Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, November 9, 2020

Melompat Lebih Tinggi

 

Katalog Google Master Trainer


Hallo. Sahabat Cikgu Tere. Salam jumpa kembali di blog sederhana namun bermanfaat ini. Kali ini, penulis akan berbagi mengenai Kegiatan Google Master Trainer. Wah, kegiatan apa itu ya ? Pasti penasaran kan ? Langsung saja, ikuti ceritanya ya. 


Google Master Trainer adalah sebuah program intensif yang diselenggarakan oleh Google for Education, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Refo Indonesia. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan para widyaiswara dan guru dalam mengikuti sertifikasi internasional pendidik google level 1. Wah, hebat ya. 

Manfaat dari program ini adalah agar para widyaiswara dan guru dapat bertumbuh menjadi fasilitator pembelajaran profesional yang dapat bekerja secara efisien dan mengajar dengan interaktif dengan dukungan dari google suite for education. Selain itu, terdapat juga manfaat lainnya. Mari kita simak pada infografis berikut: 


Dengan adanya beragam manfaat yang dapat diperoleh, maka penulis merasa bersyukur menjadi satu dari antara 240 peserta yang lolos seleksi dan mendapat kesempatan untuk belajar menjadi google master trainer. Dan penulis sendiri merupakan satu - satunya kandidat Google Master Trainer yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Namun, tentunya ada harga yang harus dibayar untuk berada pada tangga kesuksesan sebagai pemegang lisensi Google Master Trainer (Sertifikat Internasional). Bukan dibayar dengan rupiah, melainkan dengan berjerih payah. Karena kegiatan pembelajarannya dilaksanakan secara synchronous melalui google meet setiap hari Senin selama beberapa pekan dan asynchronous melalui google classroom. 

Orang yang bermental sukses, mengubah kendala menjadi tantangan.  ---Cikgu Tere---

Di balik rasa syukur karena berhasil lolos hingga bisa menjadi kandidat Google Master Trainer, penulis juga merasa ragu, apakah nanti pada saat ujian di Bulan Januari, penulis dapat lolos dan mendapat sertifikat ? Dan yang lebih penting, dapatkah penulis memahami, menerapkan dan bahkan membagikan ilmu yang penulis pelajari dari kegiatan ini ? Karena salah satu ketentuan untuk lulus adalah setiap kandidat harus membagikan pengalaman serta ilmu ini kepada 50 guru lainnya. Woowww!!!

Gugup ? Pasti iya. Mengingat penulis sendiri minim ilmu dan pengalaman terkait Google for Education. Selama ini penulis baru sebatas memakai Google Classroom untuk mengikuti beberapa pelatihan online, kemudian google form dan google drive. Setelah itu ada juga google docs yang digunakan saat penulis berkesempatan mengikuti kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun Review dan Uji Keterbacaan Modul Literasi dan Numerasi yang diselenggarakan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemdikbud. Hal ini berarti penulis selama ini belum memanfaatkan Google for Education secara maksimal. 

Kondisi pandemi bagi guru yang ada daerah yang bisa menjangkau akses internet menjadi ladang belajar bagi guru dan siswa. Di mana mereka dapat memanfaatkan teknologi secara maksimal melalui pembelajaran daring. Penggunaan Google Classroom, sudah seperti buku dan papan tulis kelas yang biasa digunakan oleh penulis sampai saat ini. 

Selama pandemi, penulis menyelenggarakan pembelajaran luring, sekalipun daerah tempat tinggal penulis bisa mengakses jaringan internet, namun belum ada kesiapan yang memadai dari faktor pendukung lainnya. Belum lagi kendala listrik yang tidak stabil. Seperti hari ini, ketika penulis menghadiri kegiatan Google Master Trainer Minggu 1, terkendala listrik yang mati dari siang sampai sore hari. Berkali - kali penulis harus keluar dari meeting karena harus berganti perangkat. Beruntung, karena pihak sekolah memfasilitasi penulis dengan dua buah laptop yang bisa digunakan saat ini. Namun, tetap saja putus nyambung selama mengikuti meeting berpengaruh pada tingkat pemahaman penulis terhadap materi. 

Sedih rasanya! Ingin penulis mengundurkan diri dari program ini. Namun, penulis masih terngiang pada kata - kata dari Bpk. Steven yang mengatakan bahwa, "kita harus berani melompat lebih tinggi, keluar dari zona nyaman. Dan, Refo Indonesia ada untuk membantu Bapak/Ibu mewujudkannya." Kata - kata ini membangkitkan semangat berjuang dan jiwa pembelajar dalam diri penulis sendiri. Sehingga penulis mengurungkan niat untuk mengundurkan diri dari program ini. 

Sahabat, sebagai guru yang ada di daerah, sebuah pulau kecil dengan kondisi sarana prasarana yang minim seperti ini, penulis kerap kali menemukan diri penulis berada dalam posisi tidak nyaman. Bukan semata tidak nyaman dalam kondisi serba keterbatasan, namun lebih merasa tidak nyaman jika di era Merdeka Belajar dan Guru Penggerak ini, penulis hanya berdiam diri saja. Apalagi di tengah pandemi yang mengancam. 

Masih banyak hal yang harus penulis perjuangkan. Dan penulis yakin, bahwa di masa yang akan datang, jejak perjuangan ini akan mendarat di tempat yang seharusnya. Selama kita ikhlas, maka pasti akan ada jalan untuk belajar, berkarya, dan berbagi demi untuk kepentingan anak negeri. 

Terakhir, penulis mohon doa dan dukungan dari para sahabat, agar penulis dimampukan untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran ini untuk menjadi Google Master Trainer Level 1. Agar pada saatnya penulis dapat memanfaatkan Google for Education untuk pendidikan Sumba Tengah, NTT, dan Indonesia yang lebih baik. 



Sahabat, kali ini ada bonus video untuk para pembaca blog Cikgu Tere. Silakan disimak ya, setiap lyric nya sangat sesuai untuk menjadi spirit dalam perjuangan kita agar bisa melompat lebih tinggi. 




Saturday, October 31, 2020

JURUS 3 B HIPNOTIS PARA GURU MENJADI BUKAN GURU BIASA

 


Jumat, 30 Oktober 2020, saya diminta untuk menjadi narasumber kegiatan belajar menulis oleh Om Jay. Hal ini bermula ketika seminggu yang lalu, saya menghubungi beliau untuk mengabarkan bahwa buku terbaru saya sudah terbit. Buku ini berjudul "Bukan Guru Biasa". 

Ketika mendapat info dari penerbit bahwa  buku ini sudah terbit dan sudah dicetak, saya merasa sangat senang dan akhirnya saya pun menghubungi Om Jay, karena bagi saya, beliau adalah orang yang sangat berjasa dalam mewujudkan mimpi besar saya untuk menulis buku. 

Tepat pukul 19.00 WIB, kelas pun dibuka oleh Om Jay yang memperkenalkan saya sebagai narasumber dan Bu Aam sebagai moderator. Lalu, saya pun mulai memaparkan materi melalui chat di WAG Gelombang 16. 

Inilah luar biasanya Om Jay dkk. Mereka secara konsisten menyelenggarakan kegiatan belajar menulis untuk guru. Saya sendiri saat itu bergabung di gelombang 4. 

Sebagai pengantar, saya mengajak para peserta untuk memahami makna Bukan Guru Biasa. Bahkan saya pun menyebut bahwa para peserta kegiatan belajar menulis sebagai guru yang bukan biasa - biasa saja. Karena mereka telah mengupgrade kompetensi profesionalnya sebagai guru dengan memilih jalan sebagai seorang guru blogger.

Setelah itu, saya berbagi pengalaman dalam menulis resume dan artikel di blog sebagai hasil belajar bersama Om Jay dkk. Untuk memperkuat pesan, saya juga menyertakan berbagai apresiasi yang saya peroleh dari hasil menulis artikel di blog dan mengikuti berbagai kegiatan lomba menulis. 

Secara khusus, saya membuat formula yang bisa dijadikan pedoman oleh guru yang ingin menulis buku, yaitu IDOLA. Identifikasi topik yang menarik, Daftar judul yang luar biasa, Outline yang jelas akan membantu, Lanjut menulis isi setiap bab dan Atur layout sesuai keinginan penerbit. 

Kemudian saya membagikan beberapa alasan yang menyebabkan saya akhirnya menyenangi dunia tulis menulis. Di antaranya adalah menyalurkan hobi, berekspresi, dan menuai prestasi. 

Satu jam pun berlalu. Sesi berikutnya adalah tanya jawab. Beberapa peserta melemparkan pertanyaan terkait dengan motivasi menulis dan tips bagi penulis pemula. 

