Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, September 21, 2020

Review dan Uji Keterbacaan Modul Literasi dan Numerasi Jenjang SD Tahap IV


 

Lebih baik bergerak dalam kegelapan demi mendapatkan seberkas cahaya, daripada diam dalam terang           --Cikgu Tere --

 

Hari ini, saya mendapat berkat yang luar biasa, bagaimana tidak ? Saya didaulat sebagai salah seorang anggota tim penelaah Modul Literasi Numerasi kelas 4 SD dalam kegiatan yang bertajuk Diskusi Kelompok Terpumpun Review dan Uji Keterbacaan Modul Literasi Numerasi Jenjang SD Tahap IV. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar) Kemdikbud. 

Dalam arahannya, Ibu Asrijanty, sebagai Kepala Pusmenjar, menyampaikan bahwa modul ini disusun sebagai bahan belajar literasi dan numerasi yang berbasis aktivitas - aktivitas yang mudah dipahami dan menarik bagi siswa. Modul ini juga secara khusus didesain untuk pembelajaran literasi dan numerasi karena literasi dan numerasi adalah keterampilan yang fundamental dalam mempelajari keterampilan - keterampilan yang lain. 

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam cakupan dan kerangka acuan pemetaan Kompetensi Dasar (KD) nya itu sendiri, bukan hanya mengangkat tentang pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, melainkan juga muatan / mata pelajaran lainnya seperti Pkn, IPA, dan IPS. Beliau juga menyatakan bahwa tujuan penyusunan modul ini adalah untuk membantu siswa yang tidak dapat mengakses pembelajaran daring. 

Modul ini terdiri dari 3 bagian yaitu: modul guru, siswa, dan orang tua yang disusun dalam beberapa tema. Tema untuk kelas 1 sama dengan kelas 2 dan 3, sedangkan tema untuk kelas 4,5, dan 6 sama. Hal ini dimaksudkan agar guru, orang tua, dan siswa mampu melihat dan menganalisis Learning Progression (kemajuan belajar) mereka. Dan hal ini pula yang membedakan buku tematik dengan modul literasi dan numerasi. 


Narasumber berikutnya yaitu Ibu Susanti dari Pusmenjar, menyampaikan terkait syarat modul sebagai bahan ajar selama BdR yaitu : harus bisa terbaca dan mudah dipahami. Bu Susan menyampaikan bahwa saat ini pihak Pusmenjar telah melakukan sosialisasi di beberapa provinsi dan kabupaten / kota yang tergabung di Regional 1 dan Regional 2. Daftar lengkap sosialisasi sebagai berikut : 


Terkait mekanisme penggunaan modul ini sendiri, Bu Susan menyatakan bahwa ada unsur fleksibilitas. maksudnya, jika sekarang pembelajaran sudah masuk di Tema 2, maka guru, siswa, dan orang tua tidak perlu menggunakan modul ini dari Tema 1, tapi bisa langsung masuk pada Tema 2. 

Selain adanya unsur fleksibilitas, berikut ini adalah hal - hal menarik yang terdapat dalam modul: 

