Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, June 30, 2020

Kupas Tuntas Metode dan Media / APE yang Sederhana dan Menarik di Masa Pandemi Covid 19 (Resume Materi Webinar Kemdikbud Sesi 2 :Selasa, 30 Juni 2020)

Webinar Kemdikbud
Pak Cecep Kustandi, Narasumber Webinar


Hari ini Selasa, 30 Juni 2020, saya merasa sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya. Beliau adalah Bpk. Cecep Kustandi. Pak Cecep merupakan Kepala Pusat Sumber Belajar  di Universitas Negeri Jakarta, selain itu beliau juga aktif dalam menulis berbagai jurnal termasuk jurnal internasional seperti Scopus. Pemegang 10 HAKI media pembelajaran ini akan berbagi ilmu dan pengalamannya dalam topik Kupas Tuntas Metode dan Media / APE yang Sederhana dan Menarik di Masa Pandemi Covid 19 selama kurang lebih 2 jam. 

Pada bagian pembukaan, ditayangkan lagu Indonesia Raya kemudian host sekaligus moderator yaitu Ibu Nita Isaeni, menyampaikan permohonan maaf berhubung salah satu narasumber berhalangan hadir saat webinar kali ini. 

Kemudian, Ibu Nita mengajak kami untuk berdoa dan kami pun siap untuk mengikuti acara webinar pada hari ini. Saya juga sudah menyiapkan alat tulis untuk mencatat semua poin penting yang akan disampaikan oleh narasumber. 

Pada bagian pertama paparan yang disampaikan oleh Pak Cecep, kami diajak untuk mengakses materi beliau sekaligus berinteraksi langsung melalui mentimeter. Kami pun langsung mengakses menti.com melalui perangkat laptop dan hp dan memasukkan kode yang beliau sediakan. 

Dalam menti.com, kami diminta untuk memberikan respon terkait pertanyaan - pertanyaan berikut : 
1. Media apa yang dimanfaatkan untuk pembelajaran pada masa pandemi ini ? 
Berdasarkan respon peserta diperoleh jawaban bahwa media yang paling banyak digunakan selama masa pandemi adalah whatsapp, lalu zoom, youtube, google form, dan google classroom. 
2. Selama BdR saya menggunakan media untuk apa ? 
Berdasarkan respon peserta, media lebih banyak digunakan untuk memberikan tugas, memberikan materi, berdiskusi dengan peserta didik, dan memberikan ulangan/ujian 

Setelah itu, kami pun diberikan satu pertanyaan berupa kuis yang harus dijawab dengan sangat cepat, yaitu : Apakah tatap muka bisa digantikan dengan tatap maya menggunakan media zoom, webex, google meet, dsb ? 
Dan inilah respon peserta : sebanyak 110 peserta menjawab tatap muka bisa digantika n oleh tatap maya dan 55 peserta menjawab tidak bisa. 

Kemudian pertanyaan terkait kesiapan guru dalam menghadapi kegiatan belajar di tahun ajaran baru dalam nuansa BdR adalah sebagai berikut : 



Setelah mengambil pre test pada peserta webinar, Pak Cecep menyampaikan paparannya. Beliau mengatakan bahwa metode / aktivitas belajar dapat diibaratkan sebagai King dan media sebagai Queen.Keduanya harus berjalan dengan baik dan secara harmonis. Kunci utamanya adalah interaksi. 

Contoh media yaitu : video, slide presentasi, ebook, audio, dll. Sedangkan contoh metode / aktivitas belajar yaitu : simulasi, diskusi, proyek kolaborasi, dll. Dan penggabungan antara King dan Queen yaitu pelaksanaan diskusi melalui grup WA. 

Pak Cecep juga memberikan gambaran aktivitas belajar yang dapat dilakukan oleh peserta didik selama pandemi. Beliau menggunakan istilah PEDATI (diadaptasi dari Chaeruman,2019). PEDATI adalah akronim dari Pelajari (Learning), Dalami (Deepening), Terapkan (Applying), dan Evaluasi (Measuring). 

Lebih lanjut, beliau menjelaskan sebagai berikut : aktivitas pelajari (learning) adalah aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik untuk belajar dari berbagai sumber belajar. Kemudian aktivitas dalami (deepening) merupakan aktivitas belajar yang dilakukan dalam rangka mengkonfirmasi materi belajar yang disampaikan oleh pendidik melalui sumber belajar, apakah sudah sesuai atau belum. Kegiatan konfirmasi ini dapat dilakukan melalui aplikasi tatap maya seperti zoom, webex, google meet, dll. 