Suasana berjalan hangat dan lancar sampai akhirnya waktu pun habis. Sebelum berakhir, saya sempat menyampaikan rencana saya berikutnya untuk menggarap buku terbaru mengenai dunia blogger. Semoga buku ini dapat membantu para blogger pemula dalam menyelami dunia barunya. Amin. 

Saya merasa senang karena sudah menyelesaikan tugas dari Om Jay yang memberikan ruang belajar, berkarya dan berbagi dengan menjadi narasumber kegiatan tadi malam. 

Saya mendapatkan banyak energi positif yang diberikan oleh para guru blogger. Antusiasme mereka terlihat dengan adanya link resume dari blog masing - masing yang disematkan di chat WAG Belajar Menulis Gelombang 16. 

Tanpa menunggu lama, jari jemari saya pun menjelajah setiap resume yang ada di blog para guru blogger tersebut. O, ya, aktivitas ini disebut juga sebagai blog walking. 

Saya merasa terpukau dengan resume yang mereka tuliskan. Masing - masing blogger mempunyai style tersendiri yang khas. Ada yang senang menulis dengan diksi puitis, ada yang mengutamakan layout dan ilustrasi, ada juga yang hadir dengan tampilan full colour, dan ada juga yang menarik perhatian saya karena gaya menulisnya yang ringan, bahkan terkesan Anti Mainstream. Membaca resumenya seperti sedang menonton stand up comedy. Ada juga yang mengajak saya berimajinasi karena gaya menulisnya menghadirkan alur bercerita antara seorang bapak dengan anaknya. 

Namun, apa pun bentuk resume yang disajikan oleh para blogger, saya tetap bersyukur karena dari sedikit ilmu dan pengalaman yang saya bagikan tadi malam, dapat bermanfaat bagi orang lain. Buktinya mereka bisa menulis sesuatu yang menginspirasi dan bahkan memotivasi diri mereka sendiri untuk keluar dari zona nyaman, istilahnya naik kelas menjadi Bukan Guru Biasa. 

Berikut ini adalah resume dari peserta pelatihan tadi malam : 

https://sittihasnidar.blogspot.com/2020/10/bukan-guru-biasa.html

https://idaafriharahap.blogspot.com/2020/10/dua-jam-bersama-cikgu-tere-bukan-guru.html

https://aamnurhasanah12.blogspot.com/2020/10/bukan-guru-biasa.html

http://ninghandayanibanpres.blogspot.com/2020/10/bersama-idola-mimpi-menjadi-penulis-di.html

https://tienspenti.blogspot.com/2020/10/cikgu-tere-sang-guru-idola.html

https://yuliyatimandaku.blogspot.com/2020/10/belajar-menulis-bareng-om-jay-hari-ke_30.html

http://elkaumany.blogspot.com/2020/10/cikgu-tere-bukan-guru-biasa.html

https://budiyantimenulis.blogspot.com/2020/10/bukan-guru-biasa-ala-cikgu-theresia.html

https://rizkykurniarahman.com/menjadi-guru-yang-luar-biasa/

https://fisikainan.blogspot.com/2020/10/ini-guru-baru-atau-ini-baru-guru.html

https://memanjadiri.blogspot.com/2020/10/menjadikan-diri-bukan-guru-biasa.html

https://marinan80.blogspot.com/2020/10/guruku-idolaku.html

https://intasahrudin.blogspot.com/2020/10/guru-plus-dengan-tips-idola.html

https://www.mrregar.com/2020/10/kiat-menulis-menjadi-bukan-guru-biasa.html?m=1

https://nadzifcweety.wordpress.com/2020/10/30/impian-bukan-halusinasi-bersama-cikgu-tere/

https://marinan80.blogspot.com/2020/10/guruku-idolaku.html

https://bianglalakata.wordpress.com/2020/10/31/pahlawan-bahasa-inspirasi-dari-berbagi/

https://muncang29.blogspot.com/2020/10/tantanganjalan-menuju-kemenangan.html

https://tamayudhistira.com/catatan-harian/guru-menulis-bukan-guru-biasa/

https://yasnimenulis.blogspot.com/2020/10/menjadi-guru-luar-biasa.html

https://sriwigati704753016.wordpress.com/2020/10/31/berguru-menulis-pada-bukan-guru-biasa/

https://christpard.blogspot.com/2020/10/namanya-cikgu-tere.html

https://catatanwati004.blogspot.com/2020/10/bukan-guru-biasa.html

https://12sitimasyitoh.blogspot.com/2020/10/resume-12-cikgu-there-guru.html

https://jagoanbanten.blogspot.com/2020/10/ogah-jadi-guru.html?m=1

https://adamabuharits.blogspot.com/2020/10/cikgu-tere-bukan-guru-biasa.html

http://guruinspiratif17.blogspot.com/2020/10/belajar-bersama-cikgu-tere.html 

https://nungkom.blogspot.com/2020/10/guru-guru-hebat-dan-luar-biasa.html


Akhirnya, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi - tingginya pada para guru blogger yang telah menyelesaikan resumenya. Semoga Bapak/Ibu terus melaju sampai karyanya terbit menjadi sebuah buku. Ingatlah jurus 3 B. Belajar, Berkarya, dan Berbagi. Cari ilmunya, tuangkan lewat karya nyata, dan bagikan karya tersebut hingga dapat menginspirasi orang lain. 

Salam blogger. 





Monday, September 21, 2020

Review dan Uji Keterbacaan Modul Literasi dan Numerasi Jenjang SD Tahap IV


 

Lebih baik bergerak dalam kegelapan demi mendapatkan seberkas cahaya, daripada diam dalam terang           --Cikgu Tere --

 

Hari ini, saya mendapat berkat yang luar biasa, bagaimana tidak ? Saya didaulat sebagai salah seorang anggota tim penelaah Modul Literasi Numerasi kelas 4 SD dalam kegiatan yang bertajuk Diskusi Kelompok Terpumpun Review dan Uji Keterbacaan Modul Literasi Numerasi Jenjang SD Tahap IV. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar) Kemdikbud. 

Dalam arahannya, Ibu Asrijanty, sebagai Kepala Pusmenjar, menyampaikan bahwa modul ini disusun sebagai bahan belajar literasi dan numerasi yang berbasis aktivitas - aktivitas yang mudah dipahami dan menarik bagi siswa. Modul ini juga secara khusus didesain untuk pembelajaran literasi dan numerasi karena literasi dan numerasi adalah keterampilan yang fundamental dalam mempelajari keterampilan - keterampilan yang lain. 

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam cakupan dan kerangka acuan pemetaan Kompetensi Dasar (KD) nya itu sendiri, bukan hanya mengangkat tentang pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, melainkan juga muatan / mata pelajaran lainnya seperti Pkn, IPA, dan IPS. Beliau juga menyatakan bahwa tujuan penyusunan modul ini adalah untuk membantu siswa yang tidak dapat mengakses pembelajaran daring. 

Modul ini terdiri dari 3 bagian yaitu: modul guru, siswa, dan orang tua yang disusun dalam beberapa tema. Tema untuk kelas 1 sama dengan kelas 2 dan 3, sedangkan tema untuk kelas 4,5, dan 6 sama. Hal ini dimaksudkan agar guru, orang tua, dan siswa mampu melihat dan menganalisis Learning Progression (kemajuan belajar) mereka. Dan hal ini pula yang membedakan buku tematik dengan modul literasi dan numerasi. 


Narasumber berikutnya yaitu Ibu Susanti dari Pusmenjar, menyampaikan terkait syarat modul sebagai bahan ajar selama BdR yaitu : harus bisa terbaca dan mudah dipahami. Bu Susan menyampaikan bahwa saat ini pihak Pusmenjar telah melakukan sosialisasi di beberapa provinsi dan kabupaten / kota yang tergabung di Regional 1 dan Regional 2. Daftar lengkap sosialisasi sebagai berikut : 


Terkait mekanisme penggunaan modul ini sendiri, Bu Susan menyatakan bahwa ada unsur fleksibilitas. maksudnya, jika sekarang pembelajaran sudah masuk di Tema 2, maka guru, siswa, dan orang tua tidak perlu menggunakan modul ini dari Tema 1, tapi bisa langsung masuk pada Tema 2. 