  1. Pola kebiasaan belajar rutin (Self Regulated Learning), di tengah pandemi, pembelajaran jarak jauh menjadikan pembelajar, dalam hal ini siswa menjadi pusat pembelajaran. Sehingga diharapkan, mereka mampu menjadikan belajar sebagai kebutuhan. Modul ini dirancang sedemikian rupa dengan urutan aktivitas belajar yang dimulai dengan pesan pagi, dst yang diulang setiap hari, bermaksud untuk menciptakan pola kebiasaan belajar rutin bagi siswa. 
  2. Pemberian warna berbeda dalam setiap aktivitas modul, jika diperhatikan, dalam modul akan terdapat sejumlah aktivitas pembelajaran yang berisi instruksi dengan warna yang berbeda - beda. Hal ini dimaksudkan agar siswa, guru, dan orang tua mengetahui batasan pembelajarannya. 
  3. Isi modul bervariasi, modul literasi numerasi berisi instruksi terkait aktivitas belajar, lembar cerita, jurnal membaca, dan properti (sumber belajar dan alat peraga). 
  4. Adanya pelibatan / peran orang tua, keunggulan dari modul ini yang membuatnya semakin menarik adalah adanya pelibatan peran orang tua. Tujuan utama modul ini adalah untuk membantu memfasilitasi pembelajaran selama BdR. Orang tua dapat berperan dengan lebih maksimal melalui panduan orang tua. Karena seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa modul ini terdiri dari 3 bagian yaitu panduan untuk guru, orang tua, dan siswa. Jadi, orang tua bukan hanya mengontrol pengerjaan tugas yang dilakukan oleh anaknya dan menandatangani bukti hasil belajar mereka, namun juga terlibat dalam aktivitas pembelajaran yang disajikan. 
  5. Integrasi Karakter dan Kecakapan Hidup, modul literasi numerasi ini didesain dengan mengacu pada Kompetensi Dasar (KD) dari Kurikulum Darurat pada kondisi khusus. Dan setiap KD yang digunakan merupakan KD esensial yang terintegrasi dengan karakter dan kecakapan hidup yang tentunya sangat dibutuhkan untuk pembelajaran bermakna bagi siswa. Contohnya dalam topik pembelajaran mengenai media komunikasi, siswa belajar mengenai cara berkomunikasi dengan orang lain secara santun. Karakter yang dikembangkan adalah santun melalui sikap operasional, menyapa orang lain dengan ramah, mengucapkan salam, dll. Sedangkan untuk kecakapan hidupnya itu sendiri, siswa menerapkan teknik berkomunikasi dalam kehidupan sehari - hari ketika menyapa tetangga di sekitar rumah. 
  6. Ilustrasi yang menarik, sebuah modul akan tampak menarik dengan adanya ilustrasi yang disajikan, baik itu berupa susunan gambar, tabel, grafik, dll. Ilustrasi akan tampak menarik ketika diberi warna yang sesuai dengan komposisi yang tepat. Namun ada kondisi khusus untuk ilustrasi yang akan ditambahkan dalam modul yaitu harus mampu menjelaskan informasi yang akan disampaikan agar dapat lebih mudah dipahami. 
Selanjutnya, beliau menginformasikan kepada kami bahwa cara untuk mengakses modul literasi dan numerasi ini adalah melalui link berikut: https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/tingkat-sd-modul-belajar-literasi-numerisasi/

Setelah kami mendapat pemahaman dan kesan mendalam mengenai modul, kami pun diarahkan masuk ke dalam breakout room dengan jumlah peserta sekitar 13 orang. Di dalam room tersebut, ada seorang koordinator / PIC, seorang pejabat dari Dit.PSD dan peserta sebagai penelaah modul yang terdiri dari guru dan orang tua. 

Dalam kegiatan kemarin, saya masuk di BOR 8 dengan PIC yaitu Bpk. Lambas dari Pusmenjar. Saya pernah mengikuti kegiatan webinar yang beliau fasilitasi yaitu mengenai penyederhanaan RPP di masa pandemi. Waktu itu, saya menyimak materi yang beliau paparkan dan saya merasa sangat senang dengan style beliau dalam memandu peserta webinar. 

Sehingga, ketika saya mengetahui bahwa PIC nya adalah Pak Lambas, saya merasa sangat antusias. dalam mengikuti kegiatan ini. Pak Lambas menyampaikan hal - hal yang perlu direview, yaitu : 
  • Telaah halaman per halaman
  • Instruksi (ke guru dan orang tua)
  • Isi (kalimat, kosa kata, gambar, ilustrasi, kegiatan, konteks, warna), apakah kalimatnya mudah dipahami, kosa katanya kompleks atau tidak, gambarnya jelas atau tidak, ilustrasinya tepat atau tidak, kegiatannya yang diilustrasikan harus jelas agar tidak ada bias gender, perhatikan konteksnya, misalnya ilustrasi ikan dengan nelayan. Kemudian, warnanya apakah silau atau tidak ?
  • Koneksi ke link atau barcode, apakah link dan barcodenya mudah diakses dan terbaca seperti tujuannya
  • halaman, apakah berurutan atau lompat ? 
Sedangkan untuk teknis telaah itu sendiri, beliau menyampaikan bahwa kami akan melakukan telaah dengan menggunakan aplikasi figma. Ini adalah hal yang baru bagi saya. Jujur, saya merasa gugup, apalagi saat Pak Lambas meminta saya untuk melakukan simulasi telaah dengan menggunakan aplikasi figma. 

