dunia nyata. Kata kunci yang digunakan adalah memilih/menentukan, menyatakan/membuat model, dan menerapkan/melaksanakan.

Selanjutnya, pada level reasoning (penalaran), siswa belajar menganalisis, memadukan (mensintesis), mengevaluasi, menyimpulkan, dan membuat justifikasi untuk memperluas pemahaman mereka pada situasi yang lebih kompleks.

Konteks Pada AKM Numerasi

Konteks yang dikembangkan dalam AKM numerasi terdiri dari personal, sosial budaya dan saintifik. Dengan adanya perluasan pada ketiga konteks tersebut dengan tujuan agar siswa dapat semakin mengenali peran matematika dalam kehidupan sehari - hari.

Konteks personal memposisikan siswa sebagai orang yang disebut pada soal untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Contoh soal pada konteks pribadi sbb: Suatu restoran pizza menawarkan pizza dengan dua macam topping dasar, yaitu keju dan tomat. Pelanggan juga dapat memesan pizza dengan tambahan ekstra topping. Ada empat pilihan untuk ekstra topping, yaitu daging, jamur, salami, dan zaitun. Dina ingin memesan pizza dengan dua macam topping berbeda. Berapa banyak pilihan kombinasi topping yang bisa dipesan Dina? 

Konteks sosial budaya dapat meliputi sistem pemungutan suara, transportasi publik, pemerintahan, kebijakan publik, demografi, periklanan, statistik, dan ekonomi nasional. Biasanya konteks sosial budaya disajikan dalam konten data dan ketidak pastian dalam stimulus berbentuk grafik.

Sedangkan konteks saintifik dibedakan menjadi dua yaitu intra matematika dan extra matematika. Konteks intra matematika merupakan konteks yang terkait dengan keilmuan matematika, seperti pengukuran panjang, berat, waktu, dll. Sedangkan konteks extra matematika adalah konteks yang terikat dengan keilmuan lainnya, seperti : cuaca atau iklim, ekologi, ilmu medis (obat - obatan), ilmu ruang angkasa, dll.

Cara Membuat Soal AKM Numerasi

Secara teknis, cara membuat soal AKM Numerasi tidak berbeda dengan Literasi, namun yang perlu diperhatikan adalah pada distribusi soalnya.

Berikut ini adalah keterangan tentang distribusi jumlah soal AKM Numerasi berdasarkan konten, kogntif, dan konteks untuk kelas 5 jenjang Sekolah Dasar (SD):

Konten : Bilangan 40%, pengukuran dan geometri 25%, data dan ketidakpastian 25%, aljabar 10%

Kognitif : Knowing 30%, applying (penerapan) 50% dan reasoning (penalaran) 20%

Konteks : personal 60%, sosial budaya 30%, Saintifik 10% (intra matematika 3%, extra matematika 7%).

Setelah guru memahami distribusi soal berdasarkan konten, kognitif dan konteksnya, selanjutnya guru dapat membuat kisi - kisi AKM Numerasi. Format kisi - kisi dapat download DI SINI

Sebagai gambaran soal, Bapak/Ibu guru dapat melihatnya pada link berikut: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 21)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

     

Saturday, February 20, 2021

Cara Membuat Soal AKM Literasi

 

Salah satu Peran Guru Dalam Mempersiapkan AKM adalah menyiapkan instrumen asesmen yang mendukung pada upaya pencapaian kompetensi literasi dan numerasi.

Oleh karena itu, pada bagian pertama ini, kita akan belajar mengenai cara membuat soal AKM Literasi.

Dalam uraian sebelumnya, literasi yang dibahas dalam AKM ini adalah literasi membaca, di mana literasi membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan bentuk - bentuk teks tertulis yang dibutuhkan oleh masyarakat dan/atau dihargai oleh individu.