Selain adanya unsur fleksibilitas, berikut ini adalah hal - hal menarik yang terdapat dalam modul: 

  1. Pola kebiasaan belajar rutin (Self Regulated Learning), di tengah pandemi, pembelajaran jarak jauh menjadikan pembelajar, dalam hal ini siswa menjadi pusat pembelajaran. Sehingga diharapkan, mereka mampu menjadikan belajar sebagai kebutuhan. Modul ini dirancang sedemikian rupa dengan urutan aktivitas belajar yang dimulai dengan pesan pagi, dst yang diulang setiap hari, bermaksud untuk menciptakan pola kebiasaan belajar rutin bagi siswa. 
  2. Pemberian warna berbeda dalam setiap aktivitas modul, jika diperhatikan, dalam modul akan terdapat sejumlah aktivitas pembelajaran yang berisi instruksi dengan warna yang berbeda - beda. Hal ini dimaksudkan agar siswa, guru, dan orang tua mengetahui batasan pembelajarannya. 
  3. Isi modul bervariasi, modul literasi numerasi berisi instruksi terkait aktivitas belajar, lembar cerita, jurnal membaca, dan properti (sumber belajar dan alat peraga). 
  4. Adanya pelibatan / peran orang tua, keunggulan dari modul ini yang membuatnya semakin menarik adalah adanya pelibatan peran orang tua. Tujuan utama modul ini adalah untuk membantu memfasilitasi pembelajaran selama BdR. Orang tua dapat berperan dengan lebih maksimal melalui panduan orang tua. Karena seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa modul ini terdiri dari 3 bagian yaitu panduan untuk guru, orang tua, dan siswa. Jadi, orang tua bukan hanya mengontrol pengerjaan tugas yang dilakukan oleh anaknya dan menandatangani bukti hasil belajar mereka, namun juga terlibat dalam aktivitas pembelajaran yang disajikan. 
  5. Integrasi Karakter dan Kecakapan Hidup, modul literasi numerasi ini didesain dengan mengacu pada Kompetensi Dasar (KD) dari Kurikulum Darurat pada kondisi khusus. Dan setiap KD yang digunakan merupakan KD esensial yang terintegrasi dengan karakter dan kecakapan hidup yang tentunya sangat dibutuhkan untuk pembelajaran bermakna bagi siswa. Contohnya dalam topik pembelajaran mengenai media komunikasi, siswa belajar mengenai cara berkomunikasi dengan orang lain secara santun. Karakter yang dikembangkan adalah santun melalui sikap operasional, menyapa orang lain dengan ramah, mengucapkan salam, dll. Sedangkan untuk kecakapan hidupnya itu sendiri, siswa menerapkan teknik berkomunikasi dalam kehidupan sehari - hari ketika menyapa tetangga di sekitar rumah. 
  6. Ilustrasi yang menarik, sebuah modul akan tampak menarik dengan adanya ilustrasi yang disajikan, baik itu berupa susunan gambar, tabel, grafik, dll. Ilustrasi akan tampak menarik ketika diberi warna yang sesuai dengan komposisi yang tepat. Namun ada kondisi khusus untuk ilustrasi yang akan ditambahkan dalam modul yaitu harus mampu menjelaskan informasi yang akan disampaikan agar dapat lebih mudah dipahami. 
Selanjutnya, beliau menginformasikan kepada kami bahwa cara untuk mengakses modul literasi dan numerasi ini adalah melalui link berikut: https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/tingkat-sd-modul-belajar-literasi-numerisasi/

Setelah kami mendapat pemahaman dan kesan mendalam mengenai modul, kami pun diarahkan masuk ke dalam breakout room dengan jumlah peserta sekitar 13 orang. Di dalam room tersebut, ada seorang koordinator / PIC, seorang pejabat dari Dit.PSD dan peserta sebagai penelaah modul yang terdiri dari guru dan orang tua. 

Dalam kegiatan kemarin, saya masuk di BOR 8 dengan PIC yaitu Bpk. Lambas dari Pusmenjar. Saya pernah mengikuti kegiatan webinar yang beliau fasilitasi yaitu mengenai penyederhanaan RPP di masa pandemi. Waktu itu, saya menyimak materi yang beliau paparkan dan saya merasa sangat senang dengan style beliau dalam memandu peserta webinar. 

Sehingga, ketika saya mengetahui bahwa PIC nya adalah Pak Lambas, saya merasa sangat antusias. dalam mengikuti kegiatan ini. Pak Lambas menyampaikan hal - hal yang perlu direview, yaitu : 
  • Telaah halaman per halaman
  • Instruksi (ke guru dan orang tua)
  • Isi (kalimat, kosa kata, gambar, ilustrasi, kegiatan, konteks, warna), apakah kalimatnya mudah dipahami, kosa katanya kompleks atau tidak, gambarnya jelas atau tidak, ilustrasinya tepat atau tidak, kegiatannya yang diilustrasikan harus jelas agar tidak ada bias gender, perhatikan konteksnya, misalnya ilustrasi ikan dengan nelayan. Kemudian, warnanya apakah silau atau tidak ?
  • Koneksi ke link atau barcode, apakah link dan barcodenya mudah diakses dan terbaca seperti tujuannya
  • halaman, apakah berurutan atau lompat ? 
Sedangkan untuk teknis telaah itu sendiri, beliau menyampaikan bahwa kami akan melakukan telaah dengan menggunakan aplikasi figma. Ini adalah hal yang baru bagi saya. Jujur, saya merasa gugup, apalagi saat Pak Lambas meminta saya untuk melakukan simulasi telaah dengan menggunakan aplikasi figma. 

Untuk masuk ke dalam aplikasi figma, kita harus log in melalui akun google kita dan membuat akun figma. Berikut ini adalah tampilan aplikasi figma: 


Setelah masuk ke dalam aplikasi figma, kita bisa mengklik tanda bulat berekor di bagian kiri atas, untuk menambahkan comment. Jadi ketika kita menemukan hal - hal yang perlu kita perbaiki dalam modul, kita bisa meletakkan kursor nya di bagian tersebut dengan cara mengetiknya lalu klik post. Sedangkan untuk pindah ke halaman berikutnya atau kembali ke halaman sebelumnya, kita bisa menggunakan tombol < > yang ada di bagian bawah halaman. 

Tantangan terbesar saat melakukan telaah modul literasi numerasi adalah kita harus teliti dalam melihat bagian per bagian dari setiap halaman modul. Baik dari struktur kalimat, ilustrasi, dll. Sementara jumlah halaman modul itu sendiri bervariasi. Untuk panduan guru kelas 4 tema 2 minggu ke 4, terdiri dari 40 halaman. Panduan orang tua terdiri dari 19 halaman, dan panduan siswa terdiri dari 120 halaman. Sedangkan waktu yang diberikan adalah mulai dari Pukul 11.00 - Pkl. 14.00 WIB. Dan waktu untuk istirahat, diberikan mulai Pkl.12.00 - Pkl.13.00 WIB.

Setelah kami memahami cara melakukan telaah dan mencoba menelaah modul tersebut, kami juga diminta untuk mengisi borang. Saya mengernyitkan dahi, apa itu borang ? Namun, setelah ditunjukkan maksudnya, saya pun tersenyum. Rupanya borang yang dimaksud adalah formulir online yang bisa kita isi, seperti google form. Setiap penelaah modul, baik guru maupun orang tua, mendapat satu borang pribadi untuk diisi. Pak Lambas menekankan kepada kami untuk mengetahui posisi borang masing - masing, agar tidak salah mengerjakan. Karena jika kita salah mengisi borangnya, maka pekerjaan kami tidak akan terekam oleh sistem secara online. 
ini adalah tampilan di dalam borang: 



Hal yang diisi di dalam borang adalah masukan secara umum terhadap modul literasi numerasi. Baik untuk panduan guru, orang tua, maupun siswa. Beberapa pertanyaan di dalam borang adalah sbb: 
  • Apakah kegiatan - kegiatan pembelajaran yang dimuat dalam modul dikenali oleh guru, orang tua dan anak ?
  • Apakah kegiatan - kegiatan pembelajaran yang dimuat dalam modul mudah dilakukan anak dengan pendampingan orang tua ? 
  • Apakah sumber bacaan dan alat peraga mudah didapatkan oleh siswa/orang tua ? 
  • dll 
Namun, hingga pukul 14.00 WIB, peserta belum menyelesaikan semua pekerjaan. Sehingga kami diberikan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan sampai Pukul 24.00 WIB tadi malam. Dan tepat Pukul 20.00 WITA, saya pun bisa menyelesaikannya. 

Saya merasa sangat bersyukur, karena saya diberikan kesempatan belajar menjadi penelaah modul literasi numerasi dengan event nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemdikbud. Dalam hal ini, selain mendapat ilmu baru dan pengalaman yang luar biasa, saya juga punya kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap LKS / Bahan ajar yang sudah saya buat dan saya kembangkan untuk skala sekolah dan tingkat Kabupaten Sumba Tengah selama ini. 

Ternyata, untuk menghasilkan suatu produk berupa bahan ajar, tidak bisa hanya dilihat bagus atau tidak menurut perspektif si penulisnya. Namun, perlu juga dilakukan sebuah proses telaah, revisi, dan bahkan uji keterbacaan untuk sampai pada tahap sosialisasi dan implementasi. 