Berikutnya adalah aktivitas terapkan (applying). Dalam hal ini, peserta didik diharapkan agar dapat menerapkan konsep - konsep pembelajaran yang telah dipelajarinya dalam kehidupan sehari - hari dan terutama digunakan untuk mengerjakan penugasan dari guru. Catatan penting bagi guru dalam memberikan penugasan adalah hendaknya memberikan penugasan yang bersifat kolaboratif. 

Makna dari penugasan kolaboratif adalah penugasan yang memungkinkan siswa (khususnya siswa di SMP) untuk bekerja sama mengerjakan tugas berupa Problem Based Learning dan Project Based Learning dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. 

Dan aktivitas belajar yang terakhir adalah evaluasi (measuring) dengan menggunakan aplikasi kahoot, quizizz, google form, dll. 


Namun, jika di daerah tersebut tidak tersedia jaringan/listrik, maka aktivitas pembelajaran dapat terus dilakukan dengan menggunakan : LKS, papan (board,), board game, puzzle, media 3 dimensi (model, mock up, diorama), dan sumber belajar lainnya. 

Pada bagian berikutnya, Pak Cecep mengajak peserta untuk kembali berinteraksi melalui Slido dengan cara mengakses sli.do dan masuk dengan menggunakan kode yang disediakan. Menurut beliau, slido dapat digunakan untuk pembelajaran dengan sangat mudah. 

Guru dapat membuat beberapa jenis pertanyaan dengan menggunakan Slido. Misalnya open question (jawaban singkat), rating, survei, dll. Contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan pada siswa adalah pertanyaan yang menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). 

Selain untuk mengerjakan tugas, Slido juga dapat digunakan untuk berdiskusi melalui fitur Question & Answer (Q & A). Hal yang sangat menarik bagi saya dari Slido ini adalah pengerjaannya yang real time. Jadi pada saat yang sama, respon dapat dibaca oleh guru dalam fitur polling. 




Selain menti.com dan Slido, Pak Cecep juga memperkenalkan aplikasi baru kepada peserta webinar yaitu Seesaw. Aplikasi ini dapat diakses melalui browser laptop dengan mengakses www.seesaw.me sedangkan bagi pengguna android, dapat juga menginstal aplikasi seesaw class dari playstore. 

Setelah masuk melalui www.seesaw.me, pserta dapat sign up free dan masuk melalui akun gmail. Setelah itu memilih peran : sebagai guru, sebagai siswa, atau sebagai anggota keluarga). Nah, ini adalah hal menarik dari aplikasi seesaw jika dibandingkan dengan aplikasi serupa seperti google classroom, teams, dll. 




Dalam aplikasi seesaw, orang tua dapat langsung mengakses kegiatan belajar anak - anaknya secara real time. Dalam hal ini, guru harus lebih dulu melakukan pengaturan untuk mengizinkan orang tua / anggota keluarga dapat mengakses kelas seesawnya. Selain itu kelebihan dari seesaw adalah kita dapat menggunakan aktivitas belajar yang sudah dirancang oleh guru - guru lain di seluruh dunia yang tergabung dalam community kelas seesaw. 

Untuk memulai kelas, guru dapat melakukan sign up melalui akun gmailnya lalu klik create class dan membuat nama kelas serta tingkat kelasnya (grade). Kemudian menambahkan siswa. Jika guru sudah mempunyai kelas di google classroom, maka bisa langsung menambahkan siswanya. Namun jika belum, maka bisa menambahkan siswa dengan mengundang alamat emailnya. 

Kemudian guru dapat membuat instruksi yang akan dikerjakan oleh siswa. Seperti absensi, soal - soal pertanyaan, dan penugasan seperti membuat video, dll. Setelah kelas disetting, maka selanjutnya guru dapat membagikan kode kelas kepada siswa agar siswa dapat mengakses aktivitas / instruksi di kelasnya. 

Pak Cecep menyampaikan bahwa teknologi sebenarnya dapat membantu kegiatan BdR yang dilakukan oleh siswa, namun walaupun demikian, tatap muka tetap tidak bisa digantikan oleh tatap maya. Karena jika tidak ada tatap muka, maka siswa harus belajar secara personal mandiri (self directed asyinchronous learning) dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Selain itu, siswa juga perlu melakukan tatap maya dengan guru dan siswa yang lain untuk mengkonfirmasi pemerolehan hasil belajar mereka secara mandiri. Dan berikutnya, mereka pun perlu berkolaborasi dalam mengerjakan penugasan yang diberikan. 