Dengan adanya arus informasi yang pesat melalui berbagai media saat ini, kita dituntut untuk dapat lebih selektif dalam membaca dan menerima setiap informasi yang disajikan. Dan tentunya proses ini membutuhkan proses kognisi yang lebih tinggi, karena kita tidak cukup membaca informasi, melainkan harus mengolah informasi tersebut.

Oleh karena itu, melalui AKM literasi, diharapkan guru dapat membantu siswa untuk memperoleh kemahiran dalam literasi.

Desain pengembangan soal AKM literasi dapat dilihat berdasarkan konten, kognitif, dan konteks. Berikut penjelasannya :

Pengembangan Konten

Jika dilihat dari segi konten, aspek penting dalam pelaksanaan AKM literasi adalah pada ketersediaan teks atau bacaan sebagai stimulus. Stimulus harus dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran di abad 21, yaitu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.

Konten teks dalam penyusunan soal AKM literasi dikelompokkan menjadi 2 yaitu teks fiksi / sastra dan teks informasi.

Teks fiksi / sastra bersifat imajinatif yang dibangun melalui unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik pada cerita. Contoh teks fiksi / sastra yaitu : cerita rakyat, cerpen, dongeng, legenda, dll.

Sedangkan teks informasi adalah teks yang ditulis berdasarkan data dan fakta, serta peristiwa yang benar - benar terjadi dalam kehidupan. Contohnya : rute perjalanan bus, jadwal kereta api, dosis obat, dll.

Khusus untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), distribusi konten teks ini sebesar 50% untuk teks fiksi dan 50% untuk teks informasi.

Level Kognitif / Proses Kognitif

Ada 3 level kognitif yang diujikan pada soal AKM literasi membaca yaitu :

  1. menemukan informasi (access and retrieve)
  2. memahami (interpret and integrate)
  3. mengevaluasi dan merefleksi (evaluate and reflect)

Pada level kognitif menemukan informasi, siswa diharapkan mampu menemukan informasi dari teks yang tersaji secara eksplisit. Sedangkan pada level kognitif memahami, siswa diharapkan sudah mampu mengolah informasi yang diterima dan menyimpulkan informasi implisit dalam atau antar teks. Selanjutnya, pada level kognitif mengevaluasi dan merefleksi, siswa diharapkan mampu merefleksi atau membuat sebuah gambaran atau opini yang dikaitkan dengan pengalamannya sendiri dan kehidupan sekitarnya.

Pengembangan Konteks

Prinsip penyusunan soal AKM adalah berpusat pada kebutuhan siswa saat ini, sehingga melalui soal AKM, siswa diharapkan mampu mengembangkan potensi individual dan sosialnya sekaligus memanfaatkan literasi ini dalam setiap pemecahan masalah sehari - hari.

Ada 3 konteks yang digunakan dalam pengembangan desain soal AKM literasi, yaitu :

  1. Konteks personal
  2. Sosial budaya
  3. Saintifik

Tujuan pengembangan soal AKM literasi pada konteks personal adalah agar siswa mempunyai kemampuan literasi membaca dalam membentuk karakter dengan menggali kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam kehidupan pribadinya.

Konteks sosial budaya merupakan gambaran pandangan masyarakar terkait kondisi sosial budaya.

Sedangkan konteks saintifik merupakan gambaran kemampuan literasi membaca yang digunakan untuk merefleksikan beragam informasi penting yang diperolehnya untuk berpartisipasi dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Distribusi soal AKM berdasarkan konteks, khusus untuk jenjang SD adalah : konteks personal 60%, sosial budaya 30%, dan saintifik 10%.