Namun, saya juga sepenuhnya mengapresiasi rekan - rekan guru yang sudah mulai bergerak di daerah masing - masing dalam menyediakan bahan ajar selama melaksanakan pembelajaran di tengah pandemi, baik itu bahan ajar yang disampaikan melalui LKS, modul atau pun dalam bentuk elektronik / digital seperti melalui blog dan video. Setidaknya, hal ini yang sangat diperlukan pada masa sekarang, yaitu guru - guru yang kreatif, mau bergerak untuk berjuang walaupun di tengah keterbatasan. 

Dan hal ini pula yang mendorong saya untuk membagikan pengalaman singkat namun luar biasa ini melalui tulisan sederhana di blog. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca, rekan - rekan Cikgu Tere. 

Salam Guru Penggerak, Salam Literasi. 




Sumber
Bahan sosialisasi modul literasi numerasi regional 1 Klik di sini
Bahan Review Uji Keterbacaan Modul Literasi Numerasi Tahap IV







Tuesday, September 15, 2020

Belajar Dalam Mengajar



"Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan"              Orang Rimba


Merdeka Belajar merupakan sebuah gagasan di mana guru sebagai pemimpin pembelajaran, membawa peserta didik ke dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih bermakna bagi kehidupan mereka. 

Untuk dapat mencapai kemerdekaan belajar, seorang guru terlebih dahulu harus belajar bagaimana cara menjadi guru yang seharusnya. Inilah yang akan saya bagikan pada artikel kali ini tentang panduan menjadi guru merdeka belajar di tengah pandemi. Artikel ini disarikan dari Kegiatan Kuliah Umum Pembatik Level 4 bersama narasumber Kak Butet Manurung dengan moderator Ibu Restyn Yusuf sebagai Duta Rumah Belajar Papua . 

Belajar Dalam Mengajar, Versi Kak Butet Manurung 

Kak Butet pertama kali masuk ke Rimba Bukit Duabelas Jambi pada tahun 1999 sebagai seorang antropolog yang meneliti masyarakat adat orang rimba yang merupakan peburu peramu, Kak Butet ingin menggali model pendidikan seperti apa yang mereka (Orang Rimba) butuhkan. Dalam perjalanannya, Kak Butet menemukan beberapa hal menarik terkait paradigma pendidikan, yaitu : 

Cara pandang / perspektif : Pintar dan bodoh itu tergantung siapa yang bicara dan di mana kita berada. Contoh pengalaman saat Kak Butet dikejar beruang dan tak bisa naik pohon karena pakaian dan sepatunya tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Maka anak Rimba mengatakannya bodoh karena sudah tinggal bertahun - tahun di hutan, tapi belum bisa panjat pohon. 

Ada sekolah kontekstual di Rimba. Anak - anak dari kecil sudah belajar tentang hal yang kontekstual. Contoh : anak belajar menangkap hewan kecil dengan ketapel atau jerat. Di sekolah ini ada 3 metode belajar : observasi, bermain, dan eskplorasi. Sistem pendidikan lokal tidak mengenak kelas seperti di sekolah formal, tetapi mengenal tingkatan. Tingkatan 1 : berburu hewan kecil seperti tikus, tingkatan 2 : berburu ular, tingkatan 3 : mengambil madu di pohon yang tingginya mencapai 100 meter. Hal tersebut, menurut Kak Butet sudah konstektual karena apa yang mereka pelajari sudah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari - hari. 

Dari temuan - temuan di atas, Kak Butet berpikir, seperti apakah pembelajaran yang harusnya ia berikan kepada mereka. Karena ternyata mereka sudah melakukan pembelajaran kontekstual. Dalam kebersamaannya hidup bersama dengan Orang Rimba, Kak Butet justru menemukan fakta baru yaitu kondisi sebenarnya yang merupakan masalah - masalah dari luar yang  dihadapi oleh Orang Rimba itu sendiri, dan ternyata masalah tersebut masih tidak bisa diatasi oleh sistem pendidikan konstektual yang telah mereka lakukan. 

Contohnya ketika pada tahun 1980 an, puncak pembangunan REPELITA mengakibatkan terjadinya konversi besar - besaran area hutan tempat hidup Orang Rimba. Di sinilah Kak Butet mencoba masuk dengan mengajarkan baca dan tulis. Namun upaya ini ditolak berkali - kali oleh Orang Rimba, karena hal ini dianggap tabu. Bahkan mereka menyebut pena adalah Setan Bermata Runcing. Karena setiap kali mereka berhubungan dengan orang yang punya pensil / pena maka akan selalu sial. Penolakan ini menyebabkannya harus berpindah - pindah selama 7 bulan dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. 

Kak Butet terus berproses. Ia memutar otaknya, merefleksi apa yang masih salah dan akhirnya, ia mencoba melakukan pendekatan baru, dengan berupaya menjadikan dirinya sebagai teman mereka, bukan menjadi musuh bagi mereka. Kemudian Ia menunjukkan bahwa baca tulis ini berguna. Namun, ternyata baca tulis saja tidak cukup menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. 

Dari situlah muncul awal pemikiran tentang Sokola. Tepatnya ketika pendidikan yang diberikan tidak menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. 

Metode hadap masalah 

Kak Butet menemukan metode baru yang dirasakan lebih efektif bagi Orang Rimba. Ia menyebutnya metode hadap masalah. Ia menyadari bahwa sekolah mereka adalah bagaimana melawan setan bermata runcing. Sehingga Ia menghadirkan konteks ke dalam konten pembelajarannya. Contoh : Ada berapa ekor rusa di hutan ? Mengapa berkurang ? Mengapa hutan tinggal sedikit ? 
Ia berharap dengan penerapan metode pembelajaran seperti ini, peserta didik akan lebih memahami pentingnya belajar. 

Sebenarnya ada banyak sekali teori terkait pendidikan. Namun hal yang paling dekat dengan tujuan pendidikan itu sendiri, sebenarnya merupakan sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh setiap pendidik. Dalam melaksanakan pendidikan bagi Orang Rimba, Kak Butet sendiri mempunyai kepercayaan bahwa setiap masyarakat bukanlah entitas kosong atau tidak berdaya. Siswa sudah mempunyai bekal kemampuan dan pengetahuan. 

Sebaliknya, menurut Kak Butet, sistem pendidikan yang diberikan di sekolah formal belum mampu mengakomodir semua keunikan dari peserta didik. Dan sistem pendidikan seperti itu dianggap tidak operasional bagi mereka. 

Alasan sekolah formal tidak operasional bagi orang rimba : 
  1. Sekolah formal mengajarkan kemampuan yang sesuai dengan kondisi/potensi sekitarnya. Orang Rimba ingin pembelajaran itu berdampak saat ini segera setelah proses belajar
  2. Sekolah formal tidak mengakomodir cara belajar lokal dan sifat alamiah yang dinamis di alam bebas 
  3. Sekolah formal tidak (ajar) mengatasi persoalan kehidupan dan perubahan sekitar peserta didik (setan bermata runcing) 
  4. Sekolah formal tidak (belajar) merespon persoalan kehidupan dan perubahan sekitar anak (setan bermata runcing) Contoh : belajar cara penanggulangan banjir di sekolah 
  5. Sekolah formal tidak mengakomodasi nilai dan kebenaran versi lokal
  6. Sekolah formal adalah sekolah untuk pergi. Karena ilmu yang dipelajarinya tidak sesuai dengan konteks realitas yang ada di sekitarnya. 

Berkaitan dengan kepercayaan bahwa siswa bukanlah kertas kosong, Kak Butet merumuskan sikap Humility (kerendahan hati) sebagai sikap mental yang harus dimiliki oleh seorang guru. Guru harus mempunyai kerendahan hati. Makna pendidikan adalah membebaskan. Mengeluarkan dari permasalahan. Dalam hal ini, guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar yaitu belajar. Mengajar itu  sarana pendidikan, bukan tujuan! 

Implementasi pembelajaran literasi 

Pernahkah guru merasa kesulitan mengajarkan cara membaca pada siswa kelas rendah ? Terlebih pada siswa yang berada di sekolah 3T yang didominasi oleh penggunaan bahasa lokal dibandingkan Bahasa Indonesia ? 