Untuk masuk ke dalam aplikasi figma, kita harus log in melalui akun google kita dan membuat akun figma. Berikut ini adalah tampilan aplikasi figma: 


Setelah masuk ke dalam aplikasi figma, kita bisa mengklik tanda bulat berekor di bagian kiri atas, untuk menambahkan comment. Jadi ketika kita menemukan hal - hal yang perlu kita perbaiki dalam modul, kita bisa meletakkan kursor nya di bagian tersebut dengan cara mengetiknya lalu klik post. Sedangkan untuk pindah ke halaman berikutnya atau kembali ke halaman sebelumnya, kita bisa menggunakan tombol < > yang ada di bagian bawah halaman. 

Tantangan terbesar saat melakukan telaah modul literasi numerasi adalah kita harus teliti dalam melihat bagian per bagian dari setiap halaman modul. Baik dari struktur kalimat, ilustrasi, dll. Sementara jumlah halaman modul itu sendiri bervariasi. Untuk panduan guru kelas 4 tema 2 minggu ke 4, terdiri dari 40 halaman. Panduan orang tua terdiri dari 19 halaman, dan panduan siswa terdiri dari 120 halaman. Sedangkan waktu yang diberikan adalah mulai dari Pukul 11.00 - Pkl. 14.00 WIB. Dan waktu untuk istirahat, diberikan mulai Pkl.12.00 - Pkl.13.00 WIB.

Setelah kami memahami cara melakukan telaah dan mencoba menelaah modul tersebut, kami juga diminta untuk mengisi borang. Saya mengernyitkan dahi, apa itu borang ? Namun, setelah ditunjukkan maksudnya, saya pun tersenyum. Rupanya borang yang dimaksud adalah formulir online yang bisa kita isi, seperti google form. Setiap penelaah modul, baik guru maupun orang tua, mendapat satu borang pribadi untuk diisi. Pak Lambas menekankan kepada kami untuk mengetahui posisi borang masing - masing, agar tidak salah mengerjakan. Karena jika kita salah mengisi borangnya, maka pekerjaan kami tidak akan terekam oleh sistem secara online. 
ini adalah tampilan di dalam borang: 



Hal yang diisi di dalam borang adalah masukan secara umum terhadap modul literasi numerasi. Baik untuk panduan guru, orang tua, maupun siswa. Beberapa pertanyaan di dalam borang adalah sbb: 
  • Apakah kegiatan - kegiatan pembelajaran yang dimuat dalam modul dikenali oleh guru, orang tua dan anak ?
  • Apakah kegiatan - kegiatan pembelajaran yang dimuat dalam modul mudah dilakukan anak dengan pendampingan orang tua ? 
  • Apakah sumber bacaan dan alat peraga mudah didapatkan oleh siswa/orang tua ? 
  • dll 
Namun, hingga pukul 14.00 WIB, peserta belum menyelesaikan semua pekerjaan. Sehingga kami diberikan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan sampai Pukul 24.00 WIB tadi malam. Dan tepat Pukul 20.00 WITA, saya pun bisa menyelesaikannya. 

Saya merasa sangat bersyukur, karena saya diberikan kesempatan belajar menjadi penelaah modul literasi numerasi dengan event nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemdikbud. Dalam hal ini, selain mendapat ilmu baru dan pengalaman yang luar biasa, saya juga punya kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap LKS / Bahan ajar yang sudah saya buat dan saya kembangkan untuk skala sekolah dan tingkat Kabupaten Sumba Tengah selama ini. 

Ternyata, untuk menghasilkan suatu produk berupa bahan ajar, tidak bisa hanya dilihat bagus atau tidak menurut perspektif si penulisnya. Namun, perlu juga dilakukan sebuah proses telaah, revisi, dan bahkan uji keterbacaan untuk sampai pada tahap sosialisasi dan implementasi. 