Catatan penting yang harus diperhatikan ketika guru menggunakan media adalah jaminan kualitas media itu sendiri (quality guarantee). Pastikan bahwa media yang digunakan melibatkan interaksi antara : peserta didik dengan obyek belajar, 
peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan sumber belajar yang lain, dan interaksi yang terjadi secara intensif. 

Kesimpulan : apapun medianya tidak akan maksimal jika tidak ada aktivitasnya. 

Catatan : Artikel ini merupakan resume webinar kemdikbud hari Selasa, 30 Juni 2020 dan perdana tayang di blog ini. Copas tidak diperkenankan namun silakan share jika artikel ini bermanfaat. Terima kasih. 

Salam blogger, salam persahabatan. 









Monday, June 22, 2020

Cara Menampilkan File PDF di Blog Dengan Profesional



Sahabat Cikgu Tere, membuat konten di blog ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selain konten yang dibuat harus bermanfaat bagi orang lain, konten tersebut juga harus mempunyai tampilan yang baik dan menarik. Berikut ini, Cikgu Tere akan berbagi cara untuk menampilkan file dalam format pdf di blog kita agar tampilannya terlihat profesional. Penasaran kan bagaimana caranya ?Sebelumnya, coba sahabat amati dulu contoh berikut ini :

Contoh di atas merupakan contoh file pdf yang ditampilkan secara langsung di blog kita. Terlihat lebih menarik dan profesional jika dibandingkan dengan file pdf yang sekedar kita sematkan link nya dalam artikel kita. Nah, tertarik untuk mencobanya ? 

Sebenarnya cara ini sudah lama dipakai dan dipraktekkan oleh para blogger. Namun, sejak tampilan blogspot berubah beberapa waktu yang lalu, maka caranya sedikit berbeda lho! Yuk, simak baik - baik caranya : 
  1. Pastikan bahwa file pdf yang akan kita sematkan di blog, sudah diupload ke google drive
  2. Login ke google drive menggunakan alamat gmail 
  3. Double klik pada file pdf yang akan kita sematkan di blog 
  4. Klik tanda titik tiga di bagian kanan atas lalu klik buka di jendela baru 
      
      
      5. Setelah file terbuka, klik tanda titik tiga lagi lalu klik sematkan item

      

      6. Copy link yang tampil (Ctrl A + Ctrl C) 

      
      
      7.  Login ke blogger 
      8.  Buat postingan baru, lalu klik tanda < > di bagian kanan atas
      9.  Paste link yang tadi, atur lebar dan tinggi dokumen dengan mengganti angkanya 
           secara manual lalu klik save 
     10. Untuk melihat hasil, klik preview (ikon seperti mata) di bagian kanan atas 

Catatan : pada saat preview, tampilan pdf nya tidak bisa dislide. 

Nah, mudah kan cara menampilkan file pdf di blog dengan tampilan baru ini ? Sahabat dapat langsung mempraktekkannya di blog masing - masing. Dijamin, konten yang sahabat buat akan terlihat lebih profesional. 

Salam blogger, salam persahabatan. 

Saturday, June 20, 2020

Apapun yang Anda Kerjakan, Tidak Akan Gagal Setelah Membaca Ini






Apakah Anda pernah mengalami sebuah kegagalan dalam hidup Anda ? Misalnya dalam pekerjaan atau dalam kehidupan sehari - hari Anda bersama keluarga dan di tengah masyarakat ? Jangan kuatir, artikel berikut ini akan mengajak Anda untuk bertransformasi dari kegagalan menjadi kesuksesan.

 
Sahabat Cikgu Tere, sebagai seorang guru, tentunya kita sangat menginginkan agar anak - anak yang kita didik dapat berhasil meraih prestasinya. Beragam strategi kita gunakan agar kita dapat lebih leluasa dalam membantu siswa - siswa kita memunculkan potensi - potensi yang kita miliki. Namun, apa daya, di antara sekian puluh siswa yang ada di kelas kita, hampir pasti ada siswa yang dikatakan sebagai siswa yang kurang berhasil, karena pencapaiannya belum memenuhi standar yang ditetapkan (KKM). 