Cara Membuat Soal AKM Literasi

  1. Menyusun kisi - kisi AKM literasi, format kisi - kisi AKM dapat download disini
  2. Membuat soal AKM literasi dalam beragam bentuk soal
  3. Membuat pedoman penskoran

Bentuk Soal AKM

Bentuk soal AKM sangat bervariasi, yaitu :

  • Pilihan ganda, soal pilihan ganda menyediakan beberapa option jawaban namun untuk jawaban yang tepat, hanya boleh memilih satu. Jumlah pilihan untuk siswa kelas 1 - 3 SD adalah 3, yaitu: A, B, dan C. Sedangkan untuk siswa dari kelas 4 - 6 SD diberikan option sebanyak 4 buah, yaitu: A, B, C, dan D.
  • Pilihan ganda kompleks, pada bentuk soal pilihan ganda kompleks, siswa dapat memilih beberapa pilihan jawaban yang benar,
  • Menjodohkan, bentuk soal ini menyajikan 2 lajur yaitu lajur kiri untuk soal dan lajur kanan untuk jawaban. Sebaiknya lajur jawaban lebih banyak dibandingkan lajur soal.
  • Isian atau Jawaban singkat, bentuk soal ini mempunyai kesamaan jawaban yaitu berupa kata, frasa, angka, atau simbol yang ditulis secara singkat. Letak perbedaan antara isian dan jawaban singkat adalah pada pokok soalnya. Isian ditulis dengan kalimat berita / pernyataan, sedangkan jawaban singkat ditulis dengan pokok soal berupa pertanyaan.
  • Uraian, merupakan bentuk soal yang menuntut peserta didik untuk mengemukakan atau mengekspresikan gagasan dalam bentuk uraian tertulis.

Distribusi Soal AKM berdasarkan bentuk soal : 

  • Pada penyusunan soal AKM survey nasional: pilihan ganda 20%, PG kompleks 60%, menjodohkan 10%, isian singkat/ jawaban singkat 5%, uraian 5%
  • Pada AKM Kelas (dilaksanakan oleh guru di kelas): pilihan ganda 20%, PG kompleks 40%, menjodohkan 10%, isian singkat/jawaban singkat 5%, uraian 25%

 

Pedoman Penskoran

Soal - soal AKM berbentuk obyektif dan non obyektif. Bentuk soal obyektif terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, dan isian/jawaban singkat. Sedangkan bentuk soal non obyektif seperti essay/uraian. Soal - soal obyektif dalam bentuk soal pilihan ganda dapat langsung diberi skor 1 atau 0.

Pilihan ganda kompleks, pemberian skor berdasarkan kompleksitas dari pernyataan dan jumlah pilihan jawaban.

Apabila jumlah pernyataan 3-5 dan pilihan jawaban 2 (benar-salah, yatidak, berubah –tidak berubah, atau lainnya), penskoran 1 atau 0. Artinya, diberi skor 1 bila semua jawaban benar, diberi skor 0 bila ada jawaban salah.

Apabila jumlah pernyataan lebih dari 5 dan pilihan jawaban lebih dari 2 (hewan-tumbuhanmikroorganisme, pagi-siang-malam, kota-kabupaten-kecamatan-desa, hijau-merahkuning-biru-oranye, atau lainnya), penskoran 2 1 0. Diberi skor 2 bila menjawab semua benar, diberi skor 1 bila salah 1 atau 2, diberi skor 0 bila salah lebih dari 2.

Sedangkan untuk soal - soal non obyektif perlu disesuaikan dengan rubrik penilaian. Skor penuh atau skor tertinggi diberikan pada jawaban yang memenuhi semua kriteria/kunci jawaban benar. Skor sebagian diberikan pada jawaban yang kurang memenuhi kriteria/kunci jawaban benar. Jawaban salah diberi skor 0, sedangkan tidak menjawab atau kosong diberi kode 9.

 

Contoh Soal AKM Literasi dapat DOWNLOAD DI SINI

 

Sumber : Desain Pengembangan Soal Asesmen Kompetensi Minimum 2020, Pusmenjar.

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 20)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

          

 

 

Friday, February 19, 2021

Ketahui Peran Guru Dalam Mempersiapkan AKM

  

 

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan salah satu elemen dasar Asesmen Nasional.  Selain AKM, ada juga elemen lainnya yaitu survey karakter dan survey lingkungan belajar. AKM juga merupakan penilaian kompetensi mendasar terhadap kemampuan literasi dan numerasi.