Tips berikut ini akan membantu kita untuk melakukan pembelajaran terkait literasi dengan lebih menyenangkan dan bermakna: 
  • Menghargai keunikan pemerolehan bahasa. Kita punya banyak sekali bahasa dan simbol yang istimewa. Hal itu merupakan sesuatu yang unik. Jenis makanan dan kondisi geografis akan turut mempengaruhi pelafalan huruf. Jika anak merasa kesulitan belajar membaca, sebenarnya itu bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan sebuah keunikan yang harus dihargai. Guru perlu menentukan metode yang tepat untuk membelajarkannya. Berikut ini adalah metode silabel sokola yaitu 16 metode baca tulis  yang diterapkan dalam waktu 2 minggu:
  • Mengajarkan kesadaran kritis dan kepekaan sosial sejak dini, contoh : mengajarkan baca tulis dengan mengangkat topik penyakit malaria yang menjadi wabah di daerah tersebut. 
  • Menerapkan literasi dasar dalam keseharian (literasi terapan). Contoh : soal cerita matematika tentang uang. 

Praktik Baik Merdeka Belajar ala Orang Rimba 

Selain implementasi pembelajaran literasi, Kak Butet juga melakukan upaya - upaya lain untuk mendukung Sokola, sistem pendidikan yang diyakini olehnya akan memberikan dampak baik bagi Orang Rimba, yaitu : 
  1. Melibatkan para pemuka adat supaya memastikan pembelajaran secara tradisional juga berlangsung. Kegiatan ini disebut wawasan kerimbaan.
  2. Wawasan dunia luar. Pembelajaran relevan, misalnya membuat film dokumenter terkait kehidupan mereka sehari - hari. Hal ini akan lebih bermanfaat bagi mereka dalam rangka mempertahankan kearifan lokal dan mengedukasi dunia luar melalui cara hidup mereka yang sangat harmonis dengan alam sekitar. 
  3. Pendidikan yang mendukung advokasi. Mengakses kesehatan, jalur hukum untuk mempertahankan haknya. Hal ini merupakan pengembangan lanjutan dari pengetahuan yang sudah mereka pelajari sebelumnya. 
  4. Membentuk kader dan pengorganisasian. Ditujukan bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih. 
  5. Menyambungkan mereka dengan jaringan atau pihak yang relevan
  6. Pastikan guru menghargai keberagaman/sudut pandang lokal. Gunakan bahasa lokal untuk mengajar bahasa tulis. Penyeragaman kurikulum dan tolak ukur akan menyebabkan penyeragaman kecakapan. Tuntuan dengan lokasi yang tidak match akan mendorong mereka untuk melakukan urbanisasi karena ilmunya hanya bisa diterapkan di kota. 


Kurikulum Sokola Rimba 


Kurikulum Sokola Rimba disusun oleh sekolah bersama masyarakat. Jika akhirnya masyarakat sudah memiliki dan mampu mengembangkan kurikulum ini, maka Sokola akan menghentikan intervensi dan memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk mengembangkannya sendiri. 

Message / Pesan yang ingin disampaikan : 

  • Pendidikan kontekstual adalah kunci. Jangan sampai sekolah menjadi sekolah untuk pergi. Dan bawalah konteks yang ada di situ membentuk konten dari kita, bukan sebaliknya konten yang kita bawa membentuk konteks masyarakat yang ada di situ. 
  • Pendidikan harus konstektual berdampak, artinya berkontribusi dalam kehidupan. Orang Rimba bertanya "Sungai di Jakarta kok kotor? bukannya Orang di Jakarta sekolah semua? " "Pintar fisika tapi gak bisa benerin setrika rusak, itu aneh.""Kenapa justru di depan sekolahan banyak plastik, bukankah plastik itu buruk untuk lingkungan?" 





Sumber : Klik di Sini




Sunday, August 16, 2020

Merangkai Jaring Khatulistiwa Sebagai Pondasi Indonesia Maju

 

PJJ efektif


Indonesia adalah sebuah negara yang sangat luas bentangannya. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Semua ada dalam rangkaian zamrud khatulistiwa. Bak permadani yang menghampar hijau, nuansa pandangan cakrawala berhias aneka warna. Agama, suku bangsa, budaya, adat istiadat, dan keberagaman lainnya. Dalam amanat saktinya, Pancasila menjadi falsafah negara yang menghendaki adanya persatuan dan kesatuan yang akan mempererat bangsa dari masa ke masa.


Spirit HUT ke 75 Republik Indonesia yang diperingati pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah Indonesia Maju. Di dalamnya terdapat makna bahwa kapal besar bernama Indonesia ini harus terus bergerak maju ke depan pada berbagai sektor. Salah satu faktor penggerak tentunya adalah pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia melalui pendidikan.


Pendidikan di masa pandemi, menghadapi tantangan yang menuntut para insan pendidikan keluar dari zona nyaman mereka. Guru dan siswa sebagai pelaku utama harus berjibaku demi peningkatan mutu pembelajaran. Dalam konsep merdeka belajar, guru diminta untuk belajar dalam merangkai jaring khatulistiwa. Apa itu jaring khatulistiwa ? Jaring adalah akronim dari Belajar Daring dan khatulistiwa adalah akronim dari akhlak, tulis (literasi), kreatif, dan perbawa. Makna dari Jaring Katulistiwa adalah bahwa pembelajaran daring harus dilakukan secara efektif agar peserta didik mempunyai akhlakul karimah (berbudi pekerti luhur) dan membekali diri dengan kemampuan literasi sehingga menjadi insan yang kreatif dan tangguh dalam menghadapi berbagai situasi. Sehingga nilai – nilai luhur (perbawa) itu akan terpancar dalam kesehariannya sebagai sosok generasi bangsa yang dapat dibanggakan.


Jaring khatulistiwa tidak serta merta dapat digunakan oleh guru dalam upaya membangun Indonesia Maju melalui pendidikan. Guru harus mempunyai semangat sebagai seorang penggerak di lingkungannya terlebih dahulu. Sehingga berbekal dari pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki olehnya, ia akan mampu merangkai sebuah jaring (pembelajaran daring) yang efektif.

Menurut Prof. Richardus Eko Indrajit, berikut ini adalah cara merancang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang baik:

·           Menentukan tujuan pembelajaran

       Menentukan tujuan pembelajaran merupakan bagian akhir dari proses pembelajaran namun harus dilakukan pertama kali.

       Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makariem, pendidikan di Indonesia saat ini berfokus pada outcome peserta didik, bukan pada content. Maksudnya adalah di akhir program pembelajaran, siswa bukan hanya tahu materi – materi yang dipelajarinya melainkan bisa melakukan berbagai hal setelah mempelajarinya.

·           Memahami cara mengukur keefektifan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan harus dapat diukur ketercapaian / keefektifannya. Jika guru merasa kesulitan untuk mengukur keefektifan tujuan pembelajarannya, maka itu berarti tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru tersebut kurang realistis, sehingga guru harus merevisi tujuan pembelajarannya.

·           Menetapkan tahapan / alur kegiatan pembelajaran.

Mulai dari pendahuluannya, kemudian bagian inti dan penutupnya. Bagian yang perlu diperhatikan oleh guru adalah bahwa terdapat perbedaan antara PJJ dengan pembelajaran tatap muka yaitu pada saat PJJ, guru dan siswa tidak bisa bertahan selama beberapa jam menatap layar laptop dan mendengarkan penjelasan. Sehingga, dalam menetapkan alur pembelajaran, guru harus berpatokan pada prinsip pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.

·    Mengidentifikasi karakteristik peserta didik. Terutama tentang kesiapan belajar dan kebutuhan belajar siswa. Sebagai contoh, jika guru menetapkan tujuan pembelajaran yaitu siswa mampu untuk menyanyikan lagu daerah, maka guru harus memastikan bahwa siswa sudah mengenal lagu daerah tersebut.

·    Menyusun strategi pembelajaran, merupakan jabaran dari setiap tahapan / alur kegiatan pembelajaran. Dalam PJJ, kita dapat memilih model pembelajaran inovatif, seperti Flipped Classroom, Online Colaborative Learning, Experential Learning, Gamification

·           Membuat bahan ajar.

       Guru dapat membuat dan mengembangkan bahan ajar sendiri maupun menggunakan bahan ajar yang sudah ada. Dalam pembelajaran inovatif di masa pandemi, guru dapat memperkaya siswa dengan menyiapkan berbagai macam sumber bahan ajar dari internet. Guru dapat meminta siswa untuk mengakses portal pembelajaran tertentu atau menyediakan link – link yang berisi bahan ajar terkait topik yang sedang dipelajari.

·           Melakukan review / refleksi selama PJJ.

Dikenal dengan istilah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran setelah proses pembelajaran yang dilakukan sewaktu – waktu saat diperlukan. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan di akhir program / semester. 

Sepertinya tugas untuk merangkai jaring khatulistiwa yang akan menjadi pondasi Indonesia maju merupakan tugas berat bagi guru. Namun, jika guru sungguh – sungguh  menanamkan rasa cinta tanah air dan tanggung jawabnya sebagai pendidik generasi bangsa, maka niscaya, kapal besar ini akan bergerak dari ketertinggalannya menuju era baru yang gemilang.