Pun demikian, dalam pekerjaan kita yang lain, misalnya ketika mengikuti sebuah perlombaan kreativitas guru, ternyata usaha yang sudah kita kerahkan semaksimal mungkin masih belum bisa menjadikan karya kita menjadi karya yang terbaik dan kita gagal menjadi juara. Apa yang Anda rasakan ? Apakah Anda kecewa ? Sedih ? Marah ? Merasa tidak adil ? Semuanya terdengar sangat manusiawi. Karena salah satu motif alami yang kita miliki adalah motif berprestasi. 

Banyak orang yang terus gagal dan enggan untuk berusaha kembali, namun ada juga orang yang berusaha bangkit dari kegagalannya tanpa pernah menghitung berapa kali ia gagal, karena baginya yang terpenting adalah berapa kali ia akan sanggup berdiri lagi dari kegagalannya. 

Pasti Anda mengetahui bagaimana seorang Thomas Alva Edison merasakan kegagalan sampai ribuan kali dalam proses penemuannya. Edison juga manusia biasa, namun ketika ditanya tentang ribuan  kegagalan yang dialaminya, Edison mempunyai jawaban yang sangat kreatif, "Saya tidak gagal, saya menemukan ribuan cara yang belum bekerja". Jawab Edison 

"Orang yang gagal mengeluarkan kreativitasnya sering kali bukan karena tidak mampu, tapi karena salah menciptakan makna dari keadaan, peristiwa, atau realitas." 

Jadi kesimpulannya, kita perlu melakukan transformasi. Apa itu transformasi ? Transformasi dapat dimaknai sebagai proses mengolah atau mencerna untuk melahirkan diri yang baru. Contoh transformasi adalah mengubah mindset gagal menjadi sukses dalam bentuk yang baru. 

Misalnya ketika naskah Anda gagal dibukukan karena writers block, buatlah menjadi artikel tunggal lalu Anda kirimkan ke majalah atau surat kabar. Jika ditolak oleh majalah atau surat kabar, publikasikan di blog komunitas atau blog personal. Bukan tidak mungkin, dari pengalaman ini, justru Anda akan sukses untuk menulis buku tentang perjalanan naskah yang Anda tulis. Sehingga tepat jika dikatakan juga bahwa gagal hanyalah sukses yang tertunda. Demikian juga ketika kita sebagai guru, dalam kasus di atas, ketika ada siswa yang kurang berhasil, kita perlu menciptakan strategi baru yang tepat baginya. 

"Lihat, kemarahanku terbentuk selama 5 minggu, ketidak mengertianmu juga terbentuk selama 5 minggu. Tapi pada setiap minggu tingkat marahku berbeda - beda, tingkat tidak mengertimu juga berbeda - beda. Para ilmuwan perlu cara untuk mengukur tingkat marahku pada minggu tertentu sebagai akibat dari tingkat tidak mengertimu pada minggu spesifik itu. Nah, matematika menyediakan cara untuk mengukur perubahan parsial semacam itu, cara itu disebut.... kalkulus!

Aini terperangah. 

"Umpama kemarahan dan ketidakmengertian dapat diukur dengan jengkal, maka setiap jengkal perubahan kemarahanku adalah tanggapan terhadap setiap jengkal perubahan ketidakmengertianmu, Jengkal - jengkal itu dalam kalkulus disebut....limit!" 

Aini tertegun. 

"A..apa...apakah yang Ibu maksud adalah kata limit yang suka kulihat di buku - buku matematika itu?" 

Kini Guru yang tertegun. 

"Sekian lama kau telah belajar matematika dariku, akhirnya ada juga yang bisa kau tebak dengan benar, Boi!"

Aini sendiri terperanjat bukan buatan. Tubuhnya merinding, matanya berbinar - binar. Dia macam baru terbebas dari hipnotis kekonyolan. Guru takjub melihat moment saat ilmu menyambar seseorang.

Penggalan cerita di atas sengaja saya sertakan pada artikel ini untuk menunjukkan kepada Anda bahwa tokoh utama dalam cerita itu yang merupakan seorang guru, merasa gagal bahkan sampai patah hati karena siswanya sudah bertahun - tahun belajar matematika namun belum mengerti apa yang telah dipelajarinya. Sehingga pada suatu ketika, Guru itu tergerak untuk mencoba strategi baru dan akhirnya hal ini lah yang menjadi awal mula kesuksesan siswanya dalam mencerna setiap konsep matematika. 