Namun, saya juga sepenuhnya mengapresiasi rekan - rekan guru yang sudah mulai bergerak di daerah masing - masing dalam menyediakan bahan ajar selama melaksanakan pembelajaran di tengah pandemi, baik itu bahan ajar yang disampaikan melalui LKS, modul atau pun dalam bentuk elektronik / digital seperti melalui blog dan video. Setidaknya, hal ini yang sangat diperlukan pada masa sekarang, yaitu guru - guru yang kreatif, mau bergerak untuk berjuang walaupun di tengah keterbatasan. 

Dan hal ini pula yang mendorong saya untuk membagikan pengalaman singkat namun luar biasa ini melalui tulisan sederhana di blog. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca, rekan - rekan Cikgu Tere. 

Salam Guru Penggerak, Salam Literasi. 




Sumber
Bahan sosialisasi modul literasi numerasi regional 1 Klik di sini
Bahan Review Uji Keterbacaan Modul Literasi Numerasi Tahap IV







Tuesday, September 15, 2020

Belajar Dalam Mengajar



"Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan"              Orang Rimba


Merdeka Belajar merupakan sebuah gagasan di mana guru sebagai pemimpin pembelajaran, membawa peserta didik ke dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih bermakna bagi kehidupan mereka. 

Untuk dapat mencapai kemerdekaan belajar, seorang guru terlebih dahulu harus belajar bagaimana cara menjadi guru yang seharusnya. Inilah yang akan saya bagikan pada artikel kali ini tentang panduan menjadi guru merdeka belajar di tengah pandemi. Artikel ini disarikan dari Kegiatan Kuliah Umum Pembatik Level 4 bersama narasumber Kak Butet Manurung dengan moderator Ibu Restyn Yusuf sebagai Duta Rumah Belajar Papua . 

Belajar Dalam Mengajar, Versi Kak Butet Manurung 

Kak Butet pertama kali masuk ke Rimba Bukit Duabelas Jambi pada tahun 1999 sebagai seorang antropolog yang meneliti masyarakat adat orang rimba yang merupakan peburu peramu, Kak Butet ingin menggali model pendidikan seperti apa yang mereka (Orang Rimba) butuhkan. Dalam perjalanannya, Kak Butet menemukan beberapa hal menarik terkait paradigma pendidikan, yaitu : 

Cara pandang / perspektif : Pintar dan bodoh itu tergantung siapa yang bicara dan di mana kita berada. Contoh pengalaman saat Kak Butet dikejar beruang dan tak bisa naik pohon karena pakaian dan sepatunya tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Maka anak Rimba mengatakannya bodoh karena sudah tinggal bertahun - tahun di hutan, tapi belum bisa panjat pohon. 

Ada sekolah kontekstual di Rimba. Anak - anak dari kecil sudah belajar tentang hal yang kontekstual. Contoh : anak belajar menangkap hewan kecil dengan ketapel atau jerat. Di sekolah ini ada 3 metode belajar : observasi, bermain, dan eskplorasi. Sistem pendidikan lokal tidak mengenak kelas seperti di sekolah formal, tetapi mengenal tingkatan. Tingkatan 1 : berburu hewan kecil seperti tikus, tingkatan 2 : berburu ular, tingkatan 3 : mengambil madu di pohon yang tingginya mencapai 100 meter. Hal tersebut, menurut Kak Butet sudah konstektual karena apa yang mereka pelajari sudah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari - hari. 

Dari temuan - temuan di atas, Kak Butet berpikir, seperti apakah pembelajaran yang harusnya ia berikan kepada mereka. Karena ternyata mereka sudah melakukan pembelajaran kontekstual. Dalam kebersamaannya hidup bersama dengan Orang Rimba, Kak Butet justru menemukan fakta baru yaitu kondisi sebenarnya yang merupakan masalah - masalah dari luar yang  dihadapi oleh Orang Rimba itu sendiri, dan ternyata masalah tersebut masih tidak bisa diatasi oleh sistem pendidikan konstektual yang telah mereka lakukan. 