 


#lombamenulisdiblog

#bloggerPGRI

#HUTRIKe75 

Sumber tulisan : Ekoji Channel (Sesi 59) Bagaimana Cara Merancang PJJ yang baik?


Monday, August 10, 2020

Inilah Resume Terbaik Pengalaman Menulis dan Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor


Hari Jumat, 7 Agustus 2020, peserta Kegiatan Belajar Menulis  Gelombang 14 dan Gel. 15 mendapat materi Sharing Pengalaman Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor. Om Jay menghadirkan saya (Cikgu Tere) sebagai narasumber yang akan berbagi pengalaman selama kurang lebih 2 jam melalui WA Group. 

Setelah kegiatan belajar dilakukan, saya memberikan surprise bagi para peserta sekaligus tantangan untuk menuliskan resume belajar. Bagi yang dapat menuliskan resume terbaik, maka akan mendapatkan hadiah menarik. 

Berikut ini adalah link resume yang dikirimkan oleh para peserta kegiatan : 
1. https://lilisernayulianti.blogspot.com/2020/08/kunci-mimpi-cikgu-tere.html?m=1
2. https://penacantikrip.wordpress.com/2020/08/07/kisah-sukses-menerbitkan-buku/
3. https://www.almunawy.id/2020/08/kisah-sukses-cikgu-tere-tulis-buku.html
4. https://9langit.blogspot.com/2020/08/memujudkan-mimpi-terbit-buku-di.html
5. https://susantogombong.blogspot.com/2020/08/pengalaman-menerbitkan-buku-di-penerbit.html
6. http://asihstories.blogspot.com/2020/08/mewujudkan-impian-semudah-klik.html
7. http://membangunpersonalbranding.blogspot.com/2020/08/ayo-wujudkan-mimpimu-untuk-menerbitkan.html
8. https://leeseehuy.blogspot.com/2020/08/gertakan-guru-besar-literasi.html
9. https://abrahamtefa76.blogspot.com/2020/08/berbagi-pengalaman-menulis-bersama.html
10. https://fathhas.blogspot.com/2020/08/taaruf-tere-belajar-semudah-klik.html
11. https://rambejunimarlinda85.blogspot.com/2020/08/bisa-menulis-menerbitkan-buku-di.html
12. https://surantininardi2.blogspot.com/2020/08/belajar-menulis-buku-bersama-cikgu.html?m=1
13. https://bukuasnati2020.wordpress.com/2020/08/07/belajar-belajar-dan-belajar/
14. http://nurhidayati2010.com/?p=187
15. https://indrawahyuddin239.blogspot.com/2020/08/terlanjur-basah-karena-cikgu-tere.html
16. https://hayaticempaka.blogspot.com/2020/08/kisah-inspiratif-seorang-guru-muda.html
17. https://imaspengalamanwebinar.blogspot.com/2020/08/terbitkan-buku-dalam-1-minggu-dengan.html
18. https://yantiyunia.blogspot.com/2020/08/mimpi-semudah-klik-cikgu-tere.html
19. https://farymappa2.blogspot.com/2020/08/resume-3-gelombang-15.html
20. https://marna24.blogspot.com/2020/08/kisah-sukses-menerbitkan-buku-di.html
21. https://dejono15.blogspot.com/2020/08/tantangan-tere-mewujudkan-mimpi.html
22. http://etiknurintobantarbolangpemalang.blogspot.com/2020/08/untaian-inspirasi-dari-kisah-mewujudkan.html
23. https://76habibah.blogspot.com/2020/08/artikel_8.html
24. https://broadinzaim94.blogspot.com/2020/08/mandi-seminggu-terbitlah-buku.html
25. https://endartiningtyass.blogspot.com/2020/08/mewujudkan-mimpi-bersama-penerbit-mayor.html?m=1
26. http://yayahmarliah.blogspot.com/2020/08/menggapai-impian-menjadi-kenyataan.html
27.
https://hayaticempaka.blogspot.com/2020/08/kisah-inspiratif-seorang-guru-muda.html

Saya sangat senang membaca resume demi resume yang dibuat oleh Bapak/Ibu guru blogger. Banyak hal menarik yang dapat saya temukan. Di antaranya, ada peserta yang berhasil membuat judul yang sangat menarik, ada juga peserta yang menyajikan resume dengan sangat lengkap, namun ada juga yang sangat ringkas, dan ada juga peserta yang menggunakan diksi - diksi yang puitis. Ternyata, saya bisa menemukan style masing - masing penulis dengan membaca resume mereka. 

Terus terang, saya merasa bingung menentukan resume terbaik dari kumpulan resume itu. Namun, setelah saya membaca semua resume itu, saya saring lagi menjadi 5 besar lalu saya bersama Om Jay menemukan satu resume yang menurut kami pantas menjadi resume terbaik. 

Oleh karena itu, saya ucapkan selamat kepada Ibu Lilis Erna Yulianti dengan link resume https://lilisernayulianti.blogspot.com/2020/08/kunci-mimpi-cikgu-tere.html?m=1. Beliau telah mendapatkan predikat Resume Terbaik dalam materi bersama Cikgu Tere dan berhak mendapat satu buah buku Belajar Semudah Klik, Membangun Eksosistem Ubiquitous Learning Dalam Konsep Merdeka Belajar. 

Kemudian,  26 peresume di atas, juga mendapatkan hadiah spesial dari Cikgu Tere, berupa Voucher Diskon 20% untuk pemesanan buku Belajar Semudah Klik. Voucher berlaku selama 1 minggu sejak pengumuman ini dikeluarkan. 

Sekali lagi, Cikgu Tere berterima kasih untuk usaha Bapak/Ibu blogger dalam menulis resume. Tetap semangat menulis dan buktikanlah bahwa para peserta Belajar Menulis melalui WA Group dapat menulis dan menerbitkan buku di penerbit mayor. 

Salam blogger, salam persahabatan. 

Sunday, July 12, 2020

Contoh RPP Kecakapan Hidup dan Materi Belajar di Rumah untuk Kelas 4 SD






Berdasarkan pemutakhiran data yang dirilis dari https://covid19.go.id pada tanggal 7 Juli 2020, terdapat 104 kabupaten dan kota yang terdaftar dalam zona hijau atau wilayah tanpa kasus Covid-19. Hal ini pula yang diungkapkan oleh Tim Pakar Gugus Tugas Nasional, Dewi Nur Aisyah saat konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Selasa (7/7). 

Dari informasi tersebut, salah satu daerah yang terdaftar pada zona hijau adalah Kabupaten Sumba Tengah yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, kebijakan pendidikan yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah melakukan pembelajaran melalui tatap muka dengan tetap memperhatikan Surat Edaran resmi dari Pemerintah Daerah Kab. Sumba Tengah dan Gugus Tugas Covid 19 di Kabupaten Sumba Tengah mengenai penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi Covid 19. 

Banyak kekhawatiran yang muncul jika sekolah dibuka kembali sesuai dengan penetapan Tahun Ajaran Baru 2020 - 2021 yang dimulai pada hari Senin, 13 Juli 2020 ini, maka sekolah dapat menjadi klaster baru dalam penyebaran Virus Corona. Oleh karena itu, sekalipun sekolah - sekolah yang berada pada zona hijau seperti di Kab. Sumba Tengah, tetap harus menempuh kebijakan - kebijakan lain yang dipandang perlu untuk mengantisipasi dan mencegah munculnya klaster baru seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak. 

Untuk mengatasi kondisi di atas, maka langkah praktis yang sebaiknya diambil oleh guru sebagai tenaga pendidik di sekolah adalah dengan menyiapkan perangkat - perangkat pembelajaran yang memungkinkan untuk diakses oleh siswa, mengingat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di daerah 3T seperti Kab. Sumba Tengah, dilaksanakan secara luring. 

Beberapa perangkat pembelajaran yang perlu disiapkan oleh guru di antaranya adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan materi pembelajaran, termasuk LKPD. Oleh karena itu dalam kesempatan kali ini, Cikgu Tere ingin berbagi kepada para sahabat blog Cikgu Tere. RPP yang disusun adalah RPP untuk PJJ Luring dengan format yang disederhanakan dan dirancang sesederhana mungkin agar dapat diimplementasikan di daerah 3T. Sedangkan materi pembelajaran yang dirancang adalah pengembangan dari Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), selain soal latihan ada juga materi pokok dan penugasan yang dirangkum dari beberapa Kompetensi Dasar (KD) yang ada dalam pembelajaran tematik. 