Dengan demikian, proses pemaknaan terhadap peristiwa kegagalan sangat menentukan hasil akhir dari perjuangan Anda. Oleh karena itu, marilah kita sadari kembali bahwa sebenarnya Tuhan sudah menjadikan kita sebagai manusia yang dibekali dengan akal pikiran dan kreativitas yang membedakannya dengan makhluk ciptaan yang lain. Dan kreativitas itu yang akan menjadikan diri kita mampu bertransformasi, dari kegagalan menjadi keberhasilan dalam bentuk yang baru. 

Selamat berkreativitas tanpa batas. 






Referensi : 

Hirata, A. (2020). Guru Aini. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Latuconsina, H. (2017). Kreativitas Pendobrak Belenggu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.




Guru Aini dan Perahu Kayu yang Menunggu Sepasang Sepatu Baru





 
Novel Guru Aini Karya Andrea Hirata


Ngik Ngok ... Ngik Ngokkk 
Sayang anak - sayang anak 

Demikian bunyi suara yang tertinggal di kepala saya setelah kemarin, setengah hari menamatkan buku "Guru Aini" setebal 294 halaman. 

Sampai saya menuliskan kisah ini, suara itu masih hilir mudik di ruang pikiran saya. Saking kerasnya, sampai saya tidak bisa mendengar suara hati saya yang lain. Sepertinya Guru Aini pula yang menuntun jari jemari saya menari lincah, merenda kata demi kata untuk menjalin makna yang tersibak dari kemegahan jalan ceritanya. 

Baiklah, untuk sekedar berbagi bersama para pengunjung blog Cikgu Tere, malam ini saya akan menghadiahkan pesan istimewa dari kisah Guru Aini, khususnya bagi calon guru dan guru - guru lain, seperti saya, Anda, dan kita semua. 

Guru Aini, pada bagian covernya saya mendapati tulisan ini. Selain itu ada juga gambar sepasang sepatu olahraga berwarna putih dengan strip garis merah 3 di bagian sampingnya. Kondisi sepatu itu bukan lah sepatu baru. Namun sepertinya sudah bertahun - tahun digunakan. Bahkan jika ditelisik, telapak bagian kirinya lebih aus dibandingkan yang kanan. Mengapa demikian ? 

Saya berpikir bahwa Guru Aini seperti yang terbaca dalam cover buku itu adalah sosok sentral dalam ceritanya. Namun rupanya, sang maestro menggunakan sebutan itu untuk seseorang yang lain. Aini dan tokoh sentral itu berbeda nama, berbeda karakter, namun pada satu titik mereka pada akhirnya dibuat untuk bertemu satu dengan yang lain. Tepatnya di sebuah ruangan yang disebut dengan ruangan Bu Desi. Ruangan itu ada di ujung lorong bangunan ruang guru. Tak ada murid - murid yang berani dekat ruangan itu. Sering Aini mendengar kelakar dari murid - murid, kata mereka, bahkan setan tak berani masuk ruang Bu Desi itu. (Guru Aini: 92)

Bu Desi, adalah gambaran sosok idealis yang berpendirian teguh untuk mencerdaskan murid - muridnya dengan matematika. Berbekal keilmuan yang dipelajarinya serta tekadnya yang keras, Guru Desi, yang akhirnya menyakini dirinya ditakdirnya mengajar matematika sejak lahir, menambah namanya Desi Mal. 

Sebagai perempuan, cinta pertamanya adalah matematika. Karena Bu Marlis yang akan menjentikkan jarinya khas seorang biduanita organ tunggal sudah memenjarakan seluruh mimpi dan cita - citanya pada satu kata yaitu Matematika. Sehingga ketika cinta hadir dalam bentuk yang lain, sesosok manusia, pun tidak sanggup menghentikan laju mimpinya itu. 

Sepasang sepatu olahraga yang kelak diangkatnya sebagai jaminan di atas sumpahnya, selalu terikat kencang di sepasang kakinya hingga bertahun - tahun dan menambah kesan eksentrik selain luka tiga jahitan di atas alis dan tangan yang bengkok. Ternyata sepatu itu bukanlah hanya sebagai sepatu, melainkan idealismenya sendiri. 