Di antara enam literasi dasar, AKM fokus pada literasi (membaca) dan numerasi karena kedua jenis literasi tersebut menjadi dasar untuk perolehan jenis kompetensi literasi lainnya.

Perbedaan Literasi dan Numerasi

Kemampuan literasi (membaca) dimaknai sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Sedangkan kemampuan numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

Perhatikan ilustrasi berikut:

Sepasang sepatu dijual dengan harga Rp 200.000,00. Sepatu tersebut dijual di beberapa toko yang menawarkan diskon beragam : Toko A memberi diskon 50% + 20%, Toko B memberi diskon 30% + 20%, Toko C memberi diskon 40% + 10%, Toko D memberi promo beli 2 gratis 1, Toko E memberi promo semua bayar setengah harga, dan Toko F memberi promo beli 1 gratis 1.

Menurut Anda, apakah permasalahan pada ilustrasi di atas berhubungan dengan konteks dunia nyata yang dihadapi oleh siswa kita ?

Lalu, apakah menurut Anda, siswa Sekolah Dasar (SD) mampu menyelesaikan permasalahan pada soal tersebut dengan jawaban yang benar ?

Menurut saya, soal tersebut akan mampu dikerjakan oleh siswa SD, asalkan mereka sudah mempunyai kemampuan pra syarat terkait kompetensi tersebut. Untuk inilah dibutuhkan peran guru yang akan membantu mereka dalam mempersiapkan AKM.

Peran Guru Dalam Mempersiapkan AKM

Dalam buku panduan / tanya jawab AKM, sudah dijelaskan mengenai perbedaan UN dan AKM. Salah satunya, guru tidak perlu melakukan persiapan khusus bagi siswanya. Pola - pola drill soal pun tidak dibutuhkan lagi, terutama karena tidak ada kisi - kisi soal AKM, yang ada hanyalah sejumlah indikator kompetensi yang nantinya dapat dikembangkan menjadi soal literasi dan numerasi.

Persiapan yang dimaksud sebelumnya adalah terkait peran guru sebagai fasilitator pembelajaran. Bagaimana mungkin siswa mampu menyelesaikan soal - soal AKM yang merupakan jenis soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) jika siswa tidak mengalami pembelajaran yang mengembangkan kemampuan bernalar mereka.

Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengetahui perannya dalam mempersiapkan AKM.

Berikut ini adalah 7 peran guru terkait dengan persiapan AKM, yaitu :

  • Melakukan Asesmen Diagnosis Kognitif untuk membuat pemetaan kemampuan dasar siswa
  • Memberikan Scaffolding pada kelompok siswa yang membutuhkan dukungan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan
  • Membudayakan literasi (membaca) baik di kelas maupun sekolah (Gerakan Literasi Sekolah), melalui pengelolaan kelas kaya literasi, pengadaan sumber bacaan, jurnal membaca, dll
  • Melatih daya nalar siswa melalui model pembelajaran inovatif seperti : problem based learning, project based learning, discovery learning, dan inkuiri
  • Menggali berbagai stimulus yang diperlukan untuk menunjang proses berpikir siswa. Stimulus dapat berupa ilustrasi gambar, video, rekaman suara yang relevan dan kontekstual.
  • Menyiapkan instrumen asesmen yang mendukung pada upaya pencapaian kompetensi literasi dan numerasi. Contoh soal AKM yang dikembangkan Pusmenjar dapat download DI SINI
  • Melakukan remedial dan pengayaan bagi siswa sesuai pengolahan hasil belajar AKM

Jika guru melaksanakan 7 peran di atas, maka dapat dipastikan bahwa siswa akan siap dalam menyongsong AKM pada tahun 2021 ini.

Sumber : https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/

 

Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 19)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048