Berikut ini adalah Link Download yang dapat digunakan oleh Sahabat: 
Download video pembelajaran Tema 1 Sub Tema 1 Pembelajaran 1 Di Sini

RPP dan Materi Belajar di Rumah ini akan terus diupdate dan terhubung dengan video pembelajarannya yang akan diupload di chanel pendidikan Theresia Sri Rahayu. Pastikan sahabat sudah mensubscribe, like, dan nyalakan lonceng di chanel youtube tersebut agar selalu mendapatkan update video pembelajarannya. 

Wednesday, July 8, 2020

7 Tips Pintar Mengikuti Webinar




Webinar Series Guru Belajar GTK Dikdas


Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menggelar Seri Webinar Guru Belajar dengan mengangkat tema besar "Adaptasi Pembelajaran Masa Pandemi". Webinar ini dinyatakan dalam bentuk rangkaian kegiatan yang dimulai pada tanggal 29 Juni 2020 sampai dengan 13 Juli 2020. Dalam satu hari, pelaksanaannya dibagi menjadi 2 sesi yaitu pagi dan siang dengan materi serta narasumber yang berbeda. 

Selain webinar yang diselenggarakan oleh Dirjen GTK Dikdas, ada juga rangkaian webinar yang digelar oleh lembaga - lembaga lain termasuk diseminasi kegiatan yang diikuti oleh guru - guru dari seluruh Indonesia. 

Ya, saat ini sepertinya para guru sedang disibukkan oleh aneka kegiatan webinar melalui berbagai macam platform. Ada yang menggunakan zoom, live youtube, teams, webex, dll. Bahkan beberapa di antaranya memerlukan tahap registrasi peserta sampai dengan tahap seleksi. 

Terkadang, pelaksanaan webinar yang satu bersamaan dengan webinar yang lain. Tak ayal, seorang guru pun memaksimalkan perangkat yang dimilikinya seperti laptop dan HP dengan akun email yang berbeda demi untuk mengikuti kedua agenda webinar tersebut. 

Bahkan, ada juga yang menyampaikan bahwa dirinya merasa kelelahan setelah mengikuti kegiatan online tersebut sepanjang hari. Selain boros dari segi pembelian paket data, hal ini tentunya menjadi tidak baik juga jika dilakukan terus menerus. Bisa saja imun tubuh kita malah akan menurun dan dampaknya tubuh kita mudah terserang penyakit. 

Sahabat, sebaik - baiknya seorang guru tentunya adalah guru yang bukan hanya sekedar mengajar saja melainkan juga harus mau belajar. Nah, salah satu jalan guru untuk belajar memang melalui webinar. Namun, seperti yang sudah Cikgu Tere sampaikan di atas bahwa jangan sampai keinginan kita mengikuti webinar tidak sebanding dengan kondisi kita, misalnya kondisi kesehatan dan ketersediaan paket data. 

Bercermin dari pengalaman semasa mengikuti aneka kegiatan webinar, berikut ini adalah 7 tips pintar mengikuti webinar : 
  1. Pantau media sosial untuk mengetahui info webinar, biasanya informasi pelaksanaan webinar akan tersedia di laman jejaring sosial seperti facebook. Jadi pastikan dulu Sahabat bergabung dengan komunitas / grup guru dan ikuti halaman facebook penyelenggara kegiatan, seperti GTK Dikdas Kemdikbud, PPPPTK PKn dan IPS, P4TK Matematika Kemdikbud, dll. 
  2. Lihat ketentuan / syarat peserta webinar yang terdaftar di link pendaftaran peserta, jika Sahabat sudah mendapatkan informasinya, segera lakukan registrasi melalui link registrasi yang disediakan. Sebelumnya, pastikan dulu beberapa ketentuan / syarat pesertanya. Ingat, jangan menunda untuk registrasi, karena kuota peseta biasanya dibatasi. 
  3. Catat informasi penting terkait waktu pelaksanaan, ini sangat penting untuk kita lakukan. Karena dengan banyaknya informasi webinar, mungkin saja kita akan mencoba untuk mendaftar di beberapa kegiatan. Sehingga tak jarang ada beberapa kegiatan yang diselenggarakan bersamaan dan kita menjadi bingung. Saran dari Cikgu Tere, pastikan kita punya list to do artinya semacam jadwal kegiatan. Jika terpaksanya ada dua kegiatan yang dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan, kita bisa memilih dengan melihat urgensi dari materinya. Misalnya ada topik webinar PJJ Luring dan Pemanfaatan Aplikasi Pembelajaran dari dua penyelenggara webinar di waktu yang bersamaan, maka lihat urgensinya, jika kita tinggal di wilayah 3 T maka sebaiknya ikuti yang PJJ Luring karena akan dapat langsung kita implementasikan. 
  4. Siapkan email yang aktif dan password yang mudah diingat, hal yang sepele, namun mungkin bagi beberapa guru akan menjadi sebuah kesulitan tersendiri. Saat ini email banyak digunakan untuk mendaftar di suatu kegiatan. Email sudah menjadi semacam KTP bagi seorang peserta webinar. Oleh karena itu, pastikan kita mempunyai alamat email yang masih aktif dan passwordnya mudah diingat. Biasanya informasi terkait link zoom meeting dan bahkan e-sertifikat dikirim oleh panitia webinar ke alamat email kita masing - masing. 
  5. Aktifkan pengingat / reminder di HP untuk tanggal pelaksanaan dan waktunya, Sahabat, terkadang kita lupa tanggal saat sedang libur di rumah. Jika Sahabat tidak ingin ketinggalan kegiatan webinar yang sudah dinanti - nantikan, sebaiknya gunakan bantuan pengingat dari fasilitas di HP kita, ya. 
  6. Masuk ke link webinar kurang lebih 30 menit sebelum pelaksanaan, dalam pelaksanaannya, webinar akan diselenggarakan tepat waktu. Namun, kita sebagai peserta tentunya tidak bisa masuk dalam meeting tersebut dengan waktu yang mepet, sebab ada kalanya untuk bisa terhubung dengan room meeting webinar membutuhkan waktu yang agak lama. Apalagi jika kita belum terbiasa menggunakannya. 
  7. Siapkan akses penunjang seperti kuota data dan hal teknis lainnya, Sahabat, salah satu persyaratan untuk mendapatkan e-sertifikat dari kegiatan webinar adalah mengisi daftar hadir pada link yang dibagikan di sela - sela kegiatan. Jadi, pastikan kuota data yang sahabat miliki dapat mencukupi selama Sahabat mengikuti kegiatan tersebut. Bagi pengguna Telkomsel, Sahabat dapat membeli paket kuota ketengan conference, cukup dengan Rp 3.000, Sahabat dapat memiliki akses kuota conference 2 GB / 1 hari. Sedangkan untuk hal teknis lainnya, Sahabat dapat mengecek baterai HP atau laptop yang akan digunakan selama webinar. 
Setelah melakukan beberapa tips di atas, hal yang tidak kalah penting adalah menulis resume dari materi yang dibahas dalam webinar. Hal ini sangat perlu dilakukan agar kita betul - betul memperoleh manfaat dari kegiatan yang telah kita ikuti. Lebih baik jika  kita menuliskan resumenya di blog kita agar semakin banyak orang terutama mereka yang belum berkesempatan mengikuti kegiatan webinar ini dapat juga memperoleh manfaatnya. 

Nah, Sahabat, inilah 7 tips pintar dalam mengikuti webinar yang dapat Cikgu bagikan dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat. Salam blogger, salam persahabatan. 

Oh, ya ... Jika berkenan, silakan Sahabat berkomentar untuk menanggapi pertanyaan ini,"Jika harus memilih salah satu, mana yang lebih sahabat pilih, mengikuti webinar untuk mendapatkan sertifikat atau ilmu yang bermanfaat ?" Ditunggu komentarnya ya. Terima kasih. 

Tuesday, June 30, 2020

Kupas Tuntas Metode dan Media / APE yang Sederhana dan Menarik di Masa Pandemi Covid 19 (Resume Materi Webinar Kemdikbud Sesi 2 :Selasa, 30 Juni 2020)

Webinar Kemdikbud
Pak Cecep Kustandi, Narasumber Webinar


Hari ini Selasa, 30 Juni 2020, saya merasa sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya. Beliau adalah Bpk. Cecep Kustandi. Pak Cecep merupakan Kepala Pusat Sumber Belajar  di Universitas Negeri Jakarta, selain itu beliau juga aktif dalam menulis berbagai jurnal termasuk jurnal internasional seperti Scopus. Pemegang 10 HAKI media pembelajaran ini akan berbagi ilmu dan pengalamannya dalam topik Kupas Tuntas Metode dan Media / APE yang Sederhana dan Menarik di Masa Pandemi Covid 19 selama kurang lebih 2 jam. 