Dalam perjalanan, ternyata diketahui bahwa usia waktu adalah 40 miliar tahun. Namun, butuh waktu lama bagi Guru Desi untuk memenuhi sumpah sepatunya. Sempat, ia jatuh cinta pada usaha yang dilakukan Debut Awaludin, seorang genius matematika, namun seperti cinta sebelumnya, sang murid membuatnya kecewa sampai tak berujung karena masa itu, Guru Desi kalah pamor dengan politik sang murid yang memilih menjadi bagian dari rombongan 9 dan pada akhirnya mengekor satu per satu anggotanya untuk DO. 

Namun, rupanya seperti konsep - konsep matematika yang saling terkait, kehidupan lama pun akan singkron dengan kehidupan masa kini, di mana salah satu anak dari anggota rombongan 9 yang selalu menolak matematika, kembali harus berhadapan muka dengan pelajaran ini. 

Adalah Aini, yang sering merasa sakit perut saat pelajaran matematika sejak Kelas 3 SD dan sering menerima tugas menghapus papan tulis di hari yang bukan bagian piketnya. Pada akhirnya secara histerik, dia menyadari bahwa penyakit ayahnya adalah penyebab dia harus beralih dari Aini yang tidak bisa matematika menjadi Aini Cita - Cita dokter. 

Aini dan Guru Desi adalah bagian yang tidak bisa terpisah. Hari - hari Aini menjadi sebuah giat baru bagi Guru Desi dan idealismenya. Betapa tidak, berbagai cara harus dipikirkannya agar Aini yang bebal matematika, bisa keluar dari penjara biner (bilangan 1 0 1 0 ) di buku ulangannya. 

Ngik Ngok Ngiiikk Nggookkk ... Sambil menjajakan mainan jualan ibunya, Aini berpicu dengan waktu. Ia sangat menyayangi ayahnya dan selama 3 tahun di SMA, Aini menghabiskan arang di rumahnya untuk mencoret tembok rumah kontrakan mereka dengan hitungan - hitungan matematika, sampai suatu saat dia menjadi seorang kampiun matematika. 

Badai rupanya kembali menghampiri Aini, kali ini ia akan mengingat bahwa matematika itu menjerumuskannya dalam kesengsaraan dan penderitaan, persis seperti yang dikatakan Guru Desi, saat ia mengadu nasib dengan mengikuti tes masuk fakultas kedokteran, Aini harus pasrah karena alasan ekonomi. Namun, rencana Tuhan, tidak mudah ditaksir dengan matematika, orang - orang baik dari masa lalunya menolong Aini mewujudkan cita - citanya. 

"Seorang murid akan bahagia jika mengerti apa yang dipelajarinya, sedangkan guru akan bahagia jika menemukan cara agar muridnya mengerti apa yang dipelajarinya" 

Aini cita - cita dokter, kembali melarikan sepasang sepatu olahraga baru menjumpai sebuah perahu kayu yang menunggu Guru Desi, siap mengombang - ambingkan mimpi dan tekad besarnya. 

------
Sahabat Cikgu Tere, beranikah kita bertindak seperti Guru Aini (baca : Guru Desi) untuk memikul tanggung jawab kita sebagai guru, menyambut setiap murid - murid yang dipercayakan kepada kita dengan segala keterbatasan mereka ? 

Mengajar itu mudah, namun itu bukanlah satu - satunya tugas kita. Tugas yang utama adalah mendidik murid - murid. Penting sekali menempatkan diri kita dengan tepat dalam kehidupan murid - murid kita. Karena jika kita bisa menempatkan diri dengan tepat, maka kita pun akan mudah menemukan posisi mereka dalam pembelajaran yang kita bawakan. 

Idealisme dalam profesi itu penting, namun bukan berarti memenjarakan  potensi lain yang mungkin masih perlu kita umpan agar ia bisa naik ke permukaan. Ingat, kesuksesan pendidikan, bukanlah karena peran tunggal seorang guru. Ibarat sebuah perahu kayu yang selalu siap menunggu, maka kapal besar bernama Indonesia juga selalu menunggu bukti bakti kita. 

Maka, kencangkanlah ikatan sepatumu masing - masing, agar badai sekuat apapun tidak akan menjatuhkanmu dari buritan. Condongkanlah telingamu untuk setiap kalimat sapaan di pagi dan siang hari sebagai pembuka dan penutup pembelajaran yang selalu didambakan oleh setiap muridmu. Sebab, kita tidak akan pernah tahu, di kelas kita, akan ada Aini - Aini lain yang menganggap bahwa gurunya adalah segala - galanya bagi masa depannya.