Contohnya ketika pada tahun 1980 an, puncak pembangunan REPELITA mengakibatkan terjadinya konversi besar - besaran area hutan tempat hidup Orang Rimba. Di sinilah Kak Butet mencoba masuk dengan mengajarkan baca dan tulis. Namun upaya ini ditolak berkali - kali oleh Orang Rimba, karena hal ini dianggap tabu. Bahkan mereka menyebut pena adalah Setan Bermata Runcing. Karena setiap kali mereka berhubungan dengan orang yang punya pensil / pena maka akan selalu sial. Penolakan ini menyebabkannya harus berpindah - pindah selama 7 bulan dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. 

Kak Butet terus berproses. Ia memutar otaknya, merefleksi apa yang masih salah dan akhirnya, ia mencoba melakukan pendekatan baru, dengan berupaya menjadikan dirinya sebagai teman mereka, bukan menjadi musuh bagi mereka. Kemudian Ia menunjukkan bahwa baca tulis ini berguna. Namun, ternyata baca tulis saja tidak cukup menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. 

Dari situlah muncul awal pemikiran tentang Sokola. Tepatnya ketika pendidikan yang diberikan tidak menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. 

Metode hadap masalah 

Kak Butet menemukan metode baru yang dirasakan lebih efektif bagi Orang Rimba. Ia menyebutnya metode hadap masalah. Ia menyadari bahwa sekolah mereka adalah bagaimana melawan setan bermata runcing. Sehingga Ia menghadirkan konteks ke dalam konten pembelajarannya. Contoh : Ada berapa ekor rusa di hutan ? Mengapa berkurang ? Mengapa hutan tinggal sedikit ? 
Ia berharap dengan penerapan metode pembelajaran seperti ini, peserta didik akan lebih memahami pentingnya belajar. 

Sebenarnya ada banyak sekali teori terkait pendidikan. Namun hal yang paling dekat dengan tujuan pendidikan itu sendiri, sebenarnya merupakan sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh setiap pendidik. Dalam melaksanakan pendidikan bagi Orang Rimba, Kak Butet sendiri mempunyai kepercayaan bahwa setiap masyarakat bukanlah entitas kosong atau tidak berdaya. Siswa sudah mempunyai bekal kemampuan dan pengetahuan. 

Sebaliknya, menurut Kak Butet, sistem pendidikan yang diberikan di sekolah formal belum mampu mengakomodir semua keunikan dari peserta didik. Dan sistem pendidikan seperti itu dianggap tidak operasional bagi mereka. 

Alasan sekolah formal tidak operasional bagi orang rimba : 
  1. Sekolah formal mengajarkan kemampuan yang sesuai dengan kondisi/potensi sekitarnya. Orang Rimba ingin pembelajaran itu berdampak saat ini segera setelah proses belajar
  2. Sekolah formal tidak mengakomodir cara belajar lokal dan sifat alamiah yang dinamis di alam bebas 
  3. Sekolah formal tidak (ajar) mengatasi persoalan kehidupan dan perubahan sekitar peserta didik (setan bermata runcing) 
  4. Sekolah formal tidak (belajar) merespon persoalan kehidupan dan perubahan sekitar anak (setan bermata runcing) Contoh : belajar cara penanggulangan banjir di sekolah 
  5. Sekolah formal tidak mengakomodasi nilai dan kebenaran versi lokal
  6. Sekolah formal adalah sekolah untuk pergi. Karena ilmu yang dipelajarinya tidak sesuai dengan konteks realitas yang ada di sekitarnya. 

Berkaitan dengan kepercayaan bahwa siswa bukanlah kertas kosong, Kak Butet merumuskan sikap Humility (kerendahan hati) sebagai sikap mental yang harus dimiliki oleh seorang guru. Guru harus mempunyai kerendahan hati. Makna pendidikan adalah membebaskan. Mengeluarkan dari permasalahan. Dalam hal ini, guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar yaitu belajar. Mengajar itu  sarana pendidikan, bukan tujuan! 