Pada bagian pembukaan, ditayangkan lagu Indonesia Raya kemudian host sekaligus moderator yaitu Ibu Nita Isaeni, menyampaikan permohonan maaf berhubung salah satu narasumber berhalangan hadir saat webinar kali ini. 

Kemudian, Ibu Nita mengajak kami untuk berdoa dan kami pun siap untuk mengikuti acara webinar pada hari ini. Saya juga sudah menyiapkan alat tulis untuk mencatat semua poin penting yang akan disampaikan oleh narasumber. 

Pada bagian pertama paparan yang disampaikan oleh Pak Cecep, kami diajak untuk mengakses materi beliau sekaligus berinteraksi langsung melalui mentimeter. Kami pun langsung mengakses menti.com melalui perangkat laptop dan hp dan memasukkan kode yang beliau sediakan. 

Dalam menti.com, kami diminta untuk memberikan respon terkait pertanyaan - pertanyaan berikut : 
1. Media apa yang dimanfaatkan untuk pembelajaran pada masa pandemi ini ? 
Berdasarkan respon peserta diperoleh jawaban bahwa media yang paling banyak digunakan selama masa pandemi adalah whatsapp, lalu zoom, youtube, google form, dan google classroom. 
2. Selama BdR saya menggunakan media untuk apa ? 
Berdasarkan respon peserta, media lebih banyak digunakan untuk memberikan tugas, memberikan materi, berdiskusi dengan peserta didik, dan memberikan ulangan/ujian 

Setelah itu, kami pun diberikan satu pertanyaan berupa kuis yang harus dijawab dengan sangat cepat, yaitu : Apakah tatap muka bisa digantikan dengan tatap maya menggunakan media zoom, webex, google meet, dsb ? 
Dan inilah respon peserta : sebanyak 110 peserta menjawab tatap muka bisa digantika n oleh tatap maya dan 55 peserta menjawab tidak bisa. 

Kemudian pertanyaan terkait kesiapan guru dalam menghadapi kegiatan belajar di tahun ajaran baru dalam nuansa BdR adalah sebagai berikut : 



Setelah mengambil pre test pada peserta webinar, Pak Cecep menyampaikan paparannya. Beliau mengatakan bahwa metode / aktivitas belajar dapat diibaratkan sebagai King dan media sebagai Queen.Keduanya harus berjalan dengan baik dan secara harmonis. Kunci utamanya adalah interaksi. 

Contoh media yaitu : video, slide presentasi, ebook, audio, dll. Sedangkan contoh metode / aktivitas belajar yaitu : simulasi, diskusi, proyek kolaborasi, dll. Dan penggabungan antara King dan Queen yaitu pelaksanaan diskusi melalui grup WA. 

Pak Cecep juga memberikan gambaran aktivitas belajar yang dapat dilakukan oleh peserta didik selama pandemi. Beliau menggunakan istilah PEDATI (diadaptasi dari Chaeruman,2019). PEDATI adalah akronim dari Pelajari (Learning), Dalami (Deepening), Terapkan (Applying), dan Evaluasi (Measuring). 

Lebih lanjut, beliau menjelaskan sebagai berikut : aktivitas pelajari (learning) adalah aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik untuk belajar dari berbagai sumber belajar. Kemudian aktivitas dalami (deepening) merupakan aktivitas belajar yang dilakukan dalam rangka mengkonfirmasi materi belajar yang disampaikan oleh pendidik melalui sumber belajar, apakah sudah sesuai atau belum. Kegiatan konfirmasi ini dapat dilakukan melalui aplikasi tatap maya seperti zoom, webex, google meet, dll. 

Berikutnya adalah aktivitas terapkan (applying). Dalam hal ini, peserta didik diharapkan agar dapat menerapkan konsep - konsep pembelajaran yang telah dipelajarinya dalam kehidupan sehari - hari dan terutama digunakan untuk mengerjakan penugasan dari guru. Catatan penting bagi guru dalam memberikan penugasan adalah hendaknya memberikan penugasan yang bersifat kolaboratif. 

Makna dari penugasan kolaboratif adalah penugasan yang memungkinkan siswa (khususnya siswa di SMP) untuk bekerja sama mengerjakan tugas berupa Problem Based Learning dan Project Based Learning dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. 

Dan aktivitas belajar yang terakhir adalah evaluasi (measuring) dengan menggunakan aplikasi kahoot, quizizz, google form, dll. 


Namun, jika di daerah tersebut tidak tersedia jaringan/listrik, maka aktivitas pembelajaran dapat terus dilakukan dengan menggunakan : LKS, papan (board,), board game, puzzle, media 3 dimensi (model, mock up, diorama), dan sumber belajar lainnya. 

Pada bagian berikutnya, Pak Cecep mengajak peserta untuk kembali berinteraksi melalui Slido dengan cara mengakses sli.do dan masuk dengan menggunakan kode yang disediakan. Menurut beliau, slido dapat digunakan untuk pembelajaran dengan sangat mudah. 

Guru dapat membuat beberapa jenis pertanyaan dengan menggunakan Slido. Misalnya open question (jawaban singkat), rating, survei, dll. Contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan pada siswa adalah pertanyaan yang menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). 

Selain untuk mengerjakan tugas, Slido juga dapat digunakan untuk berdiskusi melalui fitur Question & Answer (Q & A). Hal yang sangat menarik bagi saya dari Slido ini adalah pengerjaannya yang real time. Jadi pada saat yang sama, respon dapat dibaca oleh guru dalam fitur polling. 




Selain menti.com dan Slido, Pak Cecep juga memperkenalkan aplikasi baru kepada peserta webinar yaitu Seesaw. Aplikasi ini dapat diakses melalui browser laptop dengan mengakses www.seesaw.me sedangkan bagi pengguna android, dapat juga menginstal aplikasi seesaw class dari playstore. 

Setelah masuk melalui www.seesaw.me, pserta dapat sign up free dan masuk melalui akun gmail. Setelah itu memilih peran : sebagai guru, sebagai siswa, atau sebagai anggota keluarga). Nah, ini adalah hal menarik dari aplikasi seesaw jika dibandingkan dengan aplikasi serupa seperti google classroom, teams, dll. 




Dalam aplikasi seesaw, orang tua dapat langsung mengakses kegiatan belajar anak - anaknya secara real time. Dalam hal ini, guru harus lebih dulu melakukan pengaturan untuk mengizinkan orang tua / anggota keluarga dapat mengakses kelas seesawnya. Selain itu kelebihan dari seesaw adalah kita dapat menggunakan aktivitas belajar yang sudah dirancang oleh guru - guru lain di seluruh dunia yang tergabung dalam community kelas seesaw. 

Untuk memulai kelas, guru dapat melakukan sign up melalui akun gmailnya lalu klik create class dan membuat nama kelas serta tingkat kelasnya (grade). Kemudian menambahkan siswa. Jika guru sudah mempunyai kelas di google classroom, maka bisa langsung menambahkan siswanya. Namun jika belum, maka bisa menambahkan siswa dengan mengundang alamat emailnya. 

Kemudian guru dapat membuat instruksi yang akan dikerjakan oleh siswa. Seperti absensi, soal - soal pertanyaan, dan penugasan seperti membuat video, dll. Setelah kelas disetting, maka selanjutnya guru dapat membagikan kode kelas kepada siswa agar siswa dapat mengakses aktivitas / instruksi di kelasnya. 

Pak Cecep menyampaikan bahwa teknologi sebenarnya dapat membantu kegiatan BdR yang dilakukan oleh siswa, namun walaupun demikian, tatap muka tetap tidak bisa digantikan oleh tatap maya. Karena jika tidak ada tatap muka, maka siswa harus belajar secara personal mandiri (self directed asyinchronous learning) dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Selain itu, siswa juga perlu melakukan tatap maya dengan guru dan siswa yang lain untuk mengkonfirmasi pemerolehan hasil belajar mereka secara mandiri. Dan berikutnya, mereka pun perlu berkolaborasi dalam mengerjakan penugasan yang diberikan. 

Catatan penting yang harus diperhatikan ketika guru menggunakan media adalah jaminan kualitas media itu sendiri (quality guarantee). Pastikan bahwa media yang digunakan melibatkan interaksi antara : peserta didik dengan obyek belajar, 
peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan sumber belajar yang lain, dan interaksi yang terjadi secara intensif. 

Kesimpulan : apapun medianya tidak akan maksimal jika tidak ada aktivitasnya. 

Catatan : Artikel ini merupakan resume webinar kemdikbud hari Selasa, 30 Juni 2020 dan perdana tayang di blog ini. Copas tidak diperkenankan namun silakan share jika artikel ini bermanfaat. Terima kasih. 

Salam blogger, salam persahabatan.