Implementasi pembelajaran literasi 

Pernahkah guru merasa kesulitan mengajarkan cara membaca pada siswa kelas rendah ? Terlebih pada siswa yang berada di sekolah 3T yang didominasi oleh penggunaan bahasa lokal dibandingkan Bahasa Indonesia ? 

Tips berikut ini akan membantu kita untuk melakukan pembelajaran terkait literasi dengan lebih menyenangkan dan bermakna: 
  • Menghargai keunikan pemerolehan bahasa. Kita punya banyak sekali bahasa dan simbol yang istimewa. Hal itu merupakan sesuatu yang unik. Jenis makanan dan kondisi geografis akan turut mempengaruhi pelafalan huruf. Jika anak merasa kesulitan belajar membaca, sebenarnya itu bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan sebuah keunikan yang harus dihargai. Guru perlu menentukan metode yang tepat untuk membelajarkannya. Berikut ini adalah metode silabel sokola yaitu 16 metode baca tulis  yang diterapkan dalam waktu 2 minggu:
  • Mengajarkan kesadaran kritis dan kepekaan sosial sejak dini, contoh : mengajarkan baca tulis dengan mengangkat topik penyakit malaria yang menjadi wabah di daerah tersebut. 
  • Menerapkan literasi dasar dalam keseharian (literasi terapan). Contoh : soal cerita matematika tentang uang. 

Praktik Baik Merdeka Belajar ala Orang Rimba 

Selain implementasi pembelajaran literasi, Kak Butet juga melakukan upaya - upaya lain untuk mendukung Sokola, sistem pendidikan yang diyakini olehnya akan memberikan dampak baik bagi Orang Rimba, yaitu : 
  1. Melibatkan para pemuka adat supaya memastikan pembelajaran secara tradisional juga berlangsung. Kegiatan ini disebut wawasan kerimbaan.
  2. Wawasan dunia luar. Pembelajaran relevan, misalnya membuat film dokumenter terkait kehidupan mereka sehari - hari. Hal ini akan lebih bermanfaat bagi mereka dalam rangka mempertahankan kearifan lokal dan mengedukasi dunia luar melalui cara hidup mereka yang sangat harmonis dengan alam sekitar. 
  3. Pendidikan yang mendukung advokasi. Mengakses kesehatan, jalur hukum untuk mempertahankan haknya. Hal ini merupakan pengembangan lanjutan dari pengetahuan yang sudah mereka pelajari sebelumnya. 
  4. Membentuk kader dan pengorganisasian. Ditujukan bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih. 
  5. Menyambungkan mereka dengan jaringan atau pihak yang relevan
  6. Pastikan guru menghargai keberagaman/sudut pandang lokal. Gunakan bahasa lokal untuk mengajar bahasa tulis. Penyeragaman kurikulum dan tolak ukur akan menyebabkan penyeragaman kecakapan. Tuntuan dengan lokasi yang tidak match akan mendorong mereka untuk melakukan urbanisasi karena ilmunya hanya bisa diterapkan di kota. 


Kurikulum Sokola Rimba 


Kurikulum Sokola Rimba disusun oleh sekolah bersama masyarakat. Jika akhirnya masyarakat sudah memiliki dan mampu mengembangkan kurikulum ini, maka Sokola akan menghentikan intervensi dan memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk mengembangkannya sendiri. 

Message / Pesan yang ingin disampaikan : 

  • Pendidikan kontekstual adalah kunci. Jangan sampai sekolah menjadi sekolah untuk pergi. Dan bawalah konteks yang ada di situ membentuk konten dari kita, bukan sebaliknya konten yang kita bawa membentuk konteks masyarakat yang ada di situ. 
  • Pendidikan harus konstektual berdampak, artinya berkontribusi dalam kehidupan. Orang Rimba bertanya "Sungai di Jakarta kok kotor? bukannya Orang di Jakarta sekolah semua? " "Pintar fisika tapi gak bisa benerin setrika rusak, itu aneh.""Kenapa justru di depan sekolahan banyak plastik, bukankah plastik itu buruk untuk lingkungan?" 





Sumber : Klik di